Jokowi Tidak Berubah…

pdip jatim - jokowi - petinggi tniJAKARTA — Spontan, tidak suka dengan hal-hal formal, dan sulit ditebak. Tiga karakter inilah yang melekat pada diri Joko Widodo alias Jokowi. Karakter ini tetap melekat meski ia telah menyandang status sebagai Presiden RI. Hal ini tergambar dengan jelas di Istana Kepresidenan sepanjang Rabu (22/10/2014) kemarin.

Ada-ada saja “ulah” sang Presiden yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa hingga mengelus dada.

“Mandi keringat”

Rabu pagi, Jokowi menemani Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan jajaran pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berkeliling Istana. Tempat yang pertama dituju adalah Istana Merdeka. Setelah puas berkeliling Istana Merdeka, staf protokoler Istana, Biro Pers, hingga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pun bersiap di Wisma Negara.

Wisma Negara menjadi tempat kedua yang disiapkan untuk diperlihatkan kepada Ahok dan rombongan. Namun, bukan berbelok ke kiri dari taman tengah Istana, Jokowi justru menggiring Ahok lurus ke arah Istana Negara. Paspampres yang sudah mensterilkan jalan bagi Jokowi menuju Wisma Negara pun geleng-geleng kepala melihat aksi mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Paspampres dan staf Istana terpaksa berlari dan mensterilkan jalur baru yang ditempuh Jokowi. Para anggota Paspampres dan staf Istana yang mengenakan batik terlihat berlari dan “bermandi keringat”.

Di Istana Negara, lantaran tidak disiapkan, Jokowi dan rombongan disambut suasana gelap gulita. Staf Rumah Tangga Kepresidenan pun kelabakan. Mereka panik dan segera menuju ruang kontrol untuk menyalakan lampu seisi Istana.

Angkat mikrofon sendiri

Rabu siang, Jokowi menggelar konferensi pers bersama Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman, Kepala Badan Intelijen Negara Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letjen TNI Gatot Nurmantyo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia di halaman belakang Istana Negara.

“Mau ngomong apa dulu, apa foto dulu?” tanya Jokowi kepada wartawan sebelum memberikan pernyataan.

“Foto dulu, Pak,” jawab wartawan.

“Oh, kalau foto dulu, berarti miknya digeser dulu,” ujar Jokowi.

Presiden ketujuh itu langsung meraih tiang mikrofon di depannya, lalu menggesernya sekitar 1 meter ke kanan, tanpa bantuan petugas protokoler Istana. Bahkan, Penglima TNI hingga Kapolri yang berbaris di belakang Jokowi diam saja melihat sang Presiden memindahkan mikrofonnya seorang diri.

Setelah sekitar setengah menit mempersilakan wartawan memotretnya, Jokowi kembali meletakkan mikrofon di depannya. Kali ini, dua petugas protokoler maju. Namun, gerak keduanya kalah cepat. Jokowi sudah terlebih dahulu memosisikan mikrofon di depannya.

Tanya jawab

Seusai Jokowi memberikan pernyataan terkait pertemuannya dengan lima pimpinan institusi keamanan dan pertahanan negara itu, dia pun mempersilakan wartawan bertanya. Tidak disangka, pola tanya jawab antara wartawan dengan Presiden tersebut menjadi tidak teratur.

Ada pertanyaan yang di luar konteks konferensi pers. Ada yang bertanya tanpa menggunakan mikrofon dan cenderung memotong pembicaraan dan sebagainya. Namun, Jokowi menjawab semua pertanyaan dengan santai. Konferensi pers berjalan dengan lancar.

Situasi demikian sangat berbeda ketika Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa. SBY sangat teratur sehingga untuk bertanya saja, protokoler mesti menghimpun pertanyaan terlebih dahulu kemudian diurut berdasarkan kemauan protokoler.

Pengumuman kabinet batal

Ketidakjelasan agenda Jokowi sudah terjadi sejak dia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Rupanya, meski telah menjabat orang nomor satu di negeri ini, hal itu tidak berubah, bahkan untuk urusan sekelas pengumuman kabinet kementeriannya sendiri.

Rabu sore, Biro Pers Istana Kepresidenan menyediakan sejumlah bus untuk wartawan. Wartawan dibawa ke Terminal III Pelabuhan Petikemas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di sanalah Jokowi-Jusuf Kalla disebut-sebut akan mengumumkan nama menteri yang masuk ke dalam kabinetnya.

Kompas.com menerima pesan singkat dari orang dekat Jokowi bahwa acara itu belum bisa dipastikan. Namun, melihat segala persiapan dan pengamanan di lokasi membuat berpikir bahwa kecil kemungkinan acara itu tidak jadi dilaksanakan.

Benar saja, pukul 19.45 WIB, wartawan diberi tahu oleh Biro Pers bahwa acara tersebut batal dilakukan. Terlepas dari peristiwa politik apa yang terjadi antara Jokowi-JK dan orang-orang di sekitarnya yang membuat acara pengumuman itu batal, ketidakpastian acara Jokowi tidak dapat diprediksi oleh siapa pun.

Para wartawan yang telah menunggu dan mempersiapkan peralatan hanya bisa “ngedumel” atas ketidakpastian tersebut. Tidak terbayang, bagaimana Paspampres yang sudah sejak pagi berada di sana, apalagi petugas sistem suara dan tata lampu yang sudah bekerja menyiapkan acara sesempurna mungkin.

Sumber: Kompas.com