Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tertinggi, Hasto: Rakyat Lebih Mengapresiasi Politik Santun

JAKARTA – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto menilai hasil survei Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia telah menunjukkan bahwa hoaks tidak memengaruhi elektabilitas pasangan nomor urut 01 itu. Menurut dia, masyarakat lebih mengapresiasi politik tanpa hoaks.

“Rakyat menghargai pemikiran dan tindakan positif. Rakyat lebih mengapresiasi politik santun dan rakyat berpikir kritis serta jernih dan tidak terpengaruh hoaks,” ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/1/2019).

Hasto menuturkan, selama empat bulan masa kampanye, sejumlah hoaks menyerang Jokowi-Ma’ruf. Misalnya, adanya kabar tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos untuk Jokowi-Ma’ruf.

Belum lagi kampanye negatif mengenai pemerintahan Jokowi seperti isu kenaikan harga bahan pokok, pembangunan tol dengan utang, hingga selang cuci darah yang digunakan berulang kali.

Hasto mengatakan masyarakat sudah cerdas dan bisa membedakan hoaks dan fakta. Hoaks yang menyerang Jokowi-Ma’ruf, kata Hasto, justru berdampak pada militansi pendukung.

“Terbukti bahwa hoaks dan fitnah hanya berdampak pada peningkatan militansi parpol dan tim kampanye masing-masing, tetapi tidak memiliki dampak elektoral yang signifikan,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi ini relevan dengan semangat Jokowi yang ingin hijrah dari ujaran kebencian dan kebohongan menuju hal positif. “Selamat tinggal politik hoaks dan fitnah, berpolitiklah dengan cara-cara yang mencerahkan,” ucap Hasto.

Sebelumnya, Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis survei terbaru mengenai elektabilitas pasangan capres-cawapres dalam Pemilihan Presiden 2019, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga.

Berdasarkan survei Indikator, elektabilias Jokowi-Ma’ruf 54,9 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 34,8 persen. “Simulasi dua pasangan nama, Jokowi-Ma’ruf Amin 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga Uno 34,8 persen,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, saat merilis hasil survei di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Sementara sisanya, sebesar 9,2 persen responden belum menentukan pilihan dan 1,1 persen memilih untuk tidak akan memilih di antara keduanya atau golongan putih (golput).

Survei Indikator dilakukan pada 6-16 Desember 2018 dan melibatkan 1.220 responden dengan multistage random sampling di seluruh Indonesia. Metode survei yang digunakan yakni dengan wawancara tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Adapun margin of error rata-rata sebesar plus minus 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. (goek)