Dukungan Alumni-alumni ke Jokowi untuk Tangkal Hoaks dan Fitnah

JAKARTA — Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir, mengatakan, berita bohong dan fitnah yang dialamatkan kepada kubunya semakin banyak menjelang pelaksanaan Pilpres 2019.

Meski demikian, Erick mengatakan, konten negatif itu dapat dilawan dengan gerakan sosial yang beberapa waktu terakhir semakin membesar, yakni dukungan alumni sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi di Indonesia.

“Sekarang, gerakan kaum pintar dan intelektual, dari alumni-alumni, sudah bergerak. Mereka ini gelisah. Negara kita yang hebat ini mau dipecah belah. Bahkan punah. Dukungan mereka adalah jawaban kegelisahan,” ujar Erick saat dijumpai di Pullman Hotel, Jakarta Barat, Senin (11/2/2019) malam.

Diketahui, sejumlah alumni yang sudah mendeklarasikan mendukung Jokowi-Ma’ruf, antara lain alumni Universitas Indonesia, alumni Universitas Trisakti, alumni SMA Pangudi Luhur, alumni Institut Kesenian Jakarta, Jaringan Alumni Mesir-Indonesia, serta alumni SMA se-Jakarta dan sejumlah universitas negeri/swasta di Indonesia.

Erick menambahkan, sejumlah alumni universitas juga sudah berencana melakukan deklarasi dan sudah berkomunikasi dengan TKN.

Saking banyaknya alumni universitas yang ingin melakukan deklarasi, TKN mengaku sampai kewalahan mengakomodasinya.

“Nanti di Bandung juga akan melakukan deklarasi. Kami sekarang sudah mulai kewalahan. Tapi ini bagus kok, kalau dulu (Pilpres 2014) ada yang namanya relawan, sekarang ada pergerakan baru alumni. Gerakan intelektual muda yang peduli bangsa ini tidak boleh terpecah belah,” ujar Erick.

Soal hoaks, capres nomor urut 01 Jokowi selalu menyampaikan kepada masyarakat bahwa ia ‘diserang’ dengan isu miring. Beberapa isu yang dialamatkan kepadanya antara lain Jokowi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), Jokowi disebut antek asing, Jokowi disebut antek China, dan Jokowi melakukan kriminalisasi terhadap ulama, serta anti-Islam.

Jokowi menyayangkan atas pihak-pihak yang menggunakan cara berpolitik demikian. Ia juga heran mengapa masih ada masyarakat yang percaya isu tersebut meski dinilainya tidak masuk logika. (kompas)