oleh

Hasto: Presidential Threshold Tak Hanya Soal Perbanyak Capres-cawapres

JAKARTA – Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan, ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) tak hanya mempersoalkan banyak-sedikitnya calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu presiden.

“Ini bukan sekadar banyak sedikit calon. Tapi kita bicara soal sistem yang sudah dalam praktik, dan kita ingin terus menerus perkuat,” kata Hasto, di sela peringatan Haul ke-47 Bung Karno di Gedung Nusantara IV DPR, Jakarta, kemarin.

Saat ini, isu presidential threshold paling alot dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu (RUU Pemilu) di antara lima isu krusial yang masih belum diputuskan.

PDI Perjuangan saat ini pada posisi presidential threshold 20-25 persen, yakni 20 persen kursi dan 25 persen suara nasional.

Menurut Hasto, angka tersebut merupakan basis legitimasi yang wajar untuk efektvitas jalannya sistem presidensial.

“Nah ketika ini dipersoalkan hanya karena ingin perbanyak calon presiden dan wakil presiden, isunya bukan di sana. Isunya adalah bagaimana meningkatkan kualitas demokrasi kita yang memastikan pemerintah bisa berjalan dengan efektif,” jelasnya.

Bicara soal sistem, tambah dia, tak lepas dari penguatan partai politik. Oleh karena itu, PDI Permjuangan membuka ruang kompromi untuk memilih sistem terbuka, meski pada awal pembahasan memilih sistem tertutup.

Hal itu karena adanya dinamika yang berkembang di lapangan. Begitu juga dengan isu lainnya, seperti metode konversi suara ke kursi.

“Kita bicara tentang sistem yang kita bangun dulu. Tentang pentingnya legitimasi rakyat yang dikombinasikan dengan legitimasi DPR. Ini harus jadi kesatuan,” ujar Hasto.

Sebelumnya, forum lobi Panitia Khusus RUU Pemilu kembali gagal mendapatkan titik temu dalam pembahasan lima isu krusial, khususnya ambang batas presidential threshold. Sehingga pembahasan diperpanjang sampai 10 Juli 2017.

Pada 10 Juli, Pansus RUU Pemilu akan mengambil keputusan tingkat pertama, yakni membawanya ke rapat paripurna. Baru pada 20 Juli 2017, keputusan final akan diambil di rapat paripurna. (goek)