DPR Dorong Riset Rempah sebagai Obat Covid-19

JAKARTA – Satgas Lawan Covid-19 DPR RI mendorong semua pihak, terutama pemerintah, untuk menggali manfaat rempah-rempah dan tanaman herbal sebagai penawar virus Corona (Covid-19).

Kekayaan Ibu Pertiwi yang berlimpah itu tentu menyimpan banyak khasiat yang dapat menekan laju penyebaran Covid-19.

“Satgas memandang kekayaan alam Indonesia, seperti rempah-rempah berikut studinya, untuk mendapatkan formula tepat sebagai antibodi, bahkan obat atau vaksin Covid-19,” kata Deputi Penerangan Masyarakat Satgas Covid-19 DPR, Arteria Dahlan, Senin (27/4/2020).

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini berpendapat, pemanfaatan tanaman herbal dan rempah-rempah harus mengedepankan penelitian dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Hal itu selaras dengan semangat PDIP yang bertekad mengembalikan budaya rempah-rempah.

“Sebagai info, jauh sebelum hadirnya pandemi Covid-19, PDI Perjuangan dalam Rakernas 10 Januari 2020 telah mempunyai tekad menggunakan jalur budaya dalam politik perjuangan Partai guna mengembalikan kembali kejayaan jalur rempah, yang pada waktu itu menentukan Indonesia sebagai penentu dalam perdagangan internasional,” ungkapnya.

Menurut dia, sejauh ini terdapat beberapa temuan dari tangan putra-putri bangsa yang menggali akal dan sumber daya di Tanah Air. Dalam hal ini untuk mendapatkan obat, penawar serta formula, untuk mempercepat penyembuhan dan antivirus.

“Ini harus kita dukung, kita endorse, obat-obatan yang kita hasilkan tidak kalah dari negara lain,” tandas Arteria.

Sementara itu, Satgas Lawan Covid-19 DPR RI secara umum melihat RS-RS rujukan telah menjalankan tugasnya dalam penanganan pandemi Covid-19 sesuai dengan kemampuan terbaiknya.

Permasalahannya, kata Arteria, penetapan berbagai RS tersebut dilakukan dalam situasi yang tidak ideal dan dalam situasi kedaruratan kesehatan sehingga harus diakui masih terdapat kekurangan.

“Yang utamanya adalah RS-RS dan tenaga medis serta tenaga kesehatan tersebut semuanya memperlihatkan semangat yang sama untuk perang melawan Covid-19 dan berusaha untuk memberikan pelayan yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya dan sarana dan prasarana yang tersedia. So far semua berjalan secara profesional, sebagaimana sumpah jabatan dan profesi mereka berupaya memberikan pelayanan yang terbaik tanpa membeda-bedakan kelas sosial,” ujarnya.

Berkenaan dengan distribusi dan ketersediaan APD, Arteria menjelaskan ventilator dan alat kesehatan serta penunjang penanganan medis di RS-RS rujukan sejauh ini selalu berpacu dengan kebutuhan.

“Alhamdulillah selama ini jumlahnya masih tercukupi, Satgas sangat berterima kasih pada seluruh elemen masyarakat yang secara gotong royong saling membantu di dalam menghadapi pandemi ini,” ucap Arteria.

Sehingga, ujarnya, ketersediaan APD dalam standar mencukupi minimal hingga masa tanggap darurat insya Allah telah tersedia dan memadai.

“Saat ini terlihat karakter ke-Indonesiaan kita, semua elemen mulai dari pemerintah pusat, daerah provinsi dan kabupaten kota, BUMN BUMN dan BUMD, kementrian/lembaga dan instansi vertikal lainnya bahkan pemerintahan desa sekalipun dan seluruh elemen masyarakat terlihat solid bergerak untuk mensupport kerja kerja Gugus Tugas dan Pemerintah,” jelas dia.

Arteria menjelaskan Satgas berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang memfasilitasi:

(i) ketersediaan informasi yang akurat tentang situasi penangan Covid-19 saat ini yang kita up date dari wakyu ke waktu dan dapat diakses publik melalui satgaslawancovid19.com,

(ii) memastikan ketersediaan obat-obatan, APD dan alat kesehatan serta ketersedian sumber daya manusia kedaruratan kesehatan pada setiap RS-RS rujukan dan

(iii) ketersediaan jaring pengaman sosial bagi daerah-daerah yang terdampak langsung dengan kebijakan kedaruratan yang diambil.

“Jadi sangat memungkinkan sekali bagi Satgas untuk mendorong pemerintah dan Gugus Tugas Nasional di bawah BNPB untuk memproduksi alat kesehatan maupun secara nasional guna memastikan ketahanan kebutuhan akan stock APD. Sekalipun demikian, kita tidak boleh menutup diri seandainya ada kebutuhan mendesak, kita dapat saja meminta percepatan dengan cara impor,” urainya. (goek)