Eksklusif Puan Maharani: Meski Anak Megawati, Harus Kerja Keras

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani merasa tidak pernah menjadi anak emas di internal PDIP meski ia merupakan putri dari Megawati Soekarnoputri, sang ketua umum.

“Saya juga harus bekerja keras di partai,” kata Puan kepada tim Tempo.co pada Senin, 26 November 2018 lalu.

Puan mengatakan dia pun harus tetap turun ke bawah untuk menyapa konstituen. Menurut dia, tanpa usah keras dan bertemu konstituen ia tidak akan pernah duduk sebagai anggota DPR.

Puan mengatakan menjadi anak seorang Megawati dan cucu Soekarno merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Tetapi, kata Puan, ia pun tetap harus bekerja untuk meraih sesuatu. Berikut petikan wawancara dengan Puan:

Berdasarkan rilis kepada media capaian Kementerian PMK setiap tahunnya menunjukkan tren positif, namun kenapa Anda memutuskan maju sebagai calon legislatif?

Pertama, menteri adalah hak prerogratif presiden, saya kan enggak bisa berandai-andai apakah kemudian saya akan diberikan amanah di kementerian lagi atau enggak. Kedua, tidak ada hal yang kemudian tidak memperbolehkan menteri menjadi caleg. Ya sudah, selama saya tidak mengganggu kinerja sebagai menteri,

Megawati dalam pidatonya seperti memberi isyarat sudah lelah menjadi Ketua Umum, apakah Anda merasa sedang disiapkan ke arah sana?

Kami belum pernah berbicara soal ini. Saya sampai saat ini juga kan ketua PDIP, salah satu ketua. Namun saya juga ditugaskan sebagai Menteri. Jadi sejauh ini belum ada pembicaraan dan kami punya mekanisme sendiri di partai. Bahwa semua pergantian ketua umum sampai jajaran di pimpinan pusat biasanya kami lakukan setiap kongres. Nah,  kongresnya masih 2020.

Apakah sudah ada persiapan langkah untuk ke sana?

Kalau mau berbicara rekam jejak, saya sudah dari tahun 2007 menjadi pimpinan partai. Kemudian menjadi anggota legislatif. Bahkan sekarang saya di eksekutif. Jika berbicara soal rekam jejak, curiculum vitae atau CV saya yang paling mungkin.

Apakah Anda pernah merasa diistimewakan di PDIP?

Enggak. Saya selalu diminta untuk ke lapangan, turun ke bawah, bertemu masyarakat untuk mengetahui apa yang mereka butuhkan. Saya juga tetap mendengarkan apa yang rakyat mau.

Dulu di DPR ya saya bertemu konstituen yang merupakan struktur partai saya. Salah satu caranya dengan makan di warung, naik becak, naik motor, kongkow-kongkow di warung kopi dan sebagainya.

Sehingga jika ada yang bilang “Anak Bu Mega enak nih ya enggak usah ngapa-ngapain,” itu salah banget. Justru mungkin saya salah satu yang paling ngapa-ngapain kalau harus kerja. Dan saya meyakini itu, enggak mungkin seseorang bisa menjadi pemimpin dan tahu apa yang diinginkan rakyat kalau enggak turun ke bawah.

Jika ditanya capek tidak turun ke bawah, ya saya jawab capek banget, panas banget, keringetan banget. Jadi saya bisa datang sampai tujuh titik, pindah lagi pindah lagi. Para deputi ini sampai bilang, aduh ibu banyak banget satu hari bisa sampai berkali-kali.

Apakah Anda pernah merasa ada beban menjadi anak seorang Megawati dan cucu Soekarno?

Justru itu anugerah buat saya karena enggak semua orang bisa dilahirkan menjadi cucu Bung Karno atau anak dari Megawati. Bahwa saya kemudian punya tanggung jawab yang lebih, ya saya harus menjalani semua itu. Kalau mampu ya dilakukan, kalau enggak ya berusaha dilakukan.

Saya selalu melihat dulu Bung Karno pernah berkali-kali dibuang ke pengasingan dan tetap bertahan bahkan menjadi proklamator. Kemudian kalau saya melihat perjuangan ibu saya, karena saya anaknya saya melihat sendiri, saya selalu menguatkan diri saya, waduh kalau ibu dan kakek saya di zaman itu saja kuat masa saya enggak kuat.

Saya dulu pernah ikut juga waktu ibu saya baru mulai PDI, begitu ke mana-mana itu kami naik bus, mobil yang enggak ada AC, panas banget. Pindah-pindah ke sana kemari. Bahkan pernah juga naik perahu, karena saya anak kecil kan, anak perempuan sendiri, jadi kemana-mana ibu saya sering membawa saya karena enggak ada temennya di rumah. Itu capeknya minta ampun.

Kalau sekarang saya mengeluh karena kelelahan ibu saya selalu bilang, ‘kamu sekarang sudah ada pesawat dulu mamah naik bus naik saja kuat, sekarang kenapa kamu enggak kuat’. Di situ saya, iya bener juga ya malu. Jadi saya harus kuat harus kuat.

Bagaimana tanggapan ibu terhadap orang-orang yang menginginkan kembalinya Orba?

saya enggak berbicara orde lama atau orde baru. Yang penting adalah siapa pun yang mau menjadi pemimpin nasional harus selalu ingat rakyat Indonesia. Jadi enggak Indonesia itu dipisah antara Indonesia dengan rakyat. Jadi siapapun yang punya visi memajukan Indonesia, menyejahterakan rakyatnya, ya silakan saja.

Toh, rakyat yang memilih dengan pemilihan langsung seperti ini. Jadi pasti setiap orde, setiap zaman itu ada kelebihan dan kekurangannya, jadi lebih baik kita melihat yang baik-baiknya saja tanpa kemudian membicarakan yang buruk-buruk karena enggak mungkin dalam setiap kepemimpinan atau setiap masa itu seseorang tidak melakukan kesalahan.

Walaupun di era orde baru PDI lemah secara politik…

Ya tapi kan artinya, dunia berputar. Siapa yang menyangka setelah kemudian dikuyo-kuyo, akhirnya PDIP menjadi partai pemenang pemilu. Artinya rakyat memberikan pilihannya waktu pemilu 1999 itu. Sepuluh tahun di luar pemerintahan siapa yang menyangka PDIP bisa menang lagi, terus punya presiden lagi, enggak ada yang menyangka. Artinya ikhtiar ini harus dilakukan semua orang yang ingin jadi pemimpin, bahwa kita punya pilihan politik. Tapi apa pun yang menjadi pilihan kita untuk Indonesia ke depan. (*)