Elektabilitas Tertinggi Jadi Modal PDIP Menangkan Jokowi-Ma’ruf

JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, hasil survei Litbang Kompas yang menyatakan elektabilitas PDIP tertinggi dibanding partai lain  bukan hanya jadi modal memenangkan pemilu legislatif (pileg).

Tapi juga untuk memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

“Elektoral PDIP yang tinggi akan jadi daya dorong maksimum bagi Jokowi-KH Maruf Amin,” kata Hasto, Kamis (21/3/2019).

Hasto memantau elektabilitas PDI-Perjuangan selalu menempati urutan tertinggi, mulai pada kisaran 24,6 persen sampai 29,2 persen. Kini berdasarkan survei Litbang Kompas, elektabilitas PDIP sebesar 26,9 persen.

Dia juga mengajak semua kader PDI Perjuangan hingga para simpatisan untuk berjuang semakin militan. Dengan kekuatan PDIP dan partai koalisi lain, Hasto yakin elektabilitas Jokowi-Ma’ruf juga akan semakin meningkat.

“Terlebih kami bersama Parpol KIK (Koalisi Indonesia Kerja) lainnya seperti Golkar, PKB, PPP dan lain-lain memiliki basis kultural dan tradisisional yang kuat,” kata Hasto.

Hasto yakin partai Koalisi Indonesia Kerja lainnya juga bisa meraup suara maksimal. Dia yakin Golkar bisa merebut posisi Gerindra yang ada di nomor dua. Demikian pula PKB, yang diyakini Hasto bisa menempati posisi ketiga.

“PDIP sangat berkepentingan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin kuat, efektif, dan solid. Karena itulah, dalam rangka penguatan sistem presidensial, gambaran ideal terjadi apabila Golkar bisa menduduki posisi nomor dua, mengalahkan Gerindra, dan PKB nomor tiga,” ujarnya.

Keyakinan posisi Gerindra bisa tergeser bukan tanpa sebab. Menurut Hasto, Gerindra sangat mengandalkan coattail effect atau efek ekor jas dari Prabowo Subianto.

“Momentum Gerindra untuk turun drastis terbuka lebar karena mengandalkan efek ekor jas, tanpa dukungan kekuatan teritorial. Dengan demikian, kaki-kaki Gerindra bisa diminimkan kerjanya di lapangan,” sebut Hasto.

“Di sini tokoh-tokoh NU, PKB, dan PPP bisa bergerak bersama membendung gerak HTI yang berada di belakang Prabowo-Sandi,” imbuh dia.

Selain itu, kata Hasto, Prabowo-Sandiaga hanya mampu menaikkan elektabilitas 4% dalam kurun enam bulan kampanye. Hasto mengatakan kenaikan itu pun dilakukan dengan menyebarkan hoax dan fitnah.

“Bayangkan saja, dilengkapi dengan fitnah dan hoax, Prabowo-Sandi hanya mampu naik 4 persen dalam waktu 6 bulan. Sekarang tinggal 26 hari, maka kami optimistis Jokowi-Ma’ruf Amin menang semakin tebal,” tegasnya. (goek)