Ini, 5 Inovasi Banyuwangi yang Sabet Penghargaan dari MenPAN-RB

BANYUWANGI – Lima inovasi pelayanan publik Banyuwangi diganjar penghargaan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Lima program tersebut adalah Rantang Kasih, Banyuwangi Mall, CHIPS, Barisan Siap, hingga Banyuwangi Festival.

Penghargaan tersebut diberikan Menpan RB, Syafruddin kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam acara penyerahan penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019 di Semarang, Kamis (18/7/2019).

Dan bersamaan dengan itu, diserahkan pula penghargaan UNPSA (UN Public Service Awards) 2019 pada Banyuwangi.

“Alhamdulillah, ada lima inovasi dari Banyuwangi berhasil menembus TOP 99 Sinovik dari 3.156 inovasi yang masuk,” ungkap Bupati Anas, Jumat.

“Kompetisi tahunan ini menjadi salah satu motivasi untuk melahirkan inovasi publik untuk menyejahterakan masyarakat,” imbuhnya.

Bahkan menurut Anas, agenda wisata Banyuwangi juga berhasil masuk jajaran inovasi TOP 99. Anas menjelaskan Banyuwangi Festival (B-Fest) adalah agenda wisata yang digelar sejak 2012.

“Ini bukan sekedar sebagai agenda wisata, namun ini adalah cara Banyuwangi melakukan konsolidasi di bidang budaya, infrastruktur masyarakat, dan ekonomi,” jelas Anas.

Dalam mengerjakan event B-Fest, pihaknya mengerjakannya tanpa event organizer. Namun birokrat, masyarakat, swasta, hingga TNI/Polri terlibat di setiap pelaksanaan.

Dengan warga dilibatkan, lanjut Anas, maka warga secara tidak langsung belajar menciptakan event yang bisa menarik wisatawan.

“Ini adalah bentuk transfer knowledge untuk warga dalam membuat event yang kreatif. Dengan datangnya wisatawan, tentunya berdampak pada menggeliatnya ekonomi warga setempat,” jelasnya.

Di sisi infrastruktur, dia mencontohkan pelaksanaan balap sepeda internasional Tour de Banyuwangi Ijen. Para pembalap menempuh rute sekitar 600 km selama empat hari berkeliling di seluruh jalanan Banyuwangi.

“Balap sepeda ini, secara tidak langsung memaksa kami melakukan konsolidasi infrastruktur fisik. Rute yang dilewati memaksa kami untuk memastikan jalanannya harus teraspal dengan baik. Ini menjadi cara kami untuk melakukan kontrol terhadap kondisi infrastruktur fisik,” ujar Anas.

“Banyak hal baik dan bermanfaat yang kami dapatkan dalam menggarap event B-Fest. Budaya kami juga terus tumbuh dan terpelihara karena separuh lebih adalah event tradisi dan budaya,” imbuhnya.

Dalam merancang program inovatif, lanjut Bupati Anas, pemkab juga menggandeng pihak lain. “Tangan kami terbatas, namun dengan berkolaborasi dengan banyak pihak, jangkauan kami akan makin luas. Pelayanan publik kami jauh lebih optimal. Seperti yang kami lakukan dengan pihak kepolisian lewat program Barisan Siap yang juga menerima penghargaan serupa dari Menpan RB semalam,” kata Bupati Anas.

Program lain asal Banyuwangi yang berhasil meraih penghargaan adalah program pemberian makanan bergizi kepada lansia yang hidup sebatang kara (Rantang Kasih).

Lalu Banyuwangi Mall, sebuah marketplace yang dibuat pertama kali oleh sebuah kabupaten di Indonesia. Tidak hanya untuk memasarkan produk UMKM, Banyuwangi Mall juga mengedukasi pelaku mikro meningkatkan kualitas produknya agar mudah dipasarkan.

Program lainnya adalah “Chips Primadona Kami” (Calon Harapan Insan Penghuni Surga, Prioritas Melayani dan Solusi Nasib Keluarga Miskin).

Sementara itu, Penghargaan UNPSA yang diraih Banyuwangi adalah lewat program Laskar Sakina (Stop Angka Kematian Ibu dan Anak). Laskar tersebut beranggotakan kader kesehatan, tokoh agama & masyarakat, PKK, aparat kepolisian, hingga pedagang sayur keliling (mlijo) yang ditugaskan mencari, menemukan, dan melaporkan ibu hamil baru dengan risiko tinggi di wilayah mereka berjualan.

“Lewat program ini, angka kematian ibu melahirkan di Kecamatan Sempu bisa ditekan hingga zero,” pungkas Anas. (goek)