Kitab Rindu Masa Lalu

imageSalamet Wahedi*

KAMIS 4 Juni 2015, saya dikejutkan satu panggilan telpon dari seorang teman, Opek. Bukan panggilannya yang mengejutkan. Panggilannya –seperti halnya panggilan dari teman lainnya- dibuka dengan basa-basi tanya kabar, kesibukan dan kapan menikah. Tapi ketika penggilan itu berjalan sepuluh menit, saya merasakan sesuatu mulai menggumpal.

“Kamu tidak pulang?” saya menanggapi suara serak Opek dengan satu dua kata saja. Sore itu, saya sebenarnya malas untuk berbicara dengan kalimat-kalimat panjang. “Kamu tidak ke haul Kiai Sepuh?” Nah, pada titik itulah pintu kos saya seperti digedor dengan hentakan keras dari luar. Buru-buru saya melihat kalender. Aduh, imtihan satu minggu lagi, seruku dengan suara lemah. Di seberang, Opek tertawa renyah. “Buh, gara-gara sudah bekerja lupa dengan pondoknya.”

Kemudian Opek melanjutkan percakapan dengan cerita yang sedikit serius. Dia banyak bercerita tentang kesibukannya sebagai seorang pengajar di sebuah madrasah kecil di desanya, kesulitannya menyambut kelahiran anak pertamanya, dan tentunya kerinduannya untuk berkumpul dengan teman-teman.

“Saban berkumpul dengan teman-teman pondok, saya seperti menemukan semangat baru. Saya menemukan keyakinan akan barokah kiai.” Suara Opek benar-benar bercampur debu rindu. Berulang dia menceritakan masa-masa ‘emas’ di pondok. “Meski gaji kecil, alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” keluhnya tentang pekerjaan di desa.

Saya sebenarnya ingin melonjak girang saban kali Opek memasuki topik pondok. Entah dengan alasan apa saya mesti merasa girang. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya hanya menimpali cerita Opek dengan “hemm”, atau “ya”. Dan sesekali saya juga merajuk, “Andai saja urusan kampus sudah selesai, saya ingin segera pulang. Saya ingin bertemu teman-teman.”

Tiba-tiba saya merasakan penat yang menggunung, menindih tengkuk. Kembali Opek menderai. Dia seperti ingin mengolok-olokku yang terjerat dalam labirin jadwal kerja. Lalu, seperti ikut merasakan batu yang menindih tengkuk, Opek mundur ke belakang, ke masa-masa awal kami di pondok.

“Dulu kita pernah berhadapan dengan cerita-cerita menyeramkan,” Opek mengacarai ceritanya akan pengajian kitab “Daqaiqul Akhbar”. Saban Jumat malam sehabis Isya’ kami mengaji kitab karangan Syekh Imam Abdurrahman bin Ahmad Al-Qodli. Dari kitab yang bercerita tentang detik-detik di akhirat nanti itu, kami mendapati cerita-cerita yang belum bisa diterima secara nalar biasa. Malaikat jibril yang memiliki tubuh yang membentang dari ujung timur sampai ke ujung barat; bumi yang berada di atas punggung ikan besar (saya lupa namanya) dan cerita-cerita lainnya yang bergerak di luar kenyataan.

Dari caranya bercerita, Opek tidak begitu tertarik untuk menguraikan keganjilan kitab “Daqaiqul Akhbar” lebih jauh. Saya pun bisa mafhum, kalau tidak punya daya imajinasi tinggi, seseorang -saya kira- akan sulit untuk menerima dan mengikuti cerita-cerita “Daqaiqul Akhbar” lebih seksama.

Lepas dari dari kitab “Daqaiqul Akhbar”, Opek memasuki kenangan nyanyian tashrif. Spontan saya menukas cerita Opek dengan melantunkan fa’ala yaf’ulu fa’lan wamaf’alan fahuwa faa’ilun wadzaka maf’ulun uf’ul lataf’ul maf’alun-maf’alun mif’alun. Di ujung tashrif fa’ala wazan pertama –dari enam bentuk wazan tashrif dasar- itu, saya dan Opek sama-sama tertawa. “Lambha’ Ustadz Daud taker ngapok bhila nashrif.”

“Bagaimana imrithi?” Kali ini Opek seperti meminta saya untuk ganti bercerita. “Banyak lupa sudah, Pek,” sanggah saya dengan nada nyengir. Buru-buru Opek mengingatkan, “Apanya yang lupa? Lha, wong imrithi sekarang bisa dikait-kaitkan dengan politik.”

Seketika saya menepuk dahi saya. “Kitab Imrithi dan capres 2014,” Opek nyerocos, seperti tak ingin memberi saya ruang jeda untuk mengambil nafas, mengingat-ngingat tulisan itu. Ya, menjelang pilpres tahun lalu, saya sempat menulis “Kitab Imrithi dan Capres 2014.” Pada tulisan itu, saya mengutip satu baris dari mukaddimah kitab karangan Syekh Syarafuddin Yahya Al-Imrithi itu, “Wannahwu aula awwalan an-yulama idz-ilkalamu dzunahu lanyufhama (dan nahwu itu lebih utama untuk diketahui kali pertama, karena perkataan tanpa itu (nahwu) tidak akan dipahami).

Kurang lebih, tulisan “Kitab Imrithi dan Capres 2014” yang dimuat di blog: indeksbuku.blogspot.com itu menguraikan begini: pemimpin yang baik dalam perspektif kitab Imrithi adalah sosok yang mampu memberi contoh, mampu menjadi teladan. Dengan kalimat penjelasannya, pemimpin yang ideal untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih, adalah mereka yang mampu talk less do more. Kita sudah terlalu capek untuk untuk mengunyah janji, menaruh kepercayaan, dan berharap banyak pada orang-orang yang mahir berbicara tapi sedikit bekerja.

Di tengah timbunan cerita dengan berbagai topik –tidur di kamar mandi, Royhan dibilang sapi, Kamran yang suka melanggar, Santoso yang suka aketek (menggelengkan kepala), Ustadz Taufiq yang dilakobi Si Titanic karena kopyahnya terlalu besar, sampai detik-detik saya mendapat dua tamparan dan satu tendangan dari kiai di penghujung kelas 3 SMA- kerinduan di kepala saya tiba-tiba menyembul. Mula-mula kecil, lalu seperti kerikil, dan untuk selanjutnya, rindu itu menggunung dan menindih tubuh saya.  Tepat di dada saya. Saya sedikit tercekat.

Kerinduan itu –mungkin semacam penyesalan- akan berbagai peristiwa di pondok pesantren yang hampir enam tahun lamanya hampir selalu saya abaikan. Baru setelah melanglang buana, berbagai peristiwa itu ternyata banyak memberi ruang dan alur akan berbagai cerita yang datang untuk ditulis.

Selama di pondok, saya sering merasa sebal untuk mengulang-ulang tashrifan. Saya beranggapan itu hal yang menjemukan. Karena itu, saban kali menashrif, saya –dan teman-teman sekelas- melagukannya dengan menggunakan langgam qosidah atau dangdut. Jadilah, saban kali menashrif kami seperti latihan bernyanyi dangdut atau qosidah dengan menggunakan lirik bahasa Arab.

Baru setelah lepas dari pondok, tatkala berhadapan dengan ingar-bingar kota, manakala berhadapan dengan setumpuk karya sastra, saya diam-diam merasakan alunan tashrifan itu lebih merdu dari lagu-lagu di televisi. Saya pun mesti jujur, nada dan irama tashrifan itu juga banyak berpengaruh pada diri saya dalam belajar menemukan bentuk dan pola pengucapan dalam menulis sajak-sajak atau prosa.

Kealpaan lain yang membuhulkan rindu, adalah pengajian kitab “Minhajul Abidin” saban hari Minggu. Pada pengajian sehabis dhuhur itu, saya sering memerankan diri sebagai pelengkap daftar hadir. Saya tidak pernah memiliki keseriusan untuk ngarte’e (menerjemah kitab per-kata). Saya selalu membiarkan kata-kata Bapak Kiai berderai tanpa memberi tempat singgah di kepala meski sebentar. Hanya sesekali, saya menaruh perhatian akan penjelasan-penjelasan “tidak lazim” kiai.

Dari sekian tahun di pondok, saya hanya mengingat dua hal dari pengajian minggu siang itu. Pertama, Doa. Doa –mungkin semacam permintaan atau permohonan pada Tuhan- bagi manusia merupakan keniscayaan. Tanpa berdoa, manusia dapat dikategorikan makhluk yang sombong. Tanpa berdoa seolah manusia tidak membutuhkan Dzat Yang Maha Kuasa.

Akan tetapi dalam kehidupan orang-orang yang sudah pasrah pada Allah, berdoa bermakna sebaliknya. Orang-orang yang arif billah menganggap berdoa identik dengan kesombongan untuk merasa lebih tahu tentang alur kehidupan. Kedua, penjelasan kiai tentang keputusan Gus Dur mencabut ‘aturan’ pelarangan terhadap PKI. Menurutnya, keputusan itu dapat dipahami, bahwa untuk bisa membedakan antara komunis, nasionalis, dan agamis kita harus mengetahui definisi dan bentuk dari ketiganya. Kenapa? Bagaimana kita akan tahu tentang komunis, kalau selama ini pemahaman (via literatur) terhadapnya dilarang?

Dua penjelasan yang tersisa dari pengajian kitab minggu siang itu ternyata cukup membekas dalam benak. Penjelasan pertama menjadi pegangan saya untuk berhati-hati dalam beragama. Saya tidak berani untuk berbicara secara pasti tentang nasib dan takdir manusia. Saya pun merasa tidak berhak untuk menghakimi jalan hidup dan perangai seseorang. Saya beranggapan, setiap peristiwa yang terjadi di sekeliling saya memiliki penjelasannya. Baik dan buruk selalu menyisakan ruang tafsir bagi saya untuk merebut hikmah (makna).

Penjelasan kedua, menjadi pegangan saya untuk berpegang dalam belajar. Artinya, hikmah yang terkandung dalam kehidupan kiranya tidak akan saya dapatkan tanpa adanya pengetahuan yang utuh tentang berbagai dimensi kehidupan. Selain itu, pengetahuan menjadi pijakan awal saya dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan dua penjelasan itu pula, saya banyak menemukan ruang-waktu untuk menangkap ilham puitik atau cerita dalam karya-karya saya. Singkatnya, saya menyesal, kenapa dulu tidak serius untuk mengikuti pengajian-pengajian di pondok itu?

“Bagaimana emrete dan politik?” Opek kembali mengulang pertanyaannya. Dia seperti ingin ikut mengenyahkan gundukan penyesalan yang membuat saya kehilangan kalimat-kalimat renyah.

“Ah, itu hanya yang tersisa, Pek,” saya mencoba berkelakar. Tapi nada saya tidak benar-benar plong. “Sudah banyak yang lupa.” Kembali Opek berderai. Tanpa terasa, kami berbagi cerita hampir satu jam. (*)

*Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Sumenep