Ideologi PDIP Jadi Landasan Kepemimpinan Anas di Banyuwangi

DENPASAR – Ideologi partai menjadi landasan penting bagi kepala daerah untuk membangun masing-masing daerahnya. Hal ini pula yang dipraktikkan dua kepala daerah kader PDI Perjuangan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Bupati Boven Digoel, Benedictus.

Bupati Azwar Anas mengungkapkan, ketika dia direkomendasikan PDI Perjuangan maju Pilkada Banyuwangi, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri mengingatkan agar selalu bekerja untuk menggerakkan ekonomi rakyat.

“Saat akan maju Pilbup Banyuwangi, Bu Mega tidak minta uang, hanya perintahkan ke kami untuk memajukan daerah, mengatasi kemiskinan. Dalam setiap diskusi, titik tekan Bu Mega hanya berkisar soal kemajuan daerah dan pengentasan kemiskinan. Beliau detail soal itu,” ujar Anas dalam sebuah diskusi di sela-sela Kongres V PDI Perjuangan, Jumat (9/8/2019).

Untuk menerjemahkan pesan Megawati tersebut, Anas pun merancang sejumlah program yang secara signifikan mampu menurunkan angka kemiskinan dari sebelumnya dua digit menjadi tinggal 7,8 persen pada 2018.

“Ekonomi rakyat bergerak, pendapatan per kapita rakyat Banyuwangi melonjak dari sebelumnya hanya Rp 20 juta menjadi Rp 48 juta per orang per tahun,” papar Bupati Banyuwangi dua periode ini.

Dia mencontohkan sejumlah program yang digeber di Banyuwangi. Di antaranya “Rantang Kasih” yang mendistribusikan makanan bergizi tiap hari kepada warga lansia kurang mampu.

Telah ada lebih dari 3.000 lansia yang dikirimi rantang berisi makanan bergizi tiap hari secara gratis. Juga ada program uang saku dan biaya transportasi setiap hari kepada pelajar SD, SMP, dan SMA.

“Sehingga pelajar dari keluarga miskin tidak minder saat sekolah. Saat temannya beli jajan di kantin, dengan uang saku dari pemerintah ini mereka bisa juga ke kantin. Bisa belajar dengan perut kenyang,” ujar Anas.

Anas juga membangun Mal Pelayanan Publik yang mengintegrasi 199 jenis izin/layanan dalam satu tempat. Itu tercatat sebagai Mal Pelayanan Publik pertama di Indonesia yang dikelola pemerintah kabupaten.

Mantan ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) itu menambahkan, Banyuwangi juga membuka aksesabilitas dengan mengoperasikan bandara yang kini telah menjadi bandara internasional.

“Dari dulu tidak ada penerbangan, kini setiap hari ada sembilan rute yang dilayani di Bandara Internasional Banyuwangi, mulai dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, hingga Kuala Lumpur. Sebentar lagi Insya Allah juga ada rute Yogyakarta-Banyuwangi,” pungkas Anas. (goek)