Di depan Milenial, Eva: Bayar Pajak adalah Bentuk Gotong Royong Mencapai Tujuan Negara

KEDIRI – Anggota Komisi XI DPR dari PDI Perjuangan, Eva Sundari melakukan terobosan dengan melakukan sosialisasi APBN dan Pajak kepada para millenial di Kediri, Selasa (6/2/2019).

Bertempat di Aula Madrasah Aliyah Sejahtera, Pare, Kediri, perempuan yang pernah menjadi dosen di Universitas Airlangga tersebut memaparkan masalah pembiayaan pembangunan dengan analogi-analogi keseharian kepada 50 audiens.

Menurut Eva, tujuan bernegara harus diwujudkan bersama, antara rakyat dan pemerintah, sementara anggota DPR dan BPK mengawasi proses tersebut agar memenuhi prinsip-prinsip akuntabilitas.

Proses mewujudkan kesejahteraan dimulai dengan menyusun kebutuhan-kebutuhan di musrenbang-musrenbang dan penyusunan pembiayaannya di APBN (pendapatan dan pengeluarannya) di DPR. Proses yang sama dilakukan di pemerintah daerah bersama DPRD.

Sumber pendapatan terbesar adalah dari kontribusi rakyat sendiri yaitu pajak, baru PNBP dan Hibah. “Jadi, membayar pajak adalah bentuk gotong royong untuk mencapai tujuan negara termasuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, kesehatan, termasuk bersodaqoh melalui program perlindungan sosial,” kata Eva.

Turut hadir Agung Subhan, Kepala Kantor Perwakilan Pajak Pare yang menjelaskan bahwa basis pembayar pajak atau tax base di Indonesia masih sangat rendah, karena dari seluruh penduduk, saat sebelum tax amnesty jumlah yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) hanya 32 juta orang (11% penduduk).

“Dari jumlah itu hanya 22 juta orang yang menyerahkan kembali Surat Pemberitahuan Tahunan atau SPT, tetapi 40 sampai 50 persen, SPT-nya nihil,” jelas Agung.

Dia memberikan apreasiasi luar biasa atas kegiatan yang terselenggara tersebut. “Kami siap mendukung penuh kegiatan semacam ini. Kami berharap kegiatan penyadaran tentang pentingnya pajak bagi pelajar sebagai upaya dini seperti ini bisa dilaksanakan juga di sekolah-sekolah lain,” tambah Agung.

Suasana jadi hangat ketika dalam diskusi ada mahasiswa yang bertanya tentang utang. Banyak peserta yang mengaku pernah utang karena kiriman ortu tidak cukup. Ada utang untuk beli sabun mandi, tapi ada yang utang untuk biaya penerbitan bukunya.

“Mengapa orang mau kasih utang? Karena mereka percaya kemampuan kita untuk mengembalikan bukan? Apalagi memberikan pinjaman untuk kegiatan produktif seperti penerbitan buku,” jelas Eva Sundari.

Peserta menjadi heboh saat diadakan kuis lomba cipta tagline pajak. Mereka sangat kreatif mengolah bahasa.

“Bangsa pintar, pajaknya lancar”

“Pajak teratur, rakyatnya makmur”

“Tepati pajakmu, sadaqoh slalu dihatimu”

“Pajakku masa depanku, negaraku dan anak cucuku”

“Tak membayar pajak, kita bagai budak”

“Bayar pajakmu, Indonesia maju”

“Jika kau peduli, bayar pajak adalah solusi”

“Milenal berkarya, bayarlah pajak bangsa”

Sementara itu, Ketua Yayasan Islam Sejahtera Pare Kabupaten Kediri, Moh Qomar, M.Pd menyambut gembira adanya diskusi mengenai APBN dan pajak untuk para pelajar. Sebab kegiatan ini sejalan dengan misi yayasan dalam membangun karakter siswa untuk bertanggung jawab dan mencintai bangsa.

“Tadi ada tagline yang bagus usulan siswa terkait hubbul wathani minal iman. Membayar pajak adalah cinta tanah air, jadi juga bagian dari keimanan,” kata Moh Qomar.

Dia pun mengusulkan supaya kantor pajak setempat melembagakan kerjasama dengan sekolah-sekolah sekitar Kediri untuk melakukan sosialisasi yang sama.

Eva Sundari mendukung karena pendidikan tentang APBN dan pajak bisa menjadi bagian pendidikan kewarganegaraan selain mencerdaskan siswa karena siswa dibiasakan untuk menggunakan logika dan data. (guh)