Cita-cita Pancasila Bung Karno Tak Mudah Diwujudkan

ilustrasi artikel Mental PancasilaBLITAR – Cita-cita untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila tidak mudah. Upaya untuk mewujudkannya perlu perjuangan panjang dan sulit. Hal inilah yang terus-menerus dilakukan sejak negara Republik Indonesia berdiri.

Presiden Joko Widodo mengatakan, tidak ada dasar negara yang menjelma menjadi realitas tanpa ada perjuangan. “Dengan berdirinya republik ini, tidak berarti sebagai akhir perjuangan, justru pada saat itu kita baru memulai perjuangan,” kata Presiden di hadapan massa yang memadati Alun-alun Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6).

Presiden di Blitar dalam rangka peringatan kari lahirnya Pancasila. Upacara yang disebut Grebek Pancasila itu dimulai pukul 09.30 dan berakhir pukul 11.00.

Menurut Presiden, perjuangan untuk mewujudkan cita-cita itu bukanlah jalan yang mudah. Namun, perjuangan itu dilakukan melalui jalan yang panjang dan mendaki. Medan perjuangan inilah yang mengharuskan semua elemen bangsa tidak boleh berhenti berbuat untuk mewujudkan Pancasila sebagai realitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Presiden berpendapat, dalam menempuh perjuangan itu, bangsa Indonesia harus mempunyai modal persatuan yang kuat. Negara ini, kata Presiden, bukan sebuah negara yang dibangun untuk satu golongan ataupun beberapa kelompok saja, republik ini memerlukan persatuan, kebersamaan, dan gotong royong semua elemen bangsa.

Modal berikutnya adalah keberanian menjebol mentalitas lama dan kemudian membangun mentalitas baru. Jokowi selanjutnya mengutip pernyataan Bung Karno, “Pergerakan kita janganlah yang kecil-kecilan, tetapi perjuangan kita haruslah menjebol pesakitan-pesakitan masyarakat sampai ke sulur-sulurnya, sampai ke akar-akarnya,” katanya.

Jokowi yakin, perjuangan mewujudkan cita-cita Pancasila itu berhadapan dengan bertahannya mentalitas, mulai dari mentalitas kolonial hingga feodal. Mental ini membuat bangsa Indonesia berada dalam keterjajahan dan ketidakadilan. Seluruh elemen bangsa, katanya, harus terus berjuang menjebol mentalitas lama, lalu membangun mentalitas baru.

Setiap elemen masyarakat memiliki kewajiban moral dan ideologis untuk menjaga kehormatan nilai-nilai Pancasila. Dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, segenap warga negara Indonesia didorong menempatkan Pancasila pada tempat yang seharusnya, sebagai ideologi dan dasar negara.

“Kegiatan (sosialisasi implementasi nilai-nilai Pancasila) itu penting agar bangsa kita tidak mengalami amnesia sejarah terhadap nilai-nilai luhur bangsa,” kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dalam kata sambutannya mewakili pihak keluarga Soekarno, penggagas lima butir Pancasila.

Dalam kata sambutannya, Puan kembali menyerukan pentingnya pemerintah menetapkan secara resmi tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Bangsa yang besar, ujar Puan, adalah bangsa yang mengenang jasa pahlawannya.

“Dengan demikian, kita pun harus jujur dan obyektif menempatkan Bung Karno sebagai pemikir dan konseptor dasar negara kita. Sudah saatnya pemerintah mengambil keputusan dan menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila, sebagai hari besar nasional,” kata Puan.

Ia prihatin dengan pelemahan pengamalan nilai Pancasila yang sempat dilakukan pemerintahan Orde Baru. Proses politik, ujar Puan, seharusnya jangan sampai mendistorsi dan memanipulasi sejarah bangsa. “Apalagi, aspek sejarah yang menyangkut pembentukan Pancasila sebagai dasar negara kita,” ujar Puan.

Selain Presiden Joko Widodo yang hadir untuk memberi pidato kebangsaan dalam upacara Grebek Pancasila, sejumlah pejabat tinggi pemerintahan turut hadir, seperti Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti.

Mewakili pihak keluarga Soekarno, penggagas lima sila Pancasila, hadir presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, dan putrinya, Puan Maharani.

Meriah

Perayaan Grebek Pancasila berlangsung meriah. Sejak pukul 07.00, dua jam sebelum upacara peringatan, Alun-alun Kota Blitar cukup semarak dengan warga dan sejumlah kader serta simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dari sejumlah cabang di Jawa Timur.

Tidak hanya pada hari peringatan, kemeriahan sudah berlangsung pula sejak Minggu (31/5) malam sebagai bagian dari lima ritual Grebek Pancasila.

Prosesi dimulai Minggu malam dengan bedhol pusaka, yaitu kirab lambang negara, benda pusaka, dari rumah Soekarno, Ndalem Gebang, menuju Kantor Wali Kota Blitar. Selama berjam-jam, hingga pukul 23.00, sepanjang jalanan Kota Blitar semarak dan hidup dengan arak tari-tarian, pawai lampion, dan kreativitas warga lainnya.

Seusai upacara Grebek Pancasila, prosesi disusul dengan Kirab Gunungan Lima dari Alun-alun Kota Blitar ke Makam Bung Karno. Gunungan lima adalah tumpukan hasil bumi yang disusun berbentuk piramida setinggi 2-3 meter. Lima gunungan itu masing-masing menyimbolkan kelima butir pancasila.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua MPR Zulkifli Hasan meresmikan dimulainya Gerakan Ini Baru Indonesia yang diinisiasi MPR. Ke depan, gerakan itu akan melibatkan seluruh komponen, mulai dari penyelenggara negara sampai masyarakat, dengan tujuan menyadarkan kembali pentingnya nilai-nilai kebangsaan.

Ramai di media sosial

Membincangkan Pancasila cenderung dilakukan sebagian orang setiap tanggal 1 Juni. Pada hari itulah Pancasila lahir sebagai dasar negara dan tahun ini genap sudah 70 tahun masa itu berlalu.

Keterkaitannya yang erat dengan orang Indonesia tak urung membuat Pancasila menjadi salah satu topik pembicaraan publik. Ini misalnya terpantau di linimasa media sosial, seperti Twitter.

Tidak kurang 8.320 kali kicauan dengan menggunakan kata “Pancasila” dipergunakan di linimasa Twitter dalam satu jam terakhir sejak sebelum pukul 10.05 WIB, Senin (1/6). Kata “Pancasila” bahkan sempat bertengger di posisi kedua peringkat trending topic Twitter di Indonesia pada Senin pagi itu.

Sejumlah cuitan diunggah terkait dengan peringatan tersebut. Misalnya dilakukan Erni Febrianti dengan akun @ebie_bela yang melakukan retweet kicauan akun @Kemdikbud_RI yang tertulis: Hari ini Senin (1/6) diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila, Mari berupaya bersama-sama mewujudkan Generasi Berkarakter Pancasila.

Ada pula pengguna Twitter yang menggugat ihwal pelaksanaan sila kelima Pancasila, seperti dilakukan pengguna akun ?@bdx_sentlup yang menulis: Akankah sila ke-5 dari Pancasila bisa terwujud seegra kalau masih banyak para pemimpin kita menghilangkan rasa cinta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Atau pengguna akun @FiersaBesari yang mengatakan: Selamat Hari Kelahiran Pancasila yang ke-70. Semoga sila demi sila-mu tidak sebatas diucapkan, tapi juga diamalkan.

Ahmad Alif Fatkhur dengan akun @aliffatkhurism mengatakan: Pancasila. Teruslah menjadi Ideologi Negara yang tak lekang oleh waktu dan tidak tergoyahkan.

Sementara Hermanto Baron yang memakai akun @hermantobaron10 menulis: Hari lahirnya Pancasila….makin di hati kita semua. (Ingki Rinaldi)

Sumber: Kompas