Kenangan Tjahjo Kumolo dan Kisah PDI Perjuangan Saat Jadi Oposisi

Hasto Kristiyanto memakaikan jaket PDI Perjuangan secara simbolik kepada seniornya Tjahjo Kumolo yang kini dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo

Tjahjo menilai dirinya beruntung, sebab diberikan kesempatan memimpin partai di era ketika PDIP menjadi oposisi atau belum masuk dalam pemerintahan.

JAKARTA — Menjelang perayaan HUT PDI Perjuangan Ke-46 pada Kamis (10/1/2019), Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang pernah menjadi Sekjen mengenang tahun-tahun saat PDIP menjadi partai oposisi.

Tjahjo menilai dirinya beruntung, sebab diberikan kesempatan memimpin partai di era PDIP menjadi oposisi atau belum masuk dalam pemerintahan.

Hal tersebut dinilai pria lulusan Lembaga Ketahanan Nasional 1994 dan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro 1985 ini sebagai momen perjuangan ideologi yang sanggup membuat PDIP seperti sekarang.

“Kekuatan PDIP pada masa 10 tahun itu adalah keteguhan untuk tidak tergiur kekuasaan. Prinsip yang diajarkan oleh Ibu Megawati kepada saya dan teman-teman, kalau mau berkuasa ya, berjuang. Merebut kemenangan secara demokratis,” ungkap Tjahjo.

Kenangan itu disampaikan Tjahjo saat berada di Kantor Pusat PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/1/2018).

Tjahjo menyebut bimbingan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk mengonsolidasikan Tiga Pilar Partai pun menjadi salah satu faktor kekuatan PDIP walaupun ketika itu berposisi sebagai oposisi.

Tiga Pilar Partai yang dimaksud yaitu penguatan di struktur partai pengurus pusat hingga anak ranting, penguatan kader di legislatif seperti MPR dan DPR, dan penguatan kader di eksekutif seperti kepala daerah di beberapa provinsi, kota, ataupun kabupaten yang ketika itu dimenangkan PDIP.

Ketika menjadi Sekjen, terobosan Tjahjo untuk memperkuat Tiga Pilar Partai tersebut yaitu adanya psikotes untuk mengukur kemampuan kader

“Jadi sebelum seseorang didudukkan, akan dicek apakah dia cocok di DPR, eksekutif, atau struktur. Itu pakai psikotes, Ada ranking, dan kita punya bank data kader,” ungkap Tjahjo menggambarkan proses kaderisasi PDIP.

Selain itu, Tjahjo mengungkapkan salah satu cara memperkuat ideologi kader PDIP yaitu dengan tidak melupakan sejarah masa lalu.

Tjahjo kemudian memaparkan bagaimana dirinya dahulu dikader oleh Megawati. Presiden Ke-5 RI tersebut dianggap Tjahjo tidak pernah absen memberikan banyak cerita perihal sejarah PDIP, berikut orang-orang yang membangunnya.

“Ibu Megawati itu orang yang detil. Beliau tahu siapa-siapa saja pendiri partai, yang berjasa, yang membela, dan siapa pengkhianat partai, diceritakan semua,” ungkapnya.

Sebab itulah pria kelahiran Solo, 1 Desember 1957 ini mengimbau agar PDIP tidak mengikuti cara-cara memperkuat partai dengan perbuatan kotor yang disebutnya racun demokrasi.

“Maka dengan ultah PDIP di 10 Januari, mari lawan racun demokrasi, kampanye dan ujaran kebencian, fitnah. Itulah racun demokrasi yang harus kita lawan, harus kita sampaikan ke aparat penegak hukum. Inilah penjahat demokrasi yang harus kita sadarkan,” jelasnya. (kabar24.bisnis)