Ende, Saksi Bisu Penggalian Nilai-nilai Luhur Pancasila

JAKARTA – Siapa tak kenal Ende ? hmm… nama itu sudah tidak asing lagi sepertinya di telinga. Meski tak asing tapi daerah itu merupakan tempat pengasingan salah satu tokoh besar pendiri Republik ini, Putra Sang Fajar, Bung Karno.

Kabupaten yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur itu tak hanya terkenal akan keindahan wisata alamnya namun menyimpan catatan penting sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Di Ende masyarakat bisa menyusuri sejarah dan mengenang jejak Presiden pertama RI Soekarno atau yang sering disapa Bung Karno saat diasingkan oleh Belanda di kota seribu nyiur melambai ini.

Tak lepas dari jejak Bapak Bangsa, Ende merupakan saksi bisu terbentuknya dasar negara yaitu Pancasila. Selama diasingkan, Bung Karno merenungkan dasar negara Indonesia di bawah pohon sukun yang rimbun.

Di situlah kini dibuatkan Taman Perenungan Bung Karno. Di taman tersebut didirikan patung Bung Karno yang sedang duduk merenung di bawah pohon sukun bercabang lima sambil menatap ke arah laut.

Pohon sukun yang dijadikan peneduh patung tersebut adalah pohon sukun yang ditanam tahun 1981, bukan pohon sukun yang asli ketika Bung Karno diasingkan. Pohon sukun masa pengasingan Bung Karno sudah tumbang sekitar tahun 1960.

Bung Karno diasingkan ke Pulau Ende oleh pemerintah Hindia Belanda selama 4 tahun. Dia hidup di pengasingan dengan ditemani istri tercintanya, Inggit Garnasih, Ratna Djuami (anak angkat) dan ibu mertuanya, Amsi.

Mereka menempati rumah sangat sederhana milik Abdullah Ambuwaru di kawasan Ambugaga, kampung kecil yang terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang. Pada tahun 1954, Bung Karno meresmikan rumah itu sebagai “Rumah Museum”.

Rumah pengasingan mempunyai arti khusus untuk Indonesia, sebab dari rumah itulah dimulai proses penggalian nilai-nilai luhur Pancasila. Berdasarkan alasan tersebut, maka Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya berperingkat Nasional dengan Surat Keputusan bernomor 285/M/2014 pada 13 Oktober 2014.

Setelah pengasingan dari Ende, Bung Karno berhasil merumuskan apa yang disebut Pancasila. Penamaan itu juga berdasarkan saran temannya yang notabene ahli bahasa. Ketika merumuskan prinsip Pancasila, Bung Karno merujuk pada hal yang berunsur simbolik. Bung Karno memberikan gambaran dari rukun Islam yang berjumlah lima, dengan lima jari.

Selain itu panca indera dan tokoh pewayangan Pandawa yang berjumlah lima juga. Maka terbentuklah rumusan dalam lima butir.

Ide Bung Karno itu pun tak serta merta langsung diterima, namun ada tim yang merumuskan untuk mengkaji ulang usulannya.

Selain Bung Karno sendiri mereka adalah Muhammad Hatta, AA Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, Agus Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin. Setelah perubahan, Pancasila menjadi dasar negara hingga saat ini. (gesuri)