Joko Widodo, Memahami Kehidupan Rakyat Lewat “Blusukan”

Jokowi di dpn bendera banteng 0603SAYA adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna.
Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Hanya kebahagiaanku adalah mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada bangsa.
Itulah dedication of life-ku.

Jiwa pengabdian inilah jadi falsafah hidupku.
Saya nikmati dan jadi bekal hidupku.
Tanpa jiwa pengabdian ini, saya bukan apa-apa.
Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasa hidupku bahagia dan membawa manfaat

Itu adalah teks “Dedication of Life” yang dibuat oleh Proklamator Soekarno, 10 September 1966 lalu. Pada September 2013 lalu, saat para pengurus PDI Perjuangan se-Indonesia dikumpulkan di ajang rapat kerja nasional (rakernas) partai itu di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, membacakannya di hadapan peserta.

Menurut Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, saat membacakan naskah itu, Jokowi dirasanya mendapat “getaran” tertentu.

“Kenapa Dedication of Life justru dibacakan Jokowi? Karena, katakan itu sebuah makna bahwa sebuah regenerasi itu secara alami pasti berlanjut,” kata Megawati yang langsung disambut teriakan riuh peserta rakernas.

“Kenapa langsung teriak? Tunggu dulu. Saya ingin juga mengatakan gubernur yang lain juga bagian dari regenerasi yang dengan konsekuen dilakukan PDIP. Itu adalah nature, alam. Alam yang harus melakukannya,” kata Megawati.

Memang benar, Jokowi, sebagai eksekutif di Jakarta kini adalah produk regenerasi kepemimpinan di PDI Perjuangan yang secara telaten dikerjakan oleh Megawati dan almarhum suaminya, Taufiq Kiemas. Jokowi hadir sebagai darah muda, anak-anak penerus ideologi Pancasila dan Marhaenisme yang digagas Bung Karno, yang juga menjadi ideologi PDI Perjuangan.

Kerja keras Megawati tumbuh melalui bibit-bibit muda yang menjadi kepala daerah, seperti Jokowi, Ganjar Pranowo, Agustin Teras Narang, Tri Rismaharini, dan Rustriningsih. Belum lagi yang secara biologis memang dekat dengan keluarga Soekarno, seperti Puan Maharani dan Prananda Prabowo.

Dan itu pun berbuah loyalitas Jokowi kepada Megawati dan partai itu. Di tengah rayuan maut untuk mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden (capres), Jokowi teguh untuk tetap loyal kepada Megawati.

“Soal capres, tanya ke Ibu Ketua Umum,” begitu selalu Jokowi menjawab kalau ditanya apakah akan menjadi capres 2014 atau tidak.

Politisi-politisi PDI Perjuangan, seperti Eva Kusuma Sundari dan Maruarar Sirait pun menjamin kuatnya loyalitas Jokowi ke Megawati dan partai.

“Saya mengenal Pak Jokowi sebagai kader PDI Perjuangan yang loyal dan patuh ke garis PDI Perjuangan. Dia bukan tipe kemaruk jabatan dan bisa pindah partai demi jabatan karena dia memaknai politik sebagai jalan pengabdian, bukan jalan untuk kekuasaan,” kata Eva.

Pengusaha Mebel

Tanpa PDI Perjuangan, Jokowi mungkin bukan apa-apa. Mungkin dia hanya akan dikenal sebagai anak kelahiran dan besar di wilayah bantaran Kali Anyar, Surakarta, yang belakangan sukses sebagai pengusaha mebel.

Jokowi dilahirkan 21 Juni 1961 di RS Brayat Minulya, Solo, dari pasangan Notomihardjo dan Sujiatmi. Dia anak sulung, lelaki satu-satunya, dari empat bersaudara. Tiga adiknya adalah Iid Sriyantini, Idayati, dan Titi Ritawati.

Jokowi sekolah di Solo hingga tamat SMA, lalu kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia menikah dengan Iriana, tak lama setelah dirinya bekerja pertama kali sebagai pegawai PT Kertas Kraft Aceh (KKA).

Iriana adalah sosok yang jarang sekali mau berbicara ke publik. Iriana selalu dikenal setia mendampingi suaminya ke mana pun pergi. Dan dia selalu berusaha membantu memenuhi target kerja suaminya dengan caranya sendiri.

Pernikahan mereka dikaruniai tiga anak. Yang sulung Gibran Rakabuming Raka, seorang lulusan jurusan marketing internasional yang membangun usaha sendiri di bidang katering makanan di Solo. Lalu, Kahiyang Ayu dan si bungsu, Kaesang Pangarep.

Setelah beberapa tahun bekerja di PT KKA, istrinya hamil. Jokowi memilih mundur dari perusahaan itu dan kembali ke Solo. Dia lalu bekerja sebagai karyawan di perusahaan bernama PT Roda Jati, milik pamannya.

