Legislator: Memenangkan PDIP di Pileg dan Memenangkan Jokowi Satu Hembusan Nafas

JAKARTA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Arteria Dahlan mengatakan, efek ekor jas atau suara linier antara calon presiden yang diusung dengan partai pengusung sangat kental antara PDIP dengan Joko Widodo.

Menurutnya, antara suara partai dengan Jokowi adalah satu hembusan nafas. “Memenangkan Jokowi adalah satu hembusan nafas dengan memenangkan PDIP. Pileg dan pilpres ini soliditas keduanya terbangun,” kata Arteria, kepada wartawan, kemarin.

Hal itulah, kata Arteria, yang menjadi pembeda antara PDIP dengan partai-partai lain. Dia menyebut, partai lain seperti Demokrat masih belum ada satu hembusan nafas di tataran kader dengan capres yang diusung.

“Tidak mungkin suara PDI Perjuangannya tinggi, suara Jokowi-nya rendah. Begitu juga sebaliknya,” ujar legislator dari dapil 6 Jawa Timur itu.

Dia menambahkan, rekam jejak PDIP di mana suara kader di bawah linier dengan instruksi ketua umum. Dia memastikan bahwa tidak pernah ada kader yang berkhianat dengan keputusan partai.

“Tidak pernah ada sejarah kader PDIP berkhianat pada partainya sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, soal Partai Demokrat sebagai pendukung Prabowo, namun membebaskan kadernya untuk menentukan pilihan, Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari berpendapat, dengan kebijakan tersebut Demokrat berada pada posisi yang tidak bisa menafikan fenomena kadernya mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Sehingga jika ingin menang di Pileg, sebutnya, para caleg Demokrat harus mengikuti keinginan pemilih yang memilih Jokowi-Ma’ruf.

“Kayak di Papua referensi pemilih hampir full ke Jokowi, ya kalau kemudian caleg-celeg mereka diametral sama preferensi pemilih ya kan nurun nanti. Sementara setiap partai ukuran suksesnya itu pileg bukan pilpres. Karena itu kan masalah eksistensi partai kan kalau Pileg itu, terutama di Senayan dan kemudian berikutnya di parlemen-parlemen,” kata Eva.

Sikap SBY yang meminta kadernya untuk bermain dua dipandang Eva sama dengan sikap PD dalam beberapa realitas politik lainnya. Di antaranya abstain di DPR dan Pilgub DKI putaran kedua lalu.

Khusus sikap SBY di Pemilu 2019 yang meminta kadernya bermain dua kaki, legislator DPR RI dari dapil 6 Jatim ini memandangnya sebagai kebijakan dan pertimbangan Demokrat untuk memenangkan Pileg 2019.

Selain itu, kebijakan SBY yang disebut Eva kerap menggantung di politik, memberi peluang bagi kader Demokrat untuk bebas menentukan pilihan.

“Jadi menurutku inisiatif ini justru datang dari bottom up, kemudian DPP tidak bisa punya pilihan selain menyetujui daripada calegnya gagal,” tuturnya. (goek)