Diplomasi Blak-blakan ala Jokowi

pdip jatim - diplomasi blak-blakan jokowiLAWATAN perdana Presiden Joko Widodo ke tiga negara yang berakhir Minggu (16/11) boleh dibilang menjadi batu ujian baginya untuk tampil di kancah internasional. Jokowi hadir di forum KTT APEC di Beijing (Tiongkok), KTT ASEAN di Naypyidaw (Myanmar), dan KTT G20 di Brisbane (Australia). Tiga forum itu cukup prestisius dan strategis.

Mengawali kunjungannya di Beijing, Jokowi langsung memenuhi undangan tuan rumah. Dua pimpinan puncak Tiongkok ditemuinya secara terpisah, yakni Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang.

Dengan tanpa banyak basa-basi, Jokowi langsung meminta negara dengan ekonomi terbesar dunia itu berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur pelabuhan, rel kereta api, jalan tol, dan pembangkit listrik di Indonesia. Jokowi juga minta agar Asian Infrastructure Investment Bank yang 50 persen sahamnya dimiliki Tiongkok dan beranggotakan 20 negara dapat berkantor pusat di Indonesia. Permintaan seperti itu tergolong tak lazim disampaikan langsung oleh seorang kepala negara.

Hari berikutnya, Jokowi berbicara di hadapan 500 pemimpin perusahaan terkemuka, forum APEC CEO Summit. Di forum itu, dia mempresentasikan peluang investasi pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia usaha, Jokowi tampak memahami keinginan pengusaha. Ia tidak berpidato menggunakan teks, tetapi menyampaikan presentasi selama 15 menit dalam bahasa Inggris dan memanfaatkan slide layar lebar. Lagi-lagi, yang ditawarkan adalah peluang investasi di bidang infrastruktur pelabuhan, rel kereta api, jalan tol, dan pembangkit listrik.

Cara Jokowi berbicara di forum CEO APEC berbeda dengan pemimpin negara lain yang pada umumnya berpidato memakai teks dan lebih mengumbar persoalan ekonomi global. Mereka yang hadir di forum itu menyebut, materi yang disampaikan Jokowi sebagai simple english, straight to the point.

Cara presentasi Jokowi ini mendapatkan apresiasi. Saat Jokowi selesai presentasi, pebisnis yang hadir di forum itu langsung berdiri dan bertepuk tangan. Jokowi pun turun dari panggung dan menghampiri para CEO itu. Spontan mereka mengerubuti dan menyalami Jokowi, sebagian malah meminta berfoto selfie dengan Jokowi.

Seusai berbicara di forum CEO APEC, Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan tiga pemimpin negara, yaitu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden AS Barack Obama, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Lagi-lagi Jokowi meminta mereka berinvestasi membangun infrastruktur di Indonesia.

“Saya, kan, blak-blakan, sampai mereka kaget, kata Jokowi sambil tertawa. Saya mintanya to the point, enggak belok-belok,” lanjutnya.

Fokus pada tujuan menjadi ciri Jokowi. Dalam setiap diplomasi yang dilakukan, dia selalu meminta pihak luar ikut berpartisipasi membangun infrastruktur pelabuhan, jalan, kereta api, dan pembangkit. Ini karena ia sadar, anggaran negara tidak cukup untuk mendanai proyek itu. Lantas mengapa harus infrastruktur? Ini karena pembangunan infrastruktur merupakan kunci untuk melakukan lompatan pertumbuhan ekonomi bagi kesejahteraan rakyat.

Jokowi punya mimpi, jika infrastruktur terbangun, industri di Tanah Air akan berkembang dan konektivitas antarpulau terjalin baik. Dengan demikian, rakyat seperti di Papua dan Kalimantan tidak perlu lagi membeli barang dengan harga jauh lebih mahal dari rakyat di Jawa.

Saat bertemu dengan para pemimpin negara adidaya, Jokowi merasakan tarikan kepentingan dari mereka. Ia sadar, Indonesia selalu jadi rebutan. Ia juga paham, konstitusi Indonesia telah menggariskan haluan politik luar negeri bebas aktif.

“Saya mau mencari kawan siapa pun boleh dong. Mau di sini, mau di sana (boleh), tapi dengan catatan kepentingan nasional, kepentingan rakyat kita, harus nomor satu,” katanya.

Seberapa jauh diplomasi blak-blakan ini berhasil di pergaulan dunia dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat? Kita lihat babak selanjutnya. (Wahyu Haryo)

Sumber: Kompas