Setelah menimba pengalaman di sana, Jokowi memberanikan diri membuka usaha mebel sendiri bernama PT Rakabu. Sempat jatuh karena ditipu, dan menghabiskan modal kerja hasil utangan orangtuanya, Jokowi kembali bangkit karena kepercayaan customer lokalnya.

Rakabu berkembang besar. Belakangan membuat unit bernama PT Rakabu Sejahtera yang merupakan usaha patungan dengan PT Toba Sejahtera milik purnawirawan TNI, Luhut Panjaitan. Menurut Jokowi, kerja sama itu murni demi memastikan pasokan kayu yang bisa dilakukan Toba Sejahtera.

Karena usaha yang berkembang baik, nama Jokowi di antara pengusaha mebel pun naik. Dia lalu didaulat memimpin Asosiasi Pengusaha Mebel (Asmindo) cabang Solo. Di organisasi itulah pertama kali Jokowi didorong rekan sesama pengusaha mebel untuk menjadi bagian dari eksekutif pemerintahan.

Gayung bersambut. PDI Perjuangan Solo yang dipimpin FX Hadi Rudyatmo mengajukan Jokowi sebagai calon wali kota Solo ke DPP PDIP di Jakarta. Itu terjadi pada Pilkada Solo tahun 2005. Tak berbekal modal banyak, Jokowi yang berpasangan dengan Hadi Rudyatmo berhasil menang.

Tak dimungkiri, FX Hadi Rudyatmo–dikenal sebagai orang lapangan–adalah sosok yang memengaruhi Jokowi, khususnya untuk kebiasaan blusukan yang terkenal itu. Karena tak banyak modal uang, keduanya rajin blusukan ke rumah warga Solo agar dipilih saat pilkada.

Kolaborasi mereka memimpin Solo menghasilkan prestasi-prestasi besar. Kota itu di-branding oleh keduanya dengan slogan “The Spirit of Java”. Budaya dan masyarakat Solo yang kebanyakan pedagang kecil dilindungi dari pasar-pasar modern. Salah satu caranya melalui kebijakan moratorium pembangunan mal.

Yang fenomenal, adalah program relokasi pedagang kaki lima (PKL). Biasanya, program ini dijauhi oleh kepala daerah karena berpotensi menimbulkan bentrok fisik antara aparat ketentraman dan ketertiban (trantib) dengan PKL. Namun Jokowi-Rudyatmo memilih cara berbeda, yakni tanpa kekerasan, dengan didahului diplomasi 54 kali makan bersama pedagang.

Sikap tak mau mengalah dan selalu mencari solusi tampaknya lahir dari sifat Jokowi yang tak suka kegagalan. Ibundanya, Sujiatmi, pernah bercerita Jokowi sampai sakit-sakitan hanya karena gagal masuk ke SMA favorit yang ditujunya di Solo.

Cara relokasi pedagang di Solo itu kembali digunakan Jokowi ketika akhirnya menjadi gubernur DKI Jakarta dalam program relokasi pedagang Tanah Abang ke Blok G, serta relokasi warga di Waduk Ria Rio dan sejumlah program normalisasi sungai.

Ada sikap memanusiawikan masyarakat kecil dari cara yang digunakan Jokowi. Hal itu dipengaruhi pengalaman masa kecil Jokowi yang sempat hidup dari satu bantaran kali ke bantaran kali lainnya di Solo. Karena hidup orangtuanya sulit, Jokowi juga mengalami rumah orangtuanya digusur pemda tanpa diganti rugi. Semua itu memengaruhi sikapnya dalam memanusiakan masyarakat kecil dan terpinggirkan.

Seperti ditulis dalam buku Jokowi Secrets karya Agus Santosa, Jokowi tidak bisa semena-mena dengan “mengalirkan sungai dengan menghanyutkan harapan hidup orang banyak, menambah penderitaan rakyat kecil”.

“Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana memahami kehidupan rakyat. Apa yang saya lakoni saat ini tidak bisa terlepas dari atmosfer yang menumbuhkan saya. Bantaran sungai kumuh di Surakarta mengajarkan saya banyak hal. Hidup manusia dan harapan,” kata Jokowi.

Dengan dasar demikian, ditambah kegiatan blusukan-nya, Jokowi semakin tahu apa yang dirasakan masyarakat. Jokowi pun menelurkan program kerakyatan, semacam jaminan kesehatan dan pendidikan. Diawali di Solo, lalu dibawa lagi ke Jakarta dengan nama baru Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat.

Kegiatan blusukan-nya juga membuat Jokowi sulit dibohongi bawahannya. Dia bisa mengecek langsung keadaan di lapangan. Aparat birokrasi yang korup dan malas akan langsung dicopot dari jabatannya. Itu terjadi di Solo selama hampir dua periode memimpin, dan juga di Jakarta. Di tempat yang disebut terakhir itu, bersama Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok, Jokowi bahkan memperkenalkan metode lelang jabatan demi memperkuat meritokrasi.

Trisakti Soekarno

Satu lagi minat Jokowi adalah soal pengembangan ekonomi nasional. Dia mengidamkan salah satu prinsip Trisakti Soekarno, yakni kemandirian ekonomi. Ini juga yang membuat Jokowi pernah terlibat mendorong anak-anak SMK di Solo membangun mobil Esemka.

Jokowi juga bukan sosok yang mudah didikte investor. Sebagai wali kota Solo, Jokowi pernah mendorong revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug, bekerja sama dengan perusahaan Chairul Tanjung, Transcorp. Ketika disyaratkan agar memastikan tak ada pesaing usaha di sana, Jokowi berhasil menolaknya. Dan tanpa mengurungkan niat sang investor untuk tetap berinvestasi. Yang ada di kepala Jokowi adalah bagaimana kerja sama itu berjalan, dan efek ekonominya akan menguntungkan warga Solo.

Hal-hal positif itulah yang sampai membuat Megawati Soekarnoputri pernah menuliskan bahwa dirinya meyakini Jokowi memang memiliki keberpihakan kepada rakyat.

“Setelah saya banyak berdialog dengan dia, saya semakin mengenal dan yakin melihat orang ini bukan lip service saja. Orang seperti ini pasti punya ideologi,” tulis Megawati dalam pengantar buku Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar karangan Domu Ambarita.

Dan Jokowi, walau tampilan fisiknya tak terlalu menarik, namun benar-benar bisa memikat masyarakat. Setidaknya bisa dilihat dari hasil survei oleh mayoritas lembaga riset yang menunjukkan lebih dari 50 persen masyarakat ingin Jokowi jadi presiden pada Pilpres 2014.

Soal ini (capres, Red), seperti yang berkali-kali diucapkan Jokowi, diserahkan kepada pimpinan PDI Perjuangan.

Lalu bagaimana prospek Indonesia bila seandainya Jokowi menjadi presiden? Budayawan yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif, mengaku sama sekali belum bisa membayangkan secara jelas bagaimana Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi.

Hanya saja, dia menilai, idealnya Jokowi teruji lebih dulu dalam kapasitasnya sebagai gubernur DKI Jakarta. Sebab menurutnya, pengalaman Jokowi masih kurang.

“Dia hanya pernah sukses jadi wali kota Solo yang penduduknya setengah juta orang. Dari sisi kinerja, jauh lebih hebat Wali Kota Risma yang bisa memimpin Surabaya dengan tiga juta penduduk lebih,” kata Syafii Maarif, belum lama ini.

Walau demikian, Buya, sapaan akrab Maarif, tak bisa menolak bahwa kehendak publik, minimal dari hasil survei capres, yang menunjukkan keinginan agar Jokowi memimpin Indonesia. Pada titik itu, andaikan Jokowi jadi presiden, Buya Maarif menilai pendamping Jokowi haruslah sosok tepat.

“Pendampingnya haruslah negawaraan piawai. Artinya punya pengalaman, jejak rekam bagus, punya nyali, visi yang jelas, dan sangat bersemangat mengembalikan kedaulatan negara,” jelasnya.

“Bagi saya, siapa pasangannya menjadi sangat penting. Dia tak bisa dilepaskan begitu saja. Dia sendiri belumlah, sebab Indonesia ini bagian dari dunia mengglobal. Kalau sekarang muncul harapan karena dia (Jokowi, Red) merakyat saja. Cuma kalau mau realistis, kita ini 230 juta orang lho. Yang saya yakin, komitmen pluralisme dia, oke lah,” tutur Buya Maarif.

Kalau boleh mengusulkan, Buya Syafii menilai Jokowi jadi “orang nomor dua” alias cawapres dulu. Dan lebih ideal lagi “berguru” dulu di Jakarta.

Hal yang berbeda disampaikan Saldi Isra. Pakar hukum tata negara Universitas Andalas Padang ini menyatakan masalah usia dan pengalaman merupakan hal yang sangat relatif. Dia mengibaratkan, dua sosok pemimpin Indonesia berbeda zaman. Soekarno dan Soeharto, bisa memimpin negeri dengan pengalaman yang belum seberapa dibanding tantangan zamannya.

“Soekarno jadi presiden berumur 44 tahun. Soeharto sekitar 45 tahun. Dari segi umur, Jokowi sudah cukup karena umurnya di atas itu,” kata Saldi Isra.

Saldi pun mengaku tak bisa meraba nasib Indonesia akan seperti apabila dipimpin Jokowi sebagai presiden. Yang pasti, kalau Jokowi mau jadi presiden, harus ada parpol yang mengusungnya sesuai syarat UU Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

“Kalau ada orang hebat, tapi tak didukung parpol, juga tak akan jadi presiden. Kalau ada yang diusung parpol, tapi tak menarik di publik, ya tak jadi juga. Kalau hari ini, yang pasti, menurut banyak orang, Jokowi tokoh menarik,” ujar Saldi tersenyum.

Penulis: Markus Junainto Sihaloho/AB/Beritasatu