Kau Ingin Bercinta Ya? Tanya Zappa

pdip-jatim-libraryOleh Setapu*

SUATU hari di bulan Oktober, seorang teman mengajak saya untuk berkunjung ke satu kampus yang lagi ramai dibicarakan. “Kampus itu,” teman saya mengutak-atik keinginan saya, “begitu indah. Kampus memiliki taman yang tidak kalah dengan kampus-kampus maju di negeri ini. Uniknya lagi, kampus itu mempersiapkan diri untuk menjadi etalase kebudayaan Madura.”

Tanpa panjang lebar –mengingat tidak ada kesibukan yang urgen untuk diselesaikan- saya pun mengiyakan. Jadilah kami berangkat ke kampus dengan agenda semi-resmi: menghadiri bedah buku seorang teman cerpenis.

Di tengah persiapan kunjungan ke kampus ‘etalase Madura’ itu, saya mengusulkan pada teman saya untuk barang satu atau dua hari menikmati kampus itu. “Kita bisa ngopi-ngopi atau menikmati indahnya taman kampusnya di malam hari.” Teman saya ternyata tidak keberatan dengan usulnya. Katanya, “Kalau hanya sekilas itu bukan menikmati keindahan. Tapi kita menghibur diri-sendiri.”

Singkat cerita, Sabtu pagi kami berangkat ke kampus ‘etalase Madura’. Persiapan kami seadanya: sepeda motor, kaos tiga biji, dua celana, peralatan mandi dan uang saku selama dua hari. Sampai di gerbang kampus, kami disambut gedung pertemuan yang megah. Gedung yang mengingatkan saya pada cerita-cerita besar di masa lalu. Dari gedung-gedung megah seperti ini biasanya lahir orang-orang besar, gumam saya dalam hati ketika melintasi gedung pertemuan itu.

Acara bedah buku berlangsung meriah, meski sedikit garing. Para mahasiswa –entah dari jurusan apa- kurang memberikan umpan-balik yang berharga. Bedah buku hanya menjadi ajang puja-puji antara pembedah dan si cerpenis. Peserta yang membludak tidak begitu signifikan untuk ikut membedah buku itu. Acara bedah buku yang diharapkan mampu menjadi ajang ‘cerapan’ masyarakat terhadap buku sastra hanya berlangsung tanpa irama yang jelas. Peserta hanya bergumul dan bergerombol. Selebihnya mereka tertawa.

Malam harinya, dengan dipandu seorang mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia, kami menikmati indahnya taman kampus. Wow, saya ingin memekik melihat tataan kampus yang begitu indah. Sebelah timur kampus menjulang gedung lima tingkat dengan arsitektur modern-lokal. Gugus di atas gedung -kata mahasiswa pemandu kami- merupakan gugus spirit rumah orang Madura. Sedangkan di sebelah barat, gedung rektoratnya menjulang megah. “Dan taman ini merupakan manifestasi tanean lanjhang.”

“Kalau perpustakaannya di mana?” Pertanyaan itu munclat begitu saja. Saya teringat dengan perpustakaan ‘wah’ kampus sewaktu kuliah di Jogja. Saya pun teringat dengan kata-kata penulis Amerika Serikat, Zig Ziglar (1926-2012), “Rich People have small TVs and big libraries, and poor people have small libraries and big TVs.” Malam itu, Ziglar seolah ingin menasihati saya untuk tidak langsung terpukau dengan ‘kekayaan’yang tampak di depan mata saya.

“Tapi perpusnya kurang memadai kalau Mas cari referensi tentang Madura.” Mahasiswa pemandu saya sedikit terbata. “Koleksi buku-bukunya tidak banyak. Buku-bukunya banyak yang berusia lanjut. Kami saja harus mengandalkan Mbah Google.” Kami tertawa.

Saya tidak mau percaya begitu saja dengan penjelasan mahasiswa. Apa yang dia lihat belum tentu selaras dengan yang dirasakannya. Saya masih belum percaya pada mahasiswa pemandu kami dengan asumsi begini. Para pengambil kebijakan di kampus adalah orang-orang terdidik. Pendidikan mereka minimal pascasarjana. Mereka pun pasti tahu betul arti penting perpustakaan bagi mahasiswa. Kata Gus Dur (1940-2009), “Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan.” Dan mereka saya yakini pernah merasakan dahaga ilmu pengetahuan.

Jadilah kami akan “balik” Senin sore. Senin pagi kami berkesempatan untuk mengunjungi perpustakaan. Masih dipandu mahasiswa yang sama, saya masuk perpustakaan dengan ‘dredeg’. Perpustakaan kampus ‘etalase Madura’ itu terletak di bagian gedung dengan lima tingkat. Saya pun ingin membuktikan kata-kata mahasiswa pemandu saya tentang perpustakaan kampusnya. Pada petugas perpustakaan saya iseng bertanya tentang buku “Lebur” karya Helene Bovier. Penjaga perpustakaan itu melongo, lalu buru-buru meminta maaf. Buku tentang musik dan seni pertunjukan Madura itu katanya belum ada. Saya melongo. Di kepala saya, kata-kata Franks Zappa (Musisi Rock Amerika Serikat), ”if you want to egt laid, go to college. If you want an education, go to the library”, berkelebat. (*)

*Setapu, esais dan penikmat seni, tinggal di Bangkalan.