oleh

Dewanti: Gedung Pancasila Balai Kota Batu Gratis untuk Hajatan

KOTA BATU – Wali Kota Batu Terpilih Dewanti Rumpoko mengatakan, Gedung Pancasila di Balai Kota Among Tani bisa dimanfaatkan warga Kota Batu sebagai tempat hajatan.

Jaminan gratis ini langsung disampaikan Dewanti Rumpoko, saat di Gedung Pancasila Balai Kota Among Tani, kemarin.

Di hadapan ratusan alumni Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan Malang Raya, Dewanti panjang lebar menjelaskan sejarah berdirinya Balai Kota Among Tani.

Menurutnya, gedung yang bisa menampung .2000 orang itu telah dibangun selama 5 tahun. Sampai saat ini, Balai Kota Among Tani erta baru digunakan lebih dari satu tahun selama kepemimpinan Wali Kota Eddy Rumpoko.

Perempuan yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini juga menjelaskan Balai Kota Among Tani dibangun murni menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batu. Tanpa bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari pemerintah pusat.

“Dinamakan Among Tani, karena sebagian besar penduduknya berpenghasilan dari tani, dan pajak dari tani. Dan gedung ini gratis digunakan. Kalau tidak puasa biasanya dibuat manten, sunat, dan keperluan pribadi secara gratis,” ujar Dewanti.

Dia menambahkan, di Balai Kota Among Tani juga disediakan ruang rapat untuk organisasi secara gratis, karena konsepnya ini adalah milik kita bersama. Bahkan banyak organisasi luar kota meminjam gedung ini.

“Tujuannya, biarpun gedungnya gratis kan kalau mereka lapar akan beli jajan di restoran, di warung-warung di Kota Batu, dan manfaatnya juga akan langsung dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Soal Balai Kota Among Tani ini, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko (ER) sebelumnya menjelaskan, saat pertama kali digunakan, gedung Balai Kota Among Tani masih dikenal dengan nama Block office.

Meskipun gedung belum selesai dibangun 100 persen, namun telah dipergunakan oleh aparatur pemerintah kota Batu.

Lahan yang digunakan Balaikota Among Tani saat ini, kata ER, merupakan lahan mangkrak. Sekitar tahun 1980-an, pembangunan sebuah hotel di atas lahan tersebut mangkrak lantaran krisis ekonomi yang melanda kala itu.

“Saya inginkan pembangunan terwujud, baik bangunan milik swasta ataupun pemerintah yang terbengkalai. Agar terwujud dan mendukung sebagai kota wisata semua bangunan mangkrak harus dibangun,” jelas ER.

Sebelum dibangun menjadi Among Tani, lahan mangkrak tersebut dahulunya sempat ditawarkan ER kepada Jatim Park, Trans Studio, dan Ciputra. Sayangnya, saat itu mereka masih belum mau dan tertarik untuk berinvestasi di kota Batu. (goek)

rekening gotong royong