Jokowi Pemimpin Tegas

jokowi 2303“Jangan pernah samakan suara yang menggelegar dengan sikap tegas. Parameter utama sikap tegas adalah kecepatan mengambil keputusan, mengeksekusinya dan memberikan sanksi terhadap mereka yang melanggar.”

Sikap tegas seperti itu telah diperlihatkan calon presiden Jokowi sejak menjabat Wali Kota Solo selama tujuh tahun (2005-2012) hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta (2012). Selama di Solo, Jokowi melakukan banyak hal terutama  mengubah sikap mental masyarakat. Keberhasilannya itulah yang kemudian pada periode kedua Jokowi terpilih dengan dukungan 90% suara.

Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, sikap tegas Jokowi semakin tampak. Ada  beberapa contoh yang bisa diberikan. Sikap tegas yang paling monumental tampak saat Jokowi menata Pasar Tanah Abang, normalisasi Waduk Pluit dan membangun sodetan yang menghubungkan Kali Ciliwung dengan Kanal Banjir Timur.

Selama puluhan tahun Pasar Tanah Abang tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga pusat preman, daerah hitam yang dikuasai mafia serta mencatat angka kriminalitas yang tinggi. Kawasan Pasar Tanah Abang juga merupakan simpul kesemrawutan lalu lintas yang paling parah.

Tetapi Jokowi mampu mengatasinya. Dengan sikap tegas dia mengubah citra Tanah Abang. Kini pemerasan, pencopet, dan preman telah bersih dari Tanah Abang. Alur lalu lintas di kawasan itu pun mulai terurai. Citra kekerasan dan ketidaknyamanan sudah pupus dari Tanah Abang.

Ketegasan Jokowi juga terlihat ketika dia menormalisasi waduk-waduk untuk mengembalikan fungsinya sebagai pengendali banjir. Waduk Pluit misalnya. Waduk dengan luas 80 hektare yang dibangun tahun 1963 itu memiliki kedalaman 10 meter dengan kapasitas tampungan  sekitar 6 juta kubik air. Tetapi sekian puluh tahun waduk itu dibiarkan tidak dikeruk sehingga kedalamannya tinggal 2-3 meter.

Sekitar waduk juga dihuni puluhan ribu keluarga secara ilegal. Warga membangun rumah permanen, kontrakan, sewa-menyewa bahkan jual beli tanpa peduli bahwa tanah tersebut milik negara.

Waduk Pluit hanya satu contoh. Waduk lain seperti Waduk Ria-Rio, Tomang Barat, Rawa Badak, Sunter,  Cibubur dan Angke, juga mengalami hal yang sama, pendangkalan dan diserobot menjadi tempat hunian warga.

Para Gubernur DKI Jakarta sebelumnya tidak mampu membenahi waduk-waduk tersebut sehingga pendangkalan terus terjadi dan penghuni liar terus bertambah. Akibatnya fungsi waduk sebagai penampung air kemudian mengendalikan, tidak terjadi sehingga banjir menjadi langganan.

Namun sejak awal 2013, Jokowi melakukan rembuk dengan warga. Tidak lelah dia melakukan pendekatan kerakyatan. Hasilnya pun tampak. Normalisasi waduk berjalan, pengerukan dilakukan dan sekitar waduk ditanam sejumlah pohon langka serta dibangun taman. Warga pun direlokasi ke rumah susun. Banjir memang masih ada,  tetapi areal genangan berkurang dan lamanya genangan pun semakin pendek. Bahkan areal waduk kini menjadi salah satu tempat hiburan warga.

Tidak hanya itu. Jokowi juga terus melakukan pembenahan birokrasi. Promosi pejabat dilakukan secara terbuka melalui lelang jabatan, bukan karena koneksi. Pejabat-pejabat yang tidak mampu atau tidak bisa mengikuti irama kerjanya langsung dicopot.

Jokowi  juga mengubah pola pelayanan kepada masyarakat. Di era teknologi, Jokowi memanfaatkan piranti itu untuk mengurangi kontak langsung antara aparat dan pejabat kemudian mengalihkan pelayanan melalui sistem komputerisasi. Dia memperkenalkan model e-bujeting, e-katalog, e-tender, pajak online dsb. Berkurangnya kontak langsung (face to face) antara pejabat dan masyarakat akan mengurangi potensi korupsi. Memang pada awalnya model pelayanan dengan sistem komputerisasi itu banyak menimbukan resistensi karena kontak langsung dalam pelayanan memberikan nilai tambah bagi aparat. Tetapi Jokowi jalan terus. Hasilnya APBD DKI Jakarta tahun 2013 naik Rp31 triliun menjadi Rp72 triliun.

Kesigapan Jokowi dan kebiasaannya blusukan membuat gerah para pejabat di DKI. Para pejabat yang selama ini nyaman bekerja dari balik meja kini  bergegas turun langsung ke lapangan.  Para wali kota, camat dan lurah pun turun ke lapangan untuk mengetahui keadaan sesungguhnya dari warga. Tidak hanya itu, kantor-kantor wali kota, camat dan kelurahan juga sudah buka tepat waktu, dan karyawan sudah hadir di kantor lebih awal. Mereka tidak mau terulang Gubernur Jokowi datang di kantor dan menemukan ruang-ruang masih kosong dan loket pelayanan belum dibuka.

Jokowi juga merupakan satu-satunya gubernur yang menaikkan upah buruh hingga 43%. Walau baru beberapa bulan dilantikmenjadi Gubernur DKI Jakarta, dia membuat keputusan yang luar biasa dengan menaikkan upah buruh untuk tahun 2013 dari Rp 1,5 juta/bulan menjadi Rp 2,2 juta per bulan. Walau para pengusaha memprotes keras, Jokowi tetap pada keputusan karena dia ingin kesejahteraan buruh ditingkatkan.

Setelah membenahi Pasar Tanah Abang dan normalisasi sejumlah waduk, kini Jokowi mulai memasuki tahap berikutnya mengendalikan banjir di Jakarta. Jokowi membangun sodetan yang menghubungkan Kali Ciliwung dengan Kanal Banjir Timur agar air Kali Ciliwung terbagi sehingga kawasan Kampung Melayu bisa terbebaskan dari banjir rutin.

Beberapa catatan di atas hanyalah sedikit dari deretan bukti prestasi Jokowi yang ditorehkan karena sikap tegas Gubernur DKI  Jakarta itu. Tanpa sikap tegas tidak mungkin Jokowi bisa mengubah hal-hal yang sudah bertahun-tahun menjadi warisan yang tidak terselesaikan.

Jokowi menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari sikap mental. Mengubah paradigma dan membawa para pejabat keluar dari zona nyaman memerlukan sikap tegas seorang pemimpin.

Jokowi kini menjadi sebuah fenomena. Gebrakannya selama dua tahun memimpin Jakarta menjadi inspirasi para pemimpin di daerah lain. Kebiasaan Jokowi mendatangi pasar-pasar, menyapa warga di bantaran kali, mengecek langsung pelayanan di kantor wali kota, kecamatan dan kelurahan, kebiasaannya blusukan membuatnya semakin dekat dengan warga, tidak hanya warga Jakarta, tetapi juga warga di daerah lain. Di daerah manapun dia datang, Jokowi selalu dielukan. Masyarakat di berbagai pelosok Tanah Air mengenalnya dan menghendaki agar Gubernur atau Bupati/Wali Kota mereka sama seperti Jokowi.

Kalau sekarang Jokowi menuai dukungan yang luar biasa dari publik, itu hanya buah investasi tak terduga yang dilakukannya sejak tahun 2005 di Solo. Kalau sekarang Jokowi menuai apresiasi yang luar biasa dari publik, itu hanya karena pengabdian dan kerja tampa pamrih yang dilakukannya bertahun-tahun. Kalau sekarang Jokowi dielukan di berbagai tempat, itu buah sikap tegasnya melawan kepentingan pihak-pihak tertentu yang selama ini merugikan rakyat.

Jokowi bertindak tegas tanpa beban,  bersikap tegas tanpa kompromi, karena dia memang tidak mempunyai agenda lain kecuali bekerja, bekerja dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Jokowi memang memiliki hati untuk berbakti. (al-mihrab)