Kampung Brem Terkendala Bahan Baku Beras Ketan

Biaya produksi kue brem menjadi tinggi karena bahan baku dibeli dari luar kota. Belum lagi persoalan pemasaran. Dibutuhkan koperasi sebagai penjamin ketersediaan pasar sehingga petani berminat menanam padi ketan sekaligus pemasarannya.

BEBERAPA kendala itu diketahui Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Kusnadi SH MHum saat blusukan ke sentra produksi brem, makanan khas Madiun, di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Senin (28/8/2017) siang.

“Kendalanya ada di bahan baku. Kami harus ambil beras ketan dari luar kota. Dari Ngawi atau Bojonegoro,” ungkap Bu Supiati kepada Kusnadi. “Petani di sini maunya hanya menanam padi,” tambah Supiati buru-buru.

Soal petani setempat yang belakangan waktu beralih ke padi, kata Supiati, dikarenakan ongkos produksi padi ketan relatif lebih mahal ketimbang padi.

“Kalau padi, selesai panen langsung ada yang beli. Beda dengan beras ketan. Harus dikeringkan dulu selama dua hari, lalu mencari pembeli,” katanya.

Untuk persoalan ini, Supiati tak kehilangan akal. Ia pun membuat semacam rumah pengeringan padi ketan. Rumah pengeringan berbahan plastik atom itu berfungsi sebagai gudang penyimpanan di saat musim hujan.

Untuk proses produksi Supiati masih bisa menyiasati. Untuk pengemasan, dirinya mulai berekreasi dengan membentuk brem dengan ragam pola. Mulai dari motif bunga berbagai macam jumlah kelopak hingga bentuk kotak-kotak kecil.

Termasuk rasa sekaligus kemasan atau bungkusnya. “Kalau dulu bentuknya cuma lempengan kotak saja.”

Sementara itu, Sekdes Kaliabu Erna mengatakan, keluhan dari Supiati terhadap bahan baku menjadi fenomena umum produsen brem di desanya yang terdata sekitar 60-an pengusaha.

Karena itu pihaknya berencana membuat koperasi untuk memastikan tersedianya bahan baku brem. “Kami sudah wacanakan itu. Akan kami wadahi melalui Bumdes (badan usaha milik desa).”

Selain Bumdes, pihaknya mulai  memikirkan cara memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. “Beberapa waku lalu kami coba-coba jualan melalui media sosial. He he he..  Alhamdulillah ada yang beli juga. Dari Kalimantan dan Sulawesi.”

Terhadap persoalan-persoalan tersebut, Kusnadi menyampaikan akan meneruskannya ke pihak DPC PDI Perjuangan Kabupaten Madiun.

“Dari DPC nanti biar menugaskan anggotanya yang menjadi dewan untuk mencarikan solusi atas persoalan-persoalan tersebut,” katanya. (hs)