Dewan Dukung Surabaya sebagai Pusat Rujukan Penyakit Saraf

image

SURABAYA – DPRD Kota Surabaya mengapresiasi komitmen dokter-dokter spesialis bedah saraf untuk menjadikan Kota Pahlawan sebagai pusat rujukan penyakit-penyakit saraf, termasuk stroke.
Apresiasi dan dukungan disampaikan pimpinan dan anggota Komisi D saat mendengar paparan dokter-dokter ahli bedah saraf yang tergabung dalam Surabaya Neuroscience Institute (Snei) di ruang Komisi D, Selasa (28/4/2015).

“Kami berterima kasih atas kedatangan para dokter spesialis bedah sarah di Komisi D. Penjelasan para dokter ini membuka mata kita, bahwa masyarakat tidak perlu menghambur-hamburkan uang untuk penyembuhan stroke atau penyakit saraf lainnya dengan berobat ke luar negeri, seperti ke Singapura. Sebab di Surabaya saja ternyata sangat bisa,” kata Ketua Komisi D, Agustin Poliana.

Komisi D yang membidangi kesejahteraan rakyat, jelas Agustin Poliana, sangat peduli dengan kesehatan masyarakat, khususnya bagi warga Kota Surabaya. Setelah mendengar paparan dari Snei, ujar dia, membuktikan bahwa di Surabaya SDM paramedis di bidang bedah saraf sudah banyak, dan tidak kalah dengan dokter-dokter luar negeri di bidang yang sama.

“Bahkan keahliannya malah lebih bagus dokter bedah saraf di sini. Hanya alat medisnya tidak mendukung, seperti alat pencuci darah, peralatan bedah otak, dan lainnya. Alat-alat medis yang sangat dibutuhkan masyarakat itu belum ada di rumah sakit milik Pemkot Surabaya, dan kalau sudah ada pun jumlah kurang memadai,” ujar Titin, sapaan Agustin Poliana.

Sebenarnya, lanjut politisi PDI Perjuangan itu, Komisi D kerap mengajukan anggaran untuk pengadaan alat medis, seperti alat cuci darah. Namun, ungkap Titin, pengajuan anggaran itu selalu ditolak pemkot, dengan alasan tidak ada tempat di RS-RS milik pemkot.

“Kita akan berkoordinasi dengan pemkot, dalam hal ini dinas kesehatan. Bahwa kita menganggarkan peralatan kesehatan itu semata-mata untuk warga kota. Sehingga tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar negeri,” ucap Titin.

Pihaknya berkomitmen untuk menjembatani aspirasi para ahli bedah saraf. “Dalam hal dukungan fasilitas, dengan APBD Rp 7,3 triliun, harusnya Pemkot Surabaya bisa mendukung,” tegasnya.

Sementara itu, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi D, dr Eko Agus Subagio dari Snei mengungkapkan, saat ini dokter-dokter bedah saraf di Surabaya dalam posisi siap bersaing dengan dokter-dokter dari negara lain.
Dia menggambarkan, Snei yang menaungi 19 ahli bedah saraf telah memiliki sejumlah anggota dengan reputasi internasional. Ia mencontohkan, salah satu anggot Snei, dr Achmad Fahmi, merupakan satu-satunya pakar parkinson di Asia Tenggara.

Ke-19 ahli bedah saraf yang saat ini bergabung di dalam Snei, menurut Eko, tersebar di 18 rumah sakit di Surabaya yang berafiliasi dengan Snei. “Pelayanan kesehatan di dalam negeri, khususnya di Surabaya kini tidak kalah dibandingkan dengan luar negeri. Di Surabaya juga banyak rumah sakit yang telah memiliki alat-alat canggih,” ujar Eko.

Ahli bedah saraf Snei, dr Asra Al Fauzi menyampaikan, saat ini ahli bedah saraf di Surabaya membutuhkan sinergi dan dukungan pemerintah setempat. Dukungan itu, menurut Asra, terutama dalam mempromosikan kesehatan bagi masyarakat dan penyediaan fasilitas kesehatan.
Menurut Asra, salah satu penyakit saraf yang saat ini paling luas diderita masyarakat adalah stroke. Ia menggambarkan, stroke telah menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia, mengalahkan penyakit jantung dan kanker.

“Setiap satu dari seratus orang di Indonesia berpotensi terkena serangan stroke,” ungkapnya.

Untuk itu, menurut Asra, pemerintah harus memberikan edukasi dini terhadap masyarakat soal stroke. Pasalnya, menurut Asra, selama ini, hampir semua pasien stroke yang dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi terlambat.

Terkait dengan fasilitas, menurut Asra, teknologi bedah saraf lebih banyak dimiliki rumah sakit swasta. Untuk rumah sakit pemerintah sendiri, menurut dia, baru tersedia di RSUD dr Sutomo, yang kini sudah sangat kelebihan pasien.

Pihaknya brharap, Pemkot Surabaya dapat menambah alat berupa CT Scan dan MRI di rumah sakit pemerintah daerah lainnya, yakni RS Soewandi dan RS Bhakti Dharma Husada. (goek)