Konon, tor-Cettor…

pistol jepang kunoOleh Set Wahedi

KONON, begitulah kakekku bercerita, kedatangan tentara Jepang ditandai bunyi pistol meletus. Tor, tor-tor. Orang-orang lari tunggang langgang bersembunyi. Suara pistol itu tidak hanya mendesing tajam. Akan tetapi juga mengancam degup nafas. Karena itu, saban kali tentara Jepang datang, orang-orang mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri.

Kalau “orang besar” (:dewasa) pada lari, lain halnya dengan anak-anak kecil. Kata Kakek, tatkala bapak-ibunya –buyutku- lari bersembungi ke balik pintu, Kakek –waktu itu masih kecil- justru mencari celah intipan. Dari celah itu, kakek mengenali bentuk pistol yang mengeluarkan bunyi tor, tor-tor. Sebuah moncong kecil. Dari moncong itulah, desingan itu menghentak disertai muntahan peluru.

Mulanya kakek dan teman-teman masa kecilnya sedikit ketar-ketir mendengar bunyi tor, tor-tor itu. Tapi setelah empat sampai lima kali mendengarnya, kakek dan teman-temannya mulai terbiasa. Bunyi itu tak lagi mengehentak dan mengirim ketakutan. Kakek mulai menikmati desingan itu sebagai hentak nada di antara nada datar alam. Kelak, ketika tentara Jepang berlalu, bunyi tor, tor-tor itu menyisakan kesan yang mendalam. Kakek dan teman-temannya pun ‘mengimpi’ untuk mendengarkan bunyi-bunyian itu lagi. Mereka pun berkhayal untuk memeragakan lagak tentara Jepang ketika mengacungkan pistol.

Kesan yang mendalam itu ternyata mendorong kakek dan teman-temannya untuk membuat pistol itu. Mereka pun mencari benda berlubang yang mirip laras pistol. Ranting bambu, nah, ranting bambu yang nyaris sempurna kemiripannya dengan laras pistol Jepang. Kakek dan teman-temannya pun membuat pistol dari ranting bambu. Mulanya, kakek dan teman-temannya membuat pistol Jepang dari sembang jenis bambu. Tapi pada perkembangannya, kakek dan teman-temannya mengidentifikasi jenis bambu yang kuat dan enak untuk dijadikan pistol Jepang.

Perreng keles, begitu kakek menyebut bahan yang pas untuk pistol andalannya. Ranting perreng keles yang berdiameter 1-1,5 cm dipotong dengan ukuran panjang 30-40 cm sebanyak dua potong. Sepotong untuk untuk penyodok dan sepotong lainnya untuk laras (lubang tembak atau lubang penyodok). Bahan penyodok diraut hingga sesuai dengan lubang laras, dengan pangkal 10 cm untuk pegangan. Bagian depan penyodok itu dibuat membesar agar dapat menekan atau menghentak peluru (pelor) dengan sempurna. Untuk menambah daya-gema suara desingan, kakek menambahkan daun pandan atau daun kelapa yang dililit berbentuk kerucut di ujung pistol Jepangnya. Sedangkan untuk pelornya, kakek membuatnya dari dhalubang (kertas) yang dibasahi atau biji kembang lempennah.

Semasa kecilnya, kakek dan teman-temannya sering memainkannya ketika sore atau malam hari. Dengan permainan ini, mereka ingin mengenangkan kembali masa ketika tentara Jepang datang; ketika pistol-pistol tentara bermata sipit memaksa orang besar lari tunggang langgang; ketika desingan tor, tor-tor mencekam langit kampungnya.

Saya pernah memainkan permainan tor-cettoran itu sewaktu kelas empat sekolah dasar (SD). Kalau kakek dan teman-temannya hendak mengimpi menjadi tentara Jepang, saya dan teman-teman memainkannya untuk meniru gaya para pahlawa perang di film-film. Meski peluru terlontar + 5 meter, kami tetap membayangkan peluru itu melesat hingga ratusan meter. Saban kali peluru kami muntah, kami pun pura-pura menghindar, atau saat hendak menyodok pun kami seolah-olah mengincar titik lemah musuh.

Tor. Tor-tor. Kami memainkan permainan ini dengan praktis. Kali pertama kami menyiapkan pistol, kemudian kami memasukkan peluru ke lubang laras dan menyodoknya hingga ke ujung lubang laras. Peluru kedua kami susulkan untuk melapisi peluru pertama. Peluru kedua ini berfungsi untuk dua hal. Pertama berfungsi sebagai klep pompa untuk menekan peluru pertama yang akan ditembakkan. Kedua, berfungsi sebagai peluru berikutnya yang siap ditembakkan. Saat ditembakkan inilah, bunyi cettoran menggema.

Memainkan tor-cettor, kami tidak hanya menikmati desingan bunyi cettoran atau membayangkan diri kami sebagai pahlawan perang semata dalam film. Permainan tor-cettor ini juga melatih kami untuk bersikap tangkas. Dalam menghindari serangan musuh dan mengisi peluru pistol, kami dituntut cekatan. Kalau tidak, kami akan menjadi santapan keganasan cettoran pistol musuh. Kecuali itu, kami harus mampu menjaga daya konsentrasi sepanjang permainan, agar kami berhasil melumpuhkan musuh.

Saya seringkan memainkan tor-cettor tatkala di sekolah dasar, sekitar sepuluh tahun lalu. Saya biasa memainkannya di halaman sekolah atau di tanah lapang desa. sesekali saya juga memainkannya di teras rumah. Tor. Tor-tor. Sehabis pulang sekolah atau seusai ngaji di mushalla saya dan teman-teman sering memainkannya. (*)

Catatan: cerita ini diolah dari hasil wawancara Nurul Eliyanti Putri dan Elma Rini Ekawati pada narasumber Maryatul Kiptiyah (41) dan Sumiati (43) magarsari Desa Kesek Sepuran, Kecamatan Labang dan Abdur Rahman (50) dan Sumiati (46) magarsari Kelurahan Bancaran, Kecamatan Bangkalan.

Set Wahedi, esais tinggal di Pinggir Papas, Sumenep.