Eva: Seperti Terorisme, Operasi Semburan Fitnah adalah Ancaman Dunia

KEDIRI – Eva Sundari, Influencer Tim Kampanye Nasional (TKN) Capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengatakan, semburan fitnah (Firehose of Falsehood) adalah realitas dunia saat ini yang menjadi keprihatinan umum.

“Operasi Semburan Fitnah ini merusak, tapi sangat efektif untuk memenangkan pemilu, sehingga menjadi strategi favorit para capres “dongok” (tanpa visi dan misi jelas) atau otoritarian,” kata Eva, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/2/2019).

Baca juga: Soal Propaganda Rusia, Jokowi: Kita Tidak Bicara Mengenai Negara

Eva menambahkan, kampanye negatif disebar dengan ofensif melalui narasi-narasi hypnowriting yaitu sebuah teknik penulisan secara hipnotic  yang menyasar ‘Croc Brain’ manusia, dimana security/insecurity feeling berada dan diputuskan.

Mereka mendesain narasi-narasi, gambar-gambar yang disisipi Pesan Subliminal, yakni ‘Pesan Tersembunyi’. Dampaknya, masyarakat seketika bagai kena brainwash dan akan spontan mereaksi pesan tersebut, melupakan pikiran kritis dan logika.

Operasi Semburan Fitnah ini merusak akal, merusak demokrasi karena dusta mengalahkan kebenaran dan menghancurkan kepercayaan publik ke otoritas politik, termasuk media.

Eva menyebut, hal ini sudah melanda Eropa, Rusia, Brasil dan Amerika (Trump memakai Konsultan Cambridge Analytica).

“Sehingga dunia harus menetapkan semburan fitnah sebagai ancaman dunia setara dengan terorisme baik daya rusaknya maupun TSM-nya secara global (jndustri, konsultannya diduga tetap),” ujar politisi PDI Perjuangan ini.

Masyarakat dan pemerintahan-pemerintahan demokratis di dunia harus bersatu melawan Operasi Semburan Fitnah yang memicu konflik dan kekerasan baik simbolik maupun fisik. 

Beberapa platform (WA dan FB) dan gerakan sipil di Indonesia sudah memberikan perlawanan dengan menelanjangi operasi ini dan melakukan intervensi media untuk mematikan taktik yang dipakai.

Indonesia dan Rusia, lanjut Eva, sebaiknya bersama-sama mengangkat isu ini ke dalam Sidang Umum PBB maupun di forum-forum PBB lainnya agar dapat menjadi agenda resmi dalam persidangan di berbagai level di PBB.

“Harus ada pencegahan global terhadap peluang munculnya rejim fasis dan diktaktor sebagaimana Hitler dan NAZI atau Jendral Franco yang menyulut Perang Dunia II akibat Penggunaan Operasi Sebaran Fitnah juga,” kata Eva.

Presiden Jokowi dan Putin, imbuh dia, seharusnya bersama-sama menyelamatkan dunia dari konflik dan perang akibat industri hasutan. Upaya memajukan kesejahteraan umum membutuhkan perdamaian dan demokrasi.

“Jokowi terbukti lebih punya komitmen jelas untuk menghentikan Semburan Fitnah dan Dusta sekaligus menciptakan perdamaian dunia,” tutup Eva. (guh)