Jokowi Beberkan Penyebab Ekonomi Melemah dan Rupiah Loyo

Rupiah-DolarBOGOR – Presiden Joko Widodo tengah menghadapi persoalan ekonomi yang kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan rupiah terus loyo hadapi dolar Amerika.

Indikator perlambatan ekonomi terlihat pada semester I 2015 sebesar 4,9 persen. Angka ini tentu lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pada semester yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,1 persen.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar juga sama. Pada Senin (24/8) kemarin menembus angka Rp 14.000 per dolar.

Jokowi menegaskan, perlambatan ekonomi karena ada beberapa faktor. Terutama faktor global.

“Perlu kita ketahui bersama bahwa ada perlambatan ekonomi yang kita alami, tetapi tak hanya negara kita yang mengalami. Negara lain mengalami yang lebih berat dibanding kita,” kata Jokowi di Istana Bogor, kemarin.

Jokowi menyampaikan hal itu di depan seluruh gubernur, Kepala Kepolisian Daerah dan Kepala Kejaksaan Tinggi seluruh Indonesia di Istana Bogor. Jokowi ingin menyamakan persepsi guna mengantisipasi perlambatan ekonomi yang terjadi di Tanah Air.

Jokowi menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan ekonomi di Indonesia dan negara-negara lain. Di antaranya karena krisis di Yunani, kenaikan suku bunga, depresiasi Yuan, ramainya Korea Selatan-Korea Utara dan lain sebagainya.

“Hal-hal tersebut perlu diantisipasi bersama, semuanya harus mempunyai pemikiran yang sama dan garis yang sama apa yang harus kita lakukan. Jangan sampai kita sudah berikan garis, masih ada di luar garis,” tegas Jokowi.

“Pertama, yang paling penting tujuan kita berbangsa dan bernegara yakni masyarakat adil dan makmur. Bisa kita capai kalau kita ekonomi yang baik dan ditopang oleh banyak hal. Oleh APBN, oleh APBD, BUMN, dan investasi swasta artinya kalau belanja APBN, APBD, BUMN swasta nasional dan asing bergerak itu yang akan beri pertumbuhan ekonomi,” tutur Jokowi.

Serapan anggaran

Untuk mengantisipasi agar ekonomi Indonesia tak terus melambat, salah satunya adalah menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Jokowi ingin penyerapan anggaran digenjot. Per Agustus 2015 ini penyerapan baru sampai 20 persen.

“Pertama, soal APBN, perlu saya sampaikan bahwa APBN kita, serapan anggaran baru 20 persen. Oleh karena itu sudah akhir Agustus, belanja modalnya baru 20 persen,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, belanja modal ini memegang peran penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi juga diyakini dapat menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. (merdeka)