Ini, Penjelasan Jokowi Soal Tudingan Tidak Pro-Islam dan Masalah TKA

BOGOR – Dalam Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII di Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga meluruskan penilaian sejumlah kalangan yang menyebut dirinya tidak Pro-Islam.

Jokowi juga mengatakan, bahwa kabar ada 10 juta tenaga kerja dari China, adalah tidak benar.

Soal tudingan tidak pro-Islam, Jokowi mengaku tidak mengerti dengan isu tersebut, mengingat dirinya muslim, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan tahun ke mana-mana dengan KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat).

Bahkan tiap minggu, dirinya masuk ke pondok-pondok pesantren. “Untuk apa? Saya ingin melihat secara langsung sebetulnya problem kesulitan yang kita hadapi ini apa,” kata Jokowi, kemarin.

Menurutnya, pemerintah juga telah membuka 40 bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. Masing-masing bank wakaf mikro ini, tambahnya, juga diberi modal Rp 40 miliar.

Pemerintah bertekad akan memperbanyak lagi jumlah bank wakaf mikro itu. Termasuk yang berkaitan dengan kemitraan, lanjut Jokowi, misalnya kayak NU kemarin dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektar di Jawa Timur.

Kemitraan-kemitraan seperti ini, jelasnya, yang akan memperbaiki perekonomian umat. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, sambung presiden, maka jurang (gap) antara yang kaya dan yang miskin akan semakin lebar.

“Inilah upaya-upaya yang harus kita lakukan. Jangan sampai ada suara-suara seperti Jokowi tidak pro-Islam,” ujarnya, seraya mempertanyakan yang membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang Hari Santri Nasional itu siapa? “Masa sudah kayak gitu tidak pro-Islam,” sambungnya.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat tidak terjebak pada isu-isu politik. Dia menilai, isu-isu itu sebetulnya penyebabnya urusan politik, seperti pilihan bupati, urusan pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden.

“Ini semua dimulai dari situ. Jangan diteruskan. Setop,” ajaknya, sambil menyebutkan, itu semua karena pintarnya orang-orang politik mempengaruhi, dan banyak yang terpengaruh.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyinggung masalah isu tenaga kerja dari China. Dirinya mendengar isu katanya ada 10 juta tenaga kerja dari China.

Padahal, lanjut Jokowi, yang ada sebenarnya hanya 23.000 tenaga kerja China kerja di sini. Itu pun, sambungnya, tidak kerja terus-menerus.

“Itu masang turbin, masang smelter. Saya cek kok. Itu memang kita belum siap melakukan itu, sehingga mereka harus di sini 3 bulan-6 bulan untuk memasang ini,” terang Jokowi.

“Coba dilihat tenaga kerja asing yang ada di Indonesia dibandingkan dengan penduduk itu hanya 0,03%. Satu persen saja enggak ada. Harus angka-angka yang kita sampaikan supaya isu tidak kemana-mana 0,03%. Satu persen saja enggak ada,” tambahnya.

Jokowi menegaskan, pemerintah berupaya mendatangkan investasi, karena salah satu tujuannya membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya untuk rakyat, bukan untuk yang lain. (goek)