Calonkan Pendiri PKS, PDIP Perlu Jembatan Komunikasi Nasionalisme dan Islam

JAKARTA – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto menyatakan, pencalonan pendiri PKS Yusuf Supendi sebagai anggota legislatif (caleg) DPR dari PDIP merupakan upaya penyatuan kelompok nasionalis dan Islam.

Menurutnya, Presiden pertama RI Soekarno dalam membangun bangsa selalu melibatkan semua golongan termasuk umat Islam.

“Kami melihat bahwa PDI-P memerlukan jembatan untuk mengkomunikasikan seluruh dialektika pemikiran Bung Karno untuk Bangsa dan Negara. (Nasionalisme) Bung Karno dan Islam ini yang kami nilai sebagai hal yang strategis,” kata Hasto di kantor DPP PDI-P, Menteng, Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, Yusuf telah mengkaji ideologi nasionalisme yang diusung PDI-P. Menurut Hasto, dalam kajian Yusuf, nasionalisme PDI-P juga mengandung spirit ke-Islaman.

Hal itu, kata Hasto, tertuang dalam ensiklopedi pemikiran Bung Karno dan Islam. Dengan demikian, tak ada yang perlu dipertentangkan antara nasionalisme dan Islam.

“Dan dalam dialog saya bertemu secara langsung itu beliau juga baru mengetahui bagaimana perjuangan Bung Karno dan Islam sebagaimana ada dalam Ensiklopedi Pemikiran Bung Karno dan Islam,” papar Hasto.

Yusuf sebelumnya mengaku memilih PDI-P sebagai kendaraan politik karena merasa memiliki kecocokan.

“70 persen pendukung PDI-P itu umat Islam dan santri. Saya kan santri, jadi ketemu santri cocok,” kata Yusuf saat di kantor Komisi Pemilihan Umum, Selasa (17/7/2018).

Yusuf yakin bisa merebut mayoritas suara masyarakat di daerah pemilihan V Jawa Barat yang meliputi kabupaten Bogor.

Ia berkaca pada pengalamannya saat menjadi caleg PKS pada 2004. Saat itu, ia berhasil meraih 85.000 suara dan lolos ke Senayan.

“Temen-temen juga bilang, saya tidak perlu kampanye. Tidak perlu jual visi misi. Tinggal ketemu, silaturahmi saja,” kata dia.

Yusuf merupakan pendiri Partai Keadilan yang merupakan cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Yusuf juga pernah menjadi menjadi anggota DPR periode 2004-2009 dari Fraksi PKS. (goek)