Diklat Kader Pratama di Ponorogo Kental Nuansa Religinya

PONOROGO – Kepala Badiklat DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bambang Juwono mengatakan, sampai sekarang pendidikan kader pratama di Jatim sudah mencapai 13 angkatan.

Diklat tingkat pratama yang terakhir, berlangsung di Ponorogo yang digelar DPC PDI Perjuangan setempat pada 10-12 November 2017 akhir pekan lalu.

Menurut Logos, sapaan Bambang Juwono, diklat tingkat pratama ini adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya kader Partai.

Pria yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini menjelaskan, peserta diklat pratama mendapatkan beberapa materi yang penting bagi seorang kader.

Seperti materi ideologi, metode berpikir Bung Karno, AD/ART Partai, trisakti dan revolusi mental, analisis sosial, gerakan koperasi dan dinamika kelompok untuk membangun kekompakan maupun gotong royong.

“Namun materi yang terpenting adalah ideologi PDI Perjuangan. Jadi Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 45 yang jiwa semangatnya sebagaimana pidato Bung Karno 1 Juni 1945,” kata Logos, kemarin.

Baca: Tiga Hari, Peserta Diklat Kader Pratama DPC Trenggalek Tinggal di Rumah Warga

Sebagai partai ideologi dalam era modern, tambah Logos, kader harus berpegang teguh pada AD/ART Partai, serta harus memiliki disiplin tinggi. Gerakannya juga harus berorientasi serta bermuara untuk kesejahteraan rakyat.

“Dengan diklat pratama kami berharap kader PDI Perjuangan punya pengetahuan mumpuni dan memiliki keterampilan politik yang baik. Sehingga nantinya mampu menjadi sosok kader yang bisa menjalankan tugas partai. Mewujudkan cita-cita partai sesuai ideologi pancasila 1 Juni Bung Karno,” terang dia.

Pria yang juga Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPD PDIP Jatim ini menambahkan, selama diklat, peserta dituntut memahami, menghayati dan mempraktikkan materi yang dipaparkan narasumber. “Karena merekalah nanti yang menjadi ujung tombak PDI Perjuangan,” ujarnya.

Sementara itu, Pendidikan Kader Pratama Badiklatcab PDI Perjuangan Ponorogo digelar di lingkungan Pondok Pesantren Dipokerti, Desa Coper, Kecamatan Jetis.

Nuansa religi terlihat dengan dipasangnya sejumlah spanduk yang berisi foto dan fatwa dari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari.

Ketua DPC PDI Perjuangan Ponorogo Agus Widodo mengatakan, diklat pratama di Kota Reyog ini sengaja dilaksanakan di lingkungan pondok pesantren. Saat pembukaan ada pembacaan ayat suci Alquran dan fatwa dari KH Hasyim As’ari.

Baca juga: “Jadikan ideologi PDI Perjuangan sebagai Working Ideology”

“Ini penting agar aroma Islaminya bisa menyatu. Meski abangan namun PDI Perjuangan tetap religius,” terang Agus.

Adapun narasumber selama diklat, di antaranya H Sirmadji Tjondropragolo dari Badiklatpus DPP PDI Perjuangan.

Sedang Kepala Badiklatcab PDI Perjuangan Ponorogo Agus Dermawan mengatakan, pelatihan kader diikuti 61 peserta. Menurutnya, diklat pratama ini sesuai dengan instruksi DPP PDI Perjuangan agar seluruh jajaran DPD sampai DPC menggelar diklat kader partai.

Salah satu tujuan diklat pratama ini, sebut Agus, adalah agar peserta bisa berpikir kritis dinamis ala Bung Karno yakni dialektika. “Ada tesa, antitesa dan sintesa. Ada masalah, tanggapan dan kesimpulan,” urainya.

Peserta juga ditanamkan cara berpikir praktis dan dinamis serta mampu menganalisa berdasarkan analisa SWOT. “Semua dikupas habis sehingga ke depan kader partai tidak mudah grogi menghadapi permasalahan di lapangan,” tegasnya. (goek)