Dewanti: Mengolah Hasil Pertanian Bisa Meningkatkan Nilai Tambah

pdip jatim - dewanti blusukan 03MALANG – Calon Bupati Malang Dewanti Rumpoko menyayangkan hasil produksi pertanian selama ini banyak yang langsung dijual untuk bahan baku di sejumlah pabrik di daerah lain. Sebab hal itu tidak bisa meningkatkan nilai tambah atas komoditas pertanian milik petani Kabupaten Malang.

Dewanti mencontohkan ketela pohon, yang puluhan hingga ratusan ton ketela pohon hasil panen petani Kabupaten Malang, dijual ke Kota Malang maupun Surabaya dan sekitarnya. Padahal ketela pohon merupakan bahan baku tepung tapioka, keripik dan kerupuk.

“Banyak produk pertanian yang bisa diolah sebagai barang setengah jadi, atau produk makanan yang tentu akan meningkatkan nilai produk dari ketela pohon tersebut,” kata Dewanti Rumpoko, saat meninjau tempat pengupasan ketela pohon di Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Selasa (8/9/2015).

Dijelaskan, ada banyak tempat pengupasan ketela pohon yang mempekerjakan ratusan ibu-ibu. “Mereka hanya mendapat upah sangat murah yaitu Rp 8.000 per kuintal. Paling-paling mereka mendapat upah maksimal Rp 40.000,” ujarnya.

Upah yang murah ini, jelas Dewanti, karena pemiliknya hanya menjual begitu saja ketela yang telah dikupas. “Coba kalau diolah menjadi produk makanan, atau tepung tapioka, tentu akan memiliki nilai jual tinggi. Pemilik usaha bisa memberi upah lebih tinggi kepada pekerjanya,” jelas calon bupati yang diusung PDI Perjuangan tersebut.

pdip jatim - dewanti blusukan 02Sehari sebelumnya, Dewanti juga menyapa masyarakat Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Di Dau, Dewanti juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan masyarakat Pedukuhan Semanding, Desa Sumbersekar.

Program sobo kampung ini untuk menjelaskan visi dan misi pasangan calon bupati Dewanti Rumpoko yang berpasangan dengan calon wakil bupati Masrifah

Saat di Mulyoagung, masyarakat setempat mengharapkan Dewanti Rumpoko bisa menyukseskan pendidikan wajib belajar 12 tahun secara gratis. “Kami menginginkan pendidikan yang benar benar gratis, dari SD, SMP, sampai SMA,” kata Ayu, seorang warga yang juga anggota Koperasi Persaudaraan Perempuan Amanah (PPA).

Selain itu, dia juga mengaku senang, dengan Dewanti yang langsung merespon keluhannya, saat menyampaikan melalui media sosial. “Pernah saya tweet, tak lama kemudian oleh ibu dibales,” ungkapnya. (sa)