Legislator DPR: Kirim Detasemen Anti Teror ke Papua

JAKARTA – Ketua Kaukus Pancasila Eva Sundari mengatakan, penembakan pekerja proyek jembatan di Papua yang diduga dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) harus dikutuk.

“Karena tujuannya adalah menyebar ketakutan (teror) maka penegak hukum perlu menerjunkan Detasemen Anti Teror 88 Polri ke Papua untuk menindak para pelaku teror tersebut,” kata Eva, kemarin.

Legislator DPR RI dari dapil 6 Jatim ini menyebut, motif pelaku jelas politik. Karena bertujuan sabotase dan menghambat pelaksananaan program pembangunan Trans Papua dengan menyebar ketakutan kepada para pekerja Trans Papua.

Pasal terorisme, jelas Eva, bisa dikenakan berdasar definisi bahwa terorisme di UU No 5 Tahun 2018 yaitu perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa salah satu indikator adalah korban massal dan atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek vital yang strategis dan lain-lain, dengan motif Ideologi, politik atau gangguan keamanan.

“Definisi ini meruntuhkan anggapan umum bahwa terorisme harus terkait dengan organisasi internasional yang sudah ditetapkan oleh PBB,” jelas politisi PDI Perjuangan ini.

Pelibatan TNI untuk mendukung gakkum anti terorisme, lanjut Eva, juga diperlukan dalam skala yang proporsional sebagaimana yang sudah dilakukan di beberapa operasi. Salah satunya Operasi Camar Maleob dan Operasi Tinombala.

“Saya yakin skema gakkum terorisme akan menambah energi para aparat di lapangan untuk segera menangkap para pelaku dan membawa mereka semua ke pengadilan,” katanya.

Dia minta kepada para pendukung Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Papua yang berada di luar negeri, saatnya untuk menghentikan dukungan ke penebar teror ini.

“Terlebih tindakan teror kepada para pekerja Trans Papua ini untuk  pembangunan infrastruktur guna memajukan ekonomi saudara-saudara kami di Papua,” ujar Eva.

Dia mendukung penuh opsi penegakan hukum kepada para pelaku tindakan teror yang brutal ini.

“Tidak perlu membuka dialog dengan para teroris. Hanya gakkum terorisme yang merupakan penyelesaian kejahatan mereka yang merugikan dan menyebar ketakutan bahkan kepada rakyat Papua sendiri,” pungkasnya. (guh)