Dukungan untuk Jokowi-JK Makin Meningkat

Jokowi-Khofifah-Alim Markus-Hasan AJAKARTA – Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendapat tambahan dukungan dari segmen Muslim dan pemilih berpendidikan tinggi pasca penetapan presiden terpilih oleh KPU. Para pemilih tersebut sebelum Pemilu Presiden 9 Juli adalah pendukung pasangan Prabowo-Hatta.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ade Mulyana mengungkapkan, perubahan dukungan itu diketahui dari hasil survei lembaganya baru-baru ini. Dia menyebut ada beberapa penyebab berubahnya dukungan masing-masing kandidat tersebut.

Sesuai exitpoll LSI pada 9 Juli 2014 pukul 14.00, sebut Ade Mulyana, pasangan Prabowo-Hatta unggul dari Jokowi-JK pada segmen pemilih Muslim dan pemilih berpendidikan tinggi yang umumnya tinggal di perkotaan. Setelah penetapan resmi KPU, pemilih di segmen tersebut beralih dan banyak yang mendukung Jokowi-JK.

Ade memaparkan, sesuai exitpoll LSI 9 Juli, Prabowo-Hatta memeroleh dukungan pada segmen pemilih Muslim sebesar 52,01 persen. Tapi kini dukungan dari segmen itu menurun menjadi 34,20 persen. Sedangkan untuk Jokowi, pada 9 Juli mendapat dukungan 47,99 persen dari pemilih Muslim, saat ini jumlahnya meningkat menjadi 52,17 persen.

Dalam survei tersebut juga diketahui penyebab perubahan jumlah dukungan untuk Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK, yaitu sikap masing-masing kandidat setelah KPU menetapkan hasil resminya. Pemilih Prabowo-Hatta, jelas Ade, memberikan persepsi negatif karena pasangan ini tak legawa menerima penetapan KPU.

“Di sisi lain, Jokowi-JK terlihat lebih santun dalam merespons hasil resmi KPU dan merespons gugatan Prabowo-Hatta,” kata Ade, di kantor LSI, Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Secara umum, kata Ade, dukungan untuk Prabowo-Hatta saat ini hanya sekitar 30,39 persen, sementara dukungan untuk Jokowi-JK mencapai 57,06 persen. Ade yakin, perolehan suara itu tak akan berbeda jauh jika pemungutan suara ulang (PSU) dilakukan pada saat ini.

“Justru dukungan terhadap Jokowi yang makin menguat meski ada responden yang tidak menjawab sebesar 12,55 persen,” ujarnya.

Ade menuturkan, penurunan dan peningkatan dukungan itu terjadi dibandingkan dengan perolehan suara resmi yang telah ditetapkan KPU. Dalam keputusan KPU, Prabowo-Hatta mendapat suara sebesar 46,85 persen, sementara Jokowi-JK mendapat 53,15 persen.

Dalam survei tersebut juga diketahui dua penyebab menurunnya dukungan untuk Prabowo-Hatta. Pertama, karakter pemilih Prabowo-Hatta yang ragu-ragu dan mudah mengubah pilihannya. Kedua, turunnya pamor Prabowo yang tidak legawa menerima hasil penghitungan KPU.

“Pemilih Prabowo yang ragu-ragu umumnya berada di daerah perkotaan dengan tingkat pendidikan yang baik. Mereka lebih percaya hasil KPU,” ujarnya.

Survei LSI dilakukan pada 4-6 Agustus 2014. Metode yang digunakan adalah quickpoll dengan 1.200 responden dari seluruh Indonesia dan menggunakan multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,9 persen. (pri/*)