Kompak, Legislatif dan Eksekutif Nganjuk Desak Pusat Percepat Pembangunan Waduk Semantok

NGANJUK – Kalangan legislatif dan eksekutif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk mendesak pemerintah pusat mempercepat pembangunan Waduk Semantok, di Kecamatan Rejoso.

Sebab, pembangunan yang dimulai sejak dua tahun lalu, dinilai lambat. Desakan telah disampaikan Komisi 3 DPRD Nganjuk bersama Wakil Bupati Marhaen Djumadi ke Kementerian Lingkungan Hidup, kemarin.

Ketua Komisi 3 DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono mengatakan, kedatangan mereka memang diagendakan khusus untuk mendesak pemerintah Pusat agar segera merampungkan pembangunan Bendungan Semantok tepat waktu.

“Kedatangan kami bersama Wakil Bupati Nganjuk ke Dirjen Planologi Kementrian Lingkungan Hidup untuk memastikan pembangunan Bendungan Semantok bisa selesai tepat waktu. Sehingga pada tahun 2021 nanti dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Nganjuk dan sekitarnya,” kata Tatit, yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Nganjuk ini, Jumat (19/7/2019).

Sementara, Wabup Marhaen mengatakan, Sesuai pengamatan Pemkab Nganjuk, proses pembangunan Waduk Semantok sangat lambat.

Karena hingga kini, pembangunan baru mencapai sekitar 8 persen dari total seluruh pembangunan. Padahal, pembangunan ini sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu.

“Kami mengerti selama proses pembangunan ini pasti banyak masalah dan kendala, sehingga proses pembangunanya berjalan lambat. Tetapi harus tetap diupayakan, pembangunan megaproyek ini selesai sesuai rencana,” ujar Marhen.

Menurutnya, sesuai rencana pembangunan bendungan yang disebut-sebut terpanjang di Asia Tenggara ini harus selesai tahun 2021 mendatang. Pada tahun tersebut peresmian akan dilakukan oleh presiden.

“Kalau tahun 2021 harus selesai, maka mulai sekarang pembangunan harus dipercepat. Kami yang di daerah perlu mendesak pemerintah pusat agar mempercepat pembangunanya. Karena proyek ini merupakan proyek pemerintah pusat,” tandas dia.

Pembangunan Bendungan Semantok paket I dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai Rp 909.722.003.000. Sedangkan Semantok paket II dikerjakan oleh PT Hutama Karya dengan nilai Rp 840.202.382.000. Total megaproyek ini menelan biaya sekitar Rp 1,75 triliun yang bersumber dari APBN. 

Bendungan direncanakan memiliki luas sekitar 412 hektare, dan akan memiliki kapasitas tampung sebesar 17, 63 juta meter kubik. Diharapkan mampu mengairi lahan seluas 1.554 hektare serta menghasilkan listrik sebesar 1,01 megawatt.

Bendungan Semantok diproyeksikan bisa mengatasi masalah kekeringan di wilayah Nganjuk utara, dan mereduksi banjir yang melanda wilayah Rejoso saat musim hujan tiap tahunnya, serta dapat meningkatkan taraf ekonomi warga. (endyk)