Keakraban Jokowi dengan Ulama

KH Abd Aziz Manshur-JokowiSETELAH mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputeri untuk maju sebagai Capres, langkah pertama yang dilakukan oleh Jokowi adalah bersilaturahmi ke sejumlah ulama terkemuka di republik ini. Ia bersilaturahmi ke KH. Mustofa Bisri, Rais ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di kediamannya, Rembang, Jawa Tengah.

Langkah tersebut diambil dalam rangka memastikan, Jokowi adalah sosok yang mempunyai perhatian khusus terhadap para ulama, terutama dalam rangka menghargai peran ulama dalam membangun solidaritas keislaman (ukhuwwah islamiyyah), solidaritas kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah) dan solidaritas kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah).

Tidak asing memang, jika para pemimpin di Indonesia sering dikaitkan dengan para ulama, karena figur para ulama di negeri ini sangat diperhitungkan bagi bangsa dan negara. Arahan dan masukan para ulama sangat diperlukan untuk kinerja para pemimpin agar bisa lebih baik.

Mungkin tak banyak orang tahu sisi religiusitas Jokowi dibandingkan dengan sisi kesederhanaannya. Sisi religiusitas tersebut nampak dari respons dan dukungan dari para ulama Nusantara terhadap pencalonannya sebagai presiden RI 2014-2019. Blusukan yang sering dikenal masyarakat yang merupakan ciri khas dari seorang Jokowi pun sampai blusukan ke pesantren-pesantren, sehingga Jokowi menjadikannya sebagai momentum untuk menjalin tali silaturahmi dengan para ulama. Harapannya tidak lain, yaitu agar mendapatkan berkah dari para ulama seperti harapan kebanyakan orang pada umumnya.

Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dari kalangan ulama mendukung Jokowi sebagai calon presiden RI, seperti halnya dukungan yang diberikan oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi. Dari tokoh ulama yang lain muncul nama seperti Alwi Shihab, Quraish Shihab, Syafii Maarif, dan lain-lain. Kedekatan Jokowi dengan para ulama bukan semata-mata karena pengaruh politik, namun jauh dari hal tersebut, Jokowi menilai silaturahmi dengan para ulama akan membangkitkan spiritual yang positif dan menjadikan kepribadian yang sederhana.

Ngaji Kitab Kuning

Pesantren merupakan sistem pendidikan yang khas dan asli dari Indonesia, di dalamnya dimuat berbagai macam pelajaran agama. Di samping itu, kebanyakan pondok pesantren mempelajari kitab kuning atau kitab klasik sebagai sumber pembelajarannya. Mulai dari fiqh, nahwu, tasawuf, akhlak hingga pengajaran bahasa Arab sebagai penopang kemampuan para santri dalam berbahasa asing.

Dalam hal mengaji kitab kuning, Jokowi tak mau ketinggalan untuk mempelajarinya. Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Pancul, Gowang, Jombang, Jokowi mendapatkan kesempatan untuk mengaji kitab Jam’ul Jawami bersama pimpinan Pondok Pesantren KH. Muhammad Abdul Aziz Manshur. Adapun kitab yang digunakan Jokowi ketika mengaji bersama ulama karismatik itu membahas tentang Ushul Fiqh.

Suasana akrab nan harmonis pun menghiasi kebersamaan Jokowi dengan Kiai Aziz Manshur, setiap patah kata yang terucap dari lisannya disimak dengan penuh rasa hikmat oleh Jokowi. Seperti halnya para santri yang memperhatikan gurunya mengajar, Jokowi menerima setiap nasihat Kiai Aziz Manshur dengan penuh rasa taat kepada sang guru. Kiai Aziz Manshur sempat memperhatikan beberapa shalawat yang dilafalkan Jokowi dalam awal sambutannya. Menanggapi hal itu, Kiai Aziz Manshur merasa bahwa Jokowi benar-benar merupakan bagian dari warga Nahdiyin dan sosok Muslim yang taat. “Dari situ saya yakin, bahwa Jokowi adalah warga NU karena lafadz yang dibaca oleh Jokowi merupakan lafadz yang khas dari warga NU ketika melafadzkan shalawat,” ujar Kiai Aziz Manshur dalam forum silaturahmi ulama se-Jawa Timur di Surabaya.

Selanjutnya, Ulama Aziz Manshur juga mengatakan bahwasannya Jokowi amat terlihat penuh hikmat ketika memperhatikan setiap ucapan dan nasihat yang diberikan. Nasihat yang di dapatkan Jokowi dari ulama diharapkan bisa menambah moralitas capres, sehingga nasihat tersebut juga bisa mengarahkan Jokowi menjadi lebih kuat mental dan spiritual keagamaannya.

Blusukan ke Pesantren

Blusukan merupakan karakteristik yang selalu diperankan dan ditunjukkan Jokowi, ia dapat bertemu langsung dengan masyarakat. Menurut Jokowi, blusukan tujuannya adalah mendengar masalah yang ada di masyarakat sekaligus menguasai medan. Hal ini penting sebagai insentif dalam membuat kebijakan.

Setelah kebijakan itu diambil, menurut Jokowi blusukan juga dilakukan sebagai manejemen pengawasan atau controlling. Dengan begitu setiap jalan kebijakan yang telah atau sudah dieksekusi di lapangan terawasi. Di samping itu, dengan blusukan Jokowi bisa tahu kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat. Merasakan kesulitan yang dirasakan masyarakat merupakan intuisi yang begitu penting sebagai pemimpin, karena setiap apa yang dirasakan dan didapatkan oleh masyarakat adalah tanggung jawab pemimpinnya. Maka dari itu, bagi Jokowi, menjadikan blusukan sebagai jalan penghubung seorang pemimpin dan rakyatnya amat dirasa perlu sebagai bukti tanggung jawab bagi seorang pemimpin.

Blusukan yang gemar dilakukan Jokowi pun sampai kepada pesantren-pesantren di tanah Jawa. Di samping sowan kepada para ulama dan santri, blusukan ke pesantren-pesantren ini juga merupakan usaha memperkuat tali silaturahmi dengan sesama Muslim. Di sisi lain, tradisi pesantren di Indonesia sebagai lembaga pendidikan, sudah dianggap masyarakat pada umumnya sebagai poros pengembangan dan pertahanan agama Islam.

Kunjungan Jokowi ke pesantren pernah terjadi ketika di Cirebon, tepatnya Pondok Pesantren Astanajapura-Buntet. Kedatangan Jokowi disambut hangat oleh sesepuh Pesantren Buntet KH. Anas Arsyad, dan diiringi shalawatan yang dibawakan oleh santriwati. Dengan pakaian khas kemeja kotak-kotak berwarna merah, dan mengenakan celana katun berwarna hitam, serta kopiah yang melengakpinya, Jokowi terlihat antusias mendatangi Pondok Pesantren Buntet. Sambutan hangat ini menandakan kedekatan Jokowi dengan para ulama begitu supel, tidak neko-neko dan tidak kaku.

Ketika berkeliling di Jawa Barat, Jokowi menyempatkan diri untuk berkunjung ke Ponpes Bustanul Ulum dan Ponpes Cipasung di Tasikmalaya, Ponpes Miftahul Ulum Bangunsirna di Ciamis, Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo di Banjar dan Ponpes al-Bayan di Cilacap. Di sana Jokowi tidak hanya bersilaturahmi dengan para santri dan ulama, namun Jokowi berdeklarasi atas pencalonannya untuk menjadi Presiden RI. Dalam rangka pendeklarasiannya sebagai calon presiden RI, Jokowi juga meminta doa restu kepada para ulama setempat, agar jalan yang telah ia pilih dalam pencalonannya sebagai capres mendapatkan kelancaran dan keberkahan. Di samping itu, di sana Jokowi juga mengklarifikasi atas berbagai fitnah negatif perihal status keagamaannya.

Dari setiap kunjungannya ke berbagai pesantren-pesantren di tanah Jawa, Jokowi selanjutnya ingin memberdayakan pesantren agar lebih eksis keberadaannya di Nusantara. Maka dari itu, kedekatannya dengan beberapa ulama merupakan batang kokoh yang ia pertahankan sebab kecintaannya kepada umat Muslim. Karena setiap pesantren yang tersebar di berbagai pelosok negeri pastinya sedikit banyaknya akan mencetak kader-kader yang bermanfaat untuk bangsa, dan juga sebagai pusat pengelolaan pengetahuan agama yang selalu dipertahankan. Itulah pandangan Jokowi akan eksistensi pesantren di Nusantara yang harus terus dibudayakan dan dikembangkan.

Dukungan Ulama NU

Sosok karismatik Jokowi yang penuh dengan kesederhanaan menjadikannya seorang yang dinanti-nanti sebagai pemimpin. Para ulama tak urung memberikan dukungan kepadanya, karena mereka percaya Jokowi adalah sosok pemimpin yang jujur, amanah, dan pancaran kesederhanaannya menjadikan sosok seorang Jokowi sebagai pemimpin pembaharu untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

“Pak Jokowi adalah sosok pemimpin yang kita harapkan karena dalam waktu singkat sudah menunjukkan kepada publik bagaimana melayani masyarakat. Itulah pemimpin,” ujar KH. Didih Hudaya saat menerima kedatangan Jokowi di Ponpes Bustanul Ulum, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dukungan juga kian berdatangan dari ulama-ulama NU kepada Jokowi. Karena secara kultural Jokowi selalu menjalankan tradisi amaliah NU. Mulai dari mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi, hingga para ulama NU yang tersebar di tanah Jawa sangat mendukung atas pencalonan Jokowi. Mereka beralasan, Jokowi merupakan sosok pemimpin yang taat agama dan selalu menjalankan tradisi amaliyah NU. Tidak heran memang, jika kebanyakan ulama NU berbondong-bondong memberikan dukungannya kepada Jokowi. (al-mihrab)