Juhri, Bidik Misi dan Gerobak Cinta

juhri

Juhri dan gerobaknya di area taman kampus

Oleh Set Wahedi

AUFA, kali ini saya akan berkisah tentang Juhri, seorang mahasiswa yang berjuang berkuliah dengan berjualan ote-ote dan tempe goreng. Kutulis kisah ini di tengah deg-degan menunggu ledakan gumpalan amarahmu.

Juhri, malam di pekan awal April itu saya menemuinya sebagai pedagang ote-ote dan tempe goreng. “Seribu-tiga. Seribu tiga.” Saya menemuinya di tepi utara taman kampus. Malam itu saya tak mendapat kesan lebih daripada sekadar Juhri hanya seorang pedagang ote-ote dan tempe goreng. Saya membeli ote-ote dan tempe gorengnya sebanyak lima ribu. Di luar hubungan penjual dan pedagang, Juhri merupakan mahasiswa yang belajar mandiri. Belajar mandiri, itu nilai lebih yang tersisa dalam diri saya malam itu.

Seminggu kemudian dari malam di tepi utara taman kampus itu, seorang teman –Fandi- menyebutkan namanya dengan nada menggantung, “kamu tahu Juhri?”. Saya membiarkan nada teman saya tetap menggantung. Lalu teman saya bercerita hal-ihwal Juhri –yang seminggu lalu saya kenal sebagai penjual ote-ote dan tempe goreng. Secara ringkas, teman saya meminta saya untuk berkenalan dan berbagi cerita dengan Juhri. “Ok, semoga saya ada waktu,” janji saya dengan nada angin lalu.

Bang ada di mana? Maaf ini siapa? Saya di karangrejo sawah gang 1 no 24. Ada apa? Saya Juhri. Kemarin sama Bang Fandi saya disuruh menemui sampeyan. Kalau saya sudah di bangkalan nanti saya kabari. Ok? Iya. Maaf tadi awal sms saya tidak sopan karena tanpa salam. Percakapan via sms itu terjadi pada tanggal 18 April. Percakapan kali pertama saya memastikan namanya Juhri. Seperti halnya pada Fandi, saya sedikit ragu memiliki kesempatan untuk bisa bertemu Juhri. Saya ragu, karena April sudah dihadang dengan agenda ujian tengah semester dan beberapa tugas yang minta diselesaikan segera.

Benar, berhari-hari saya tidak mampu memenuhi, kalau saya sudah di bangkalan nanti saya kabari. Ok?. Kesibukan dan rasa malas benar-benar membetot tubuhku. Aku seperti kehilangan gairah untuk mengingat segala kata yang menjadi janji.

Janji tetaplah hutang. Di Sabtu (9/05/2015) siang yang suntuk, saya mencoba menghubunginya. Dalam handphone, suaranya terdengar gagu, seperti sengau orang bangun tidur. Percakapan via handphone itu berlangsung singkat. Sepuluh menit kemudian, kami bertemu. Sabtu yang menyisakan janji singkat: Senin (11/05/2015) kami akan bertemu lagi untuk berbagi cerita.

***

Juhri  memulai ceritanya dengan ingatan pada masa SMK-nya. Dia lulus pada tahun 2012. Sejak di bangku SMK N 1 Pamekasan, dia bermimpi kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Menurutnya, mahasiswa PTN lebih dimungkinkan untuk memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih luas dibanding mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS). PTN di kepala Juhri merupakan ruang transformasi keilmuan yang mumpuni. Karena itu, ”Sejak kelas tiga (SMK) itu saya sudah mempunyai target minimal saya harus (kuliah) di PTN.”

Setelah lulus SMK Juhri tidak bisa langsung berkuliah, Aufa. Biaya masuk kampus yang tinggi memaksanya menunda keinginannya untuk duduk di bangku PTN. Pada titik ini, Juhri mencari pijakan untuk menunjukkan semangatnya yang tinggi. Permintaan orang tuanya untuk berkuliah di tahun berikutnya sambil berharap ketiban rezeki mendorongnya untuk bekerja. Sepak terjang Juhri di dunia kerja cukup berliku. Mulanya dia bekerja sebagai salesman, kemudian dia melanglang buana ke Kalimantan. Menjelang detik-detik ujian SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), Juhri masih menghabiskan hari-harinya di Bali sebagai tukang rongsokan dan pramusaji nasi goreng.

Juhri, lelaki yang lahir pada tahun 1921 berdasarkan ijazah, tidak hanya berhadapan dengan tingginya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dalam mewujudkan cita-citanya berkuliah di PTN. Orang-orang di sekitar Juhri tidak punya kata ‘ayo’ yang tebal untuk mendukung mimpi dan semangatnya. Pada mulanya, mereka hanya punya kalimat dengan retorika praktis, “Kalau pada akhirnya tujuan kuliah hanya untuk mencari uang juga, kenapa harus susah payah berkuliah?” Itu kalimat mereka. Tapi tekad Juhri sudah bulat. Masa hidupnya tidak ingin hanya diisi cerita pencarian uang. Dia ingin punya cerita hidup yang berliku: berusaha, berpengalaman dan berilmu-pengetahuan. Juhri tak ambil peduli dengan sikap “acuh-tak-acuh” orang-orang di sekitarnya.

Kecuali sikap orang-orang di sekitar yang tak bersahabat, badai olok-olok juga menghantam mental Juhri. Semasa menghadapi ujian SBMPTN di tahun 2013, Juhri bekerja sebagai tukang rongsokan dan pramusaji di Bali. Akibatnya, saban kali pulang kampung, Juhri diolok-olok sebagai mahasiswa rongsokan, “Katanya kuliah, kok kerja rongsokan. Jangan-jangan kuliah rongsokan?” Mulanya, kalimat yang diucapkan dengan nada mengejek dan diakhiri dengan intonasi tawa berolok-olok, bak belati yang menghunjam jantung Juhri. Mulanya Juhri sempat terkapar. Tapi itu hanya sementara. Demi mimpinya, Juhri mengubah segala gelombang badai itu menjadi pelecut semangatnya. Juhri semakin bertekad untuk mewujudkan mimpinya berkuliah di PTN.

Lolos SBMPTN di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tidak serta merta melegakan dada Juhri. Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang diterapkan di PTN menjadi kendala berikutnya untuk dituntaskan Juhri. Beban biaya sebesar 2,5 juta, pertama membuat Juhri kaget. Dia belum mengerti tentang arah kebijakan UKT ini. Sistem UKT yang didengarnya akan lebih menekan biaya pendidikan ternyata memberinya beban yang benar-benar membetot pikirannya. Beban biaya sebesar 2,5 juta memaksa Juhri untuk memutar otak dengan pilihan-pilihan hidup yang serba terbatas. Berbagai cara dirancang dan ditempuh Juhri. Mula-mula Juhri mengadu pada keluarganya. Dia bercerita pada Ibu-Bapak kalau dirinya diterima di PTN. Menerima kabar itu, kedua orang tuanya gembira bercampur murung. Dengan kondisi yang terbatas, mereka khawatir perjalanan kuliah anaknya akan terputus di tengah jalan. Juhri pun meyakinkan kedua orang tuanya, kalau dirinya akan berkualiah sambil bekerja. Hanya di tahun pertama saja, Juhri membutuhkan bantuan ularan tangan mereka untuk membayar biaya UKT. Pada semester pertama ini, Juhri mendapatkan bantuan (pinjaman) uang dari pamannya.

Juhri gembira dapat duduk di bangku kuliah PTN. Juhri merasa dirinya telah mampu membuktikan pada teman-temannya kalau dirinya bisa masuk PTN yang dicita-citakan sejak sekolah menengah. Tapi kegembiraan itu hanya bertahan satu semester. Semester satu hampir selesai, kebingungan kembali menyergap Juhri. Beban UKT benar-benar merongrong ruang belajarnya.

Untuk pembayaran UKT pada semester dua, Juhri sempat berencana untuk menjual tanah warisan dari kakeknya. Tanah dengan ukuran 20 x 15 meter ini akan dijual ke pamannya untuk dapat membayar UKT, atau kalau pamannya tidak mau membeli tanahnya, Juhri berencana akan meminjam uang dengan tanah tersebut sebagai jaminan. Akan tetapi pamannya ini kurang berkenan untuk membeli tanahnya. Juhri pun memohon pada pamannya untuk memberinya pinjaman kali ini. “Kali ini saja saya mohon untuk dibiayai. Setelah itu saya akan cuti. Karena saya boleh mengambil cuti setelah menempuh kuliah satu semester,” begitu Juhri mengutarakan permohonannya pada pamannya. Selain pada pamannya, Juhri juga mencari pinjaman pada tetangganya untuk membayar UKT semester. Alhamdulillah, menjelang detik-detik batas pembayaran UKT semester dua, Juhri mendapatkan pinjaman dari tetangganya.

Memasuki semester dua, Juhri sedikit mendapat angin segar. Bapaknya memutuskan untuk mengadu nasib di Kota Kalimantan sebagai kuli bangunan. Dari keringat Bapaknya ini, Juhri pun dapat melunasi UKT semester tiganya. Menjelang semester empat, Juhri dibayang-bayangi form permohonan cuti. Untunglah, di tengah kegundahannya itu, Juhri mendapatkan telpon dari pamannya yang di Kalimantan. Kali ini, pamannya menyarankan Juhri untuk kuliah sambil bekerja. Pilihan untuk berkuliah sambil kerja ternyata tidak memungkinkan. Juhri pun menelpon balik pamannya, mengutarakan keputusannya untuk cuti dan akan berangkat ke Kalimantan untuk kembali bekerja.

Akan tetapi pamannya melarangnya dan menyarankan untuk melanjutkan kuliahnya. Pamannya bersedia untuk menanggung biaya kuliahnya sampai selesai dengan status pinjaman, artinya seluruh bantuan dari pamannya kelak akan diganti oleh Juhri. Berbagai kebaikan yang diterima Juhri dari keluarganya ternyata membuat Juhri lebih dewasa darii usia sebenarnya. Dia merasa dirinya sudah membebani mereka terlalu berat. Karena itu, “Saya memutuskan untuk berjualan. Rencana berjualan ini sebenarnya sudah terlintas sejak sebelum masuk UTM.”

Alhamdulillah, dari usaha berjualan ini Juhri terus bertahan untuk menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa UTM. Pada mulanya, ketika dia mengajukan keinginan untuk berjualan, Bapaknya sempat menunjukkan keberatannya. ”Saya pun mohon pada Bapak untuk mengijinkan saya berjualan, dan mendoakan saya supaya lancar.”

Aufa, pada adegan Juhri berjualan ini, saya merasakan satu denyut nadi romantisme hidup. Ya, dalam berjualan ini Juhri ternyata dibantu oleh sang pacar. Keduanya seperti sudah saling memahami untuk bersama-sama berjuang demi kebahagiaan hidup. Saban hari keduanya berbelanja bahan ote-ote, mengolahnya kemudian menjajakannya. Kau tahu Aufa, sebelum mereka melangkah jauh untuk saling bahu-membahu dalam berjualan, Juhri sempat menanyakan pada pacarnya, “Kira-kira kamu malu nggak, punya pacar saya, kalau misalnya nanti saya jualan?” dan inilah yang saya katakan momen romantis, ternyata pacarnya menjawab bahwa dirinya sama sekali tidak malu untuk memiliki kekasih penjual ote-ote dan tempe goreng. Bahkan sang pacar ini merasa bangga punya kekasih yang mau berjuang dari titik nol demi kebahagiaan hidupnya.

Oh ya, Aufa, Juhri ini sebenarnya pernah mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa bidik misi. Itu terjadi pada akhir semester satu. Mulanya dia men-sms ketua prodinya untuk meminta keringanan pembayaran UKT, yaitu dengan cara mencicilnya. Dia pun diminta untuk menghadap kaprodinya dan menceritakan hal-ihwal dirinya dan keluarganya. Di ujung ceritanya, Juhri diminta untuk membuat surat keterangan tidak mampu untuk diajukan ke ketua prodinya. Dia membuat surat keterangan tidak mampu ini sampai dua kali. Selain surat keterangan tidak mampu, Juhri juga diminta untuk menyertakan foto rumahnya. Dia mendapatkan penjelasan bahwa surat-surat itu merupakan syarat-syarat mendapat beasiswa bidik misi pengganti atau susulan. Mendapatkan penjelasan itu, Juhri sedikit lega. Dalam kepalanya, beban UKT yang sebesar 2,5 juta lamat-lamat seperti mau sirna. Tapi Aufa, sampai hari ini Juhri hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu. Dia belum mendapatkan konfirmasi, apakah surat pengajuan beasiswa bidik misinya diterima atau ditolak. Tapi semangat untuk mendapat beasiswa bidik misi tidak hanya sampai di situ. Pada semester tiga, sebuah pengumumam beasiswa bidik misi membangkitkan semangatnya untuk mengajukan lagi. Dibantu seorang teman, dia menanyakan tentang nasib berkas beasiswa yang pernah diajukannya. Dari pihak prodi, dia mendapatkan penjelasan bahwa berkasnya masih ada. Dia diminta untuk menunggu sampai pengumuman itu tiba. Tapi sekali lagi Aufa, sampai hari ini, dia hanya harus benar-benar bertanya tentang nasibnya mendapatkan beasiswa itu.

(Aufa, dua istilah yang belum kupahami benar dalam pertemuan Senin siang itu, beasiswa bidik misi dan UKT. Kalau akau paham pada dua istilah itu beserta seluk-beluknya, ceritakan padaku!?)

Di ujung pertemuan itu, tensi emosi Juhri sedikit naik. Dia seperti tidak percaya dengan kebijakan pemerintah dalam hal dunia pendidikan. “Mungkin karena rumah saya terlalu jelek, sehingga saya tidak pantas untuk mendapatkan beasiswa itu.” di ujung pertemuan itu pula, dia menitipkan beberapa pesan. Pertama pesan untuk para pihak yang mengurusi beasiswa bidik misi. Dia berharap, agar orang-orang diberi kepercayaan itu untuk lebih objektif dalam menentukan orang-orang yang berhak mendapatkan beasiswa bidik misi. Kedua, pesan untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan. Dia meminta pada Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu untuk kembali mengoreksi dan mengawasi pelaksanaan program beasiswa bidik misi tersebut, apakah sudah tepat sasaran? Ketiga, ucapan terimakasih kepada Bapak-IBu dan keluarga yang lain atas segala bantuan dan dukungannya.

Aufa, Juhri kini tercatat sebagai mahasiswa semester IV jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ilmu-ilmu Keagamaan, UTM. Jika ada waktu dan kesempatan, aku ingin mengajakmu mengenalnya. Kalau perlu, kita berkenalan dengan pacarnya yang hebat dan romantic itu. Aufa…