oleh

Dewan Sebut Kondisi Ini yang Sulitkan untuk Menekan Covid-19 di Surabaya

SURABAYA – Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Baktiono menilai padatnya permukiman dan juga fasilitas kebersihan yang digunakan beberapa keluarga secara bersamaan, menciptakan kondisi menyulitkan untuk menekan penyebaran Covid-19 di Kota Pahlawan.

“Jadi, satu MCK (mandi, cuci, kakus) digunakan beberapa kepala keluarga. Nah di situ kalau ada warga yang memang terinfeksi Covid-19 itu mudah untuk terjadinya penularan. Jadi memang untuk di Kota Surabaya ini tidak semudah yang kita bayangkan,” kata Baktiono, Rabu (3/6/2020).

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya itu menjelaskan bahwa penanganan setempat kini berfokus pada pemberdayaan pada tingkat komunitas demi meningkatkan efektivitas penanganan.

“Di setiap RW sekarang ini kan sudah dibentuk ‘Kampung Wani (Berani)’ untuk melawan Covid ini. Mereka sudah yang mengisolasi kampungnya sendiri-sendiri. Jadi kalau ada warga yang masuk kampung, itu ada desinfektan seperti sprayer , ada juga alat untuk cuci tangan,” tutur Baktiono.

Namun, ia mengatakan bahwa pergerakan tiap warga juga tidak bisa dipastikan sehingga masih rentan terjadi penularan.

Sementara itu, juru bicara pemerintah untuk pengendalian Covid-19, Achmad Yurianto dalam laporan harian kasus pada Rabu (3/6/2020), mengungkap bahwa sumber penambahan kasus baru terbanyak berasal dari Jawa Timur.

“Dari pemeriksaan ini, kita mendapatkan kasus konfirmasi positif sebanyak 684, sehingga jumlah totalnya menjadi 28.233. Kalau kemudian kita breakdown lebih lanjut, maka sekarang ini jumlah tertinggi kita dapatkan dari hasil pemeriksaan di Jawa Timur, sebanyak 183, meskipun dibanding dengan kemarin, ini ada penurunan,” kata Yurianto saat konferensi pers.

Data pada Rabu (3/6/2020), Jatim mencatat 5.318 total kasus dan 429 kematian.

Lebih dari setengah kasus di seluruh provinsi Jatim terpusat di Surabaya. Kota yang berpenduduk sekitar tiga juta jiwa itu mencatat 2.748 total kasus kumulatif dan 253 kematian. (goek)

rekening gotong royong