Kisah Para Politikus Senior di Senayan Sampai Beruban

tjahjo berpeciBAGI sebagian orang, menjadi anggota dewan bisa jadi merupakan sebuah kebanggaan. Tak heran bila banyak yang beranggapan nikmatnya kekuasaan, jabatan, dan berbagai tunjangan, membuat mereka ketagihan. Bahkan ada yang tetap bercokol di Senayan hingga ”beruban”.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIPERJ) Tjahjo Kumolo justru berpendapat sebaliknya. Terjun ke dunia politik, berarti siap-siap mengabdi dan kehilangan sebagian hak pribadinya.

Bahkan, Tjahjo yang menghabiskan hampir separuh usianya sebagai anggota DPR, tak berkesempatan misalnya melihat kelahiran ketiga orang anaknya. Tugasnya sebagai fungsionaris partai (pernah direktur Litbang PDIP+Ketua DPP dan Sekjen)dan 7 tahun Ketua Fraksi DPR dan anggota Dewan, benar-benar menyita waktunya.

Baginya, kepentingan bangsa, negara, dan partai harus diletakkan di atas kepentingan keluarga. Beruntung, keluarganya tidak pernah memprotesnya dan menganggap hal itu adalah konsekuensi memiliki ayah atau suami seorang politikus.

Pertama terpilih sebagai wakil rakyat pada Pemilu 1987 sampai sekarang (5 Periode – 25 Tahun).

Meski cukup lama menjadi anggota Dewan, dia membantah anggapan bahwa kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2014, semata-mata hanya karena mengejar harta/uang dan kekuasaan.

Sebab, menurutnya, gaji dan tunjangan sebagai anggota DPR dan sebagai pejabat Tinggi Negara di atas Rp 50 juta per bulan yang menjadi haknya, lebih banyak yang tidak sempat masuk ke kantongnya. Penghasilannya hampir seluruhnya digunakan untuk membiayai kegiatan politik serta iuran ke kas partai. Padahal, dirinya tidak memiliki pendapatan lain, selain dari gaji dan tunjangan dari negara.

Lalu, bagaimana Tjahjo membiayai kehidupan keluarganya? Kebetulan, istrinya adalah seorang dokter dan anak anaknya ada yang dokter, pilot dan sarjana Hukum sudah beranjak dewasa serta mandiri. Dengan demikian, untuk keperluan rumah tangga, lebih banyak diurus oleh istrinya.

”Kalau kita melihatnya selalu ke atas, tentu kurang. Alhamdulillah selama 25 tahun menjadi anggota Dewan, saya masih selamat dari godaan dan halangan.

Meski mengaku tidak kaya-kaya amat, tapi saya selalu merasa cukup. Yang jelas, saya memiliki banyak teman/saudara dalam perjuangan,” ucapnya sambil tersenyum. Dia bahkan mengaku tidak memiliki tabungan, saham, deposito atau perusahaan lainnya . Padahal, begitu banyak godaan selama dirinya menduduki sejumlah jabatan strategis di DPR dan di Partai.

Sebab, banyak orang yang mendekati dan menawarinya kerjasama proyek, pertambangan serta iming-iming menggiurkan lainnya. Namun, dia menyatakan mampu bisa lolos dari ujian tersebut, jabatan adalah amanah maka sebagai politisi harus tahan godaan. Karier politiknya justru lebih bersinar, Bahkan saat ini, bekas ketua umum Komite Nasional Pemuda Indonesia itu dipercaya. Sebagai Sekjen PDI Perjuangan.

“Paling Enak”

Dia juga merasa, jadi anggota DPR RI adalah profesi paling enak di dunia. Sebab, ada kebebasan dalam menyerap menyampaikan pendapat dan memperjuangkan  aspirasi masyarakat dan melakukan kritik kepada pemerintah. Lalu, adakah rencana untuk berhenti dari dunia politik? ”Saya berpolitik bukan untuk mencari harta dan jabatan . Jadi, saya baru akan berhenti berpolitik bila saya mati,” tandasnya. Hal senada juga diamini oleh politikus senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saefuddin.

Baginya, politikus sejati tidak mengenal kata pensiun. Lukman yang juga Wakil Ketua MPR itu mengawali kariernya sebagai anggota Dewan dari PPP pada periode 1997-1999. Lalu, dia terpilih pada periode 1999-2004, 2004- 2009, dan 2009-2014. (SM) tjahjokumolo.com