Ini, Cara Banyuwangi Lambungkan Daya Saing dan Kualitas Produk Kopinya

BANYUWANGI – Banyuwangi punya cara beda untuk meningkatkan daya saing dan kualitas produk kopinya. Yakni dengan menggelar Coffee Processing Festival yang dipusatkan di rumah kreatif Banyuwangi, Selasa (16/10/2018).

Melalui event ini, komunitas kopi diajak mengenal proses pengolahan kopi yang bisa menghasilkan produk kopi dengan kualitas terbaik. Khususnya bagi generasi muda yang mulai tertarik membuka usaha pengolahan ataupun kedai kopi di Bumi Blambangan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, event ini merupakan cara daerah agar pelaku usaha kopi bisa naik kelas atau meningkatkan kualitas, kemampuan, hingga daya saing produknya.

“Dengan even ini harapannya agar pekebun dan penggiat kopi bisa lebih tahu cara-cara mengolah kopi yang baik sehingga mereka bisa memproduksi kopi yang benar-benar berkualitas,” kata Anas.

Dia juga mengharapkan para petani kopi, terutama kopi rakyat bisa mengupgrade kemampuannya. Sehingga mereka bisa merambah dunia industri kecil menengah (IKM), dengan belajar bagaimana mengolah kopi, agar bisa bersaing dengan produk nasional maupun Internasional.

“Gairah para konsumen atau penikmat kopi maupun cafe-cafe kopi di Banyuwangi saat ini patut disambut gembira. Namun juga jadi tantangan bagi pelaku usaha alias produsen kopi khususnya UKM, bagaimana bisa menyajikan kopi dengan cita rasa tinggi sehingga diminati konsumen. Acara ini salah satu ikhtiarnya,” ujar Anas.

Dalam event festival prosesing coffe, komunitas pecinta kopi, mulai dari pelaku usaha maupun pecinta kopi yang berminat wirausaha kopi untuk ikut ambil bagian dalam festival ini. Karena para peserta akan mendapatkan wawasan yang banyak tentang praktik pengolahan pasca panen kebun.

Event tersebut mengundang sejumlah pihak sebagai mitra sekaligus menjadi narasumber sesuai keahlian masing-masing. Antara lain pakar kopi dari Pusat Penelitian (Puslit) Kakao dan Kopi Indonesia Jember, kelompok tani kopi, pelaku bisnis kopi Indonesia maupun para barista asal Banyuwangi.

Sehari sebelumnya, Abdullah Azwar Anas meresmikan kampung wisata kuliner di Desa Rejoagung Kecamatan Srono. Warga desa setempat berhasil mengembangkan sektor ekonomi kreatif sehingga desanya dikenal sebagai Kampung Jajanan Gula Merah

Menurut Anas, ide tentang kampung itu datang langsung warga desa setempat, termasuk pengerjaannya.

“Ini menunjukkan masyarakat sudah sadar potensi yang dimilikinya. Mereka lalu merancang ide, mengemasnya, dan ternyata hasilnya menarik,” kata Anas.

Kampung kuliner tersebut berada di Dusun Krajano. Tempatnya cukup menarik, berada di areal kebun sengon dan kelapa yang berada di tengah-tengah perkampungan warga desa.

Berbagai jajanan tradisional dijual di sini, terutama yang berbahan dasar gula kelapa. Mulai dari getuk, kue latuk, es dawet, klepon, utri, kue lapis gula merah, kue cucur, es degan gula merah, singkong bulat, rujak buah, hingga rengginang manis gula merah.

Maklum saja, Desa Rejoagung adalah salah satu sentra gula merah di Banyuwangi. Adapula menu khas desa setempat, yaitu rujak kecut, disajikan dalam batok kelapa muda. Tak ketinggalan juga, gula merah organik sebagai produk unggulan desa setempat. (goek)