Bung Karno dan Pancasila 1 Juni, Refleksi Jati Diri Bangsa

bung karno dan pancasilaDALAM salah satu pidatonya Bung Karno pernah menyampaikan, bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri…”. Kalimat tersebut merupakan pesan sekaligus peringatan dari Bung Karno untuk kita semua, bahwa perjuangan untuk mengisi kemerdekaan tidaklah semudah seperti membalik telapak tangan. Makna kalimat tersebut sangatlah dalam bagi para generasi penerus bangsa, khususnya bagi para kader PDI Perjuangan.

Sebagai suatu bangsa Indonesia memiliki kekayaan yang sangat berlimpah dari mulai kekayaan hasil bumi, hingga kekayaan sosial budaya. Mungkin bangsa lain di dunia tidak ada yang memiliki kekayaan seperti bangsa kita ini. Indonesia memiliki 17.504 pulau, 740 suku bangsa/etnis dan memiliki 583 bahasa daerah. Suatu kekayaan yang luar biasa sebagai satu bangsa. Hal inilah yang membuat bangsa-bangsa lain di dunia ini merasa “iri” dengan Indonesia.

Hal ini sangat dipahami betul oleh Bung Karno, godaan dan gangguan terhadap bangsa Indonesia pasca kemerdekaan akan sangat besar. Untuk itu dalam ide dan gagasannya Bung Karno telah melahirkan suatu ide dan gagasan besar, yaitu Pancasila 1 Juni. Pancasila 1 Juni, merupakan suatu ideologi kebangsaan yang telah digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini. Dengan bingkai Pancasila 1 Juni dan Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia telah disatukan dalam visi dan persamaan nasib yang sama sebagai satu bangsa. Satu bangsa yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita bersama, yaitu Indonesia Raya, yang adil dan makmur.

Dalam perjalanan menuju kearah cita-cita bersama tersebut, Pancasila 1 Juni sangat dibutuhkan sebagai pedoman dan pandangan hidup untuk memperkokoh jati diri bangsa. Jati diri bangsa Indonesia yang kokoh dalam menghadapi ancaman baik dari dunia luar, maupun rong-rongan dari dalam negeri. Tidak ada pertahanan yang lebih kuat, selain jiwa dan semangat nasionalisme yang tertancap kuat di dalam dada rakyatnya. Karena dengan jiwa dan semangat nasionalisme itulah akan muncul sistem pertahanan rakyat semesta. Yang penuh dengan semangat patriotisme untuk membela dan memajukan bangsanya tanpa pamrih.

Sedangkan dalam percaturan politik internasional. