Jokowi: Tim Transisi Akan Ikut Bahas RAPBN 2015

pdip jatim - jokowi di balaikota dkiJAKARTA – Tim transisi yang dibentuk Joko Widodo-Jusuf Kalla akan ikut menggodok sejumlah kebijakan strategis, antara lain RAPBN 2015. Sebab, APBN 2015 yang disiapkan pemerintahan SBY pelaksananya nanti adalah Jokowi-JK.

Menurut Jokowi, tim transisi ikut dalam pembahasan RAPBN 2015 agar program-programnya selama pilpres yang akan dia kerjakan bersama JK ada yang masuk. Presiden SBY, kata Jokowi, juga ingin melibatkan tim Jokowi-JK dalam pembahasan itu.

“Masak saya setahun mengerjakan yang bukan perencanaan saya. Itu yang saya sampaikan ke beliau (SBY) dan beliau sangat menyambut baik,” kata Jokowi, Sabtu (10/8/2014).

Jokowi memang sudah melakukan komunikasi informal dengan Presiden SBY terkait pembentukan Tim Transisi ini. Jokowi pun diberi ruang berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Mungkin nanti yang akan sering kita temui adalah UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan), Bappenas, dan yang berkaitan dengan APBN,” jelasnya.

Sementara, tim transisi akan mulai berkomunikasi dengan SBY setelah ada keputusan Mahkamah Konstitusi soal perselisihan hasil pemilihan umum presiden. MK akan menyampaikan putusannya pada 21 Agustus mendatang.

“Interaksi antara tim transisi dengan pemrintahan akan dilakukan setelah 21 dan akan dimulai melalui komunikasi melalui komunikasi SBY-Jokowi,” kata Deputi Tim Transisi, Andi Widjajanto.

Menurut dia, komunikasi tim transisi dengan pemerintahan yang sekarang menunggu putusan MK karena menjaga etika politik. Andi mengatakan, Jokowi nanti akan memulai komunikasi dengan meminta SBY untuk memberikan ruang kepada tim transisi sehingga bisa berkonsultasi dengan pemerintah saat ini.

Hingga 21 Agustus nanti, tim transisi masih bekerja secara internal. Tim, katanya, membuat interaksi strategis untuk mendapatkan masukan mengenai hal apa saja yang harus dilakukan Jokowi-Kalla jika sudah resmi menjabat selama lima tahun ke depan nanti.

“Sampai tanggal 21 ini masih kerja internal, yang kami sebut dengan desktop analysist, bekerja dengan dokumen-dokumen yang ada, bekerja, berbicara dengan narasumber dengan lembaga studi untuk mendapatkan masukan terhadap pokja-pokja tersebut,” jelasnya. (pri/*)