Kepahlawanan dan Para Penggerak Ekonomi

Oleh: Sri Untari Bisowarno

PARA pahlawan lahir dan dikenang sesuai dinamika masyarakatnya. Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan tokoh lainnya, adalah para pahlawan yang lahir di tengah gemuruh perjuangan melawan penjajah.

Kita mengenang jasa-jasa kepahlawanannya atas kerelaan dan kegigihannya melawan penjajah. Mereka pun lahir sebagai pahlawan yang gugur di medan pertempuran.

Terus berlanjut ke babak berikutnya, di era kemerdekaan para pahlawan lahir atas narasi mempertahankan kemerdekaan. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dan lainnya kita panggil sebagai pahlawan atas berjibakunya melakukan konsolidasi dan diplomasi mempertahankan kemerdekaan.

Lalu, saat lagu Indonesia Raya sudah bisa kita nyanyikan dengan kedaulatan penuh, apakah cerita pahlawan usai?

Bung Karno berkata, kemerdekaan adalah jembatan emas. Di seberang jembatan itulah, cita-cita dan tujuan kemerdekaan berada. Dan di atas jembatan emas itu, cerita-cerita kepahlawanan akan terus berlanjut.

Para pahlawan bukan lagi sekadar mereka yang memanggul senjata dan gugur di medan laga. Akan tetapi pahlawan juga mereka yang bekerja dan berkarya untuk sesamanya.

Dalam perspektif ini, para penggerak ekonomi memegang peran penting dalam menyusun cerita kepahlawanan. Cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menuntut kepedulian dan semangat juang dalam memajukan ekonomi.

Selain tantangan ekonomi, cerita kepahlawanan di era globalisasi ini dihadapkan pada karakter dan identitas kebangsaan. Abad digital yang membuka ruang-ruang tanpa batas, membuat identitas kebangsaan kita berada di ruang antara.

Karena itu, tak salah pilihan Bung Hatta, pahlawan ekonomi dan Bapak Koperasi, untuk menegaskan koperasi sebagai soko guru ekonomi Indonesia. Sebagai soko guru ekonomi, maka selayaknya koperasi menjadi titik pijak yamg ideal dalam membangun narasi kepahlawanan.

Seperti kita tahu, koperasi dengan semangat gotong royongmya mengimajinasikan gerak kemajuam secara bersama-sama. Koperasi tidak sekadar sirkulasi barang-jasa dalam memenuhi kebutuhan anggotanya. Akan tetapi, koperasi juga melatih setiap anggotanya untuk peka, peduli dan bersolidaritas dalam mencapai kesejahteraan dan kemajuan.

Spirit kekeluaragaan dalam koperasi juga menjadi modal penting untuk menjawab tantangan globalisasi. Kalau selama ini, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan alat digital membuat kita kehilangan  sense kemanusiaan, diliputi kehampaan, disergap kegalauan dan dilanda kegelisahan, koperasi dengan segala instrumennya mengembalikan kita pada forum kebersamaan.

Pada ranah yang lebih praktis, koperasi tidak hanya berbicara kesejahteraan anggotanya dari sisi ekonomi. Akan tetapi, anggota koperasi juga harus maju dan berdaya dalam berbagai sisi: kesehatan, budaya, sosial, dan politik. Anggota koperasi harus memainkan peran di semua lini: keluarga, masyarakat lalu negara.

Lebih jauh, munculnya para perempuan sebagai penggerak koperasi menjadi angin segar bagi lahirnya satu peradaban bangsa. Koperasi-koperasi perempuan tidak hanya mengupayakan meningkatnya penghasilan keluarga. Koperasi perempuan juga mendorong terciptanya satu tatanan keluarga -sebagai satuan kecil bangsa dan negara- yang harmoni, bahagia, nyaman dan sejahtera.

Maka, kalau narasi kepahlawanan diukur atas “apa dan bagaimana” kita berjasa, berguna, dan bermanfaat pada orang-orang di sekitar kita, tanpa ragu saya akan menyematkan medali pahlawan di pundak para perempuan penggerak koperasi.

Kalau para pahlawan terdahulu membentuk narasi perjuangannya dengan mengangkat senjata, maka generasi hari ini harus siap mengisi kemerdekaan itu. Maka, mengisi kemerdekaan itu saya kira membutuhkan satu daya, satu kerja dan satu semangat kreativitas untuk membuat kemerdekaan lebih bermakna.

Pada momentum ini, kehadiran para perempuan koperasi, akan mampu menerjemahkan trisaksti Bung Karno sebagai pijar api kemerdekaan yang hakiki. Mereka juga akan mampu mengisi kemerdekaan dengan perjuangan ekonomi mewujudkan keadilan sosial.

Selamat hari pahlawan. Merdeka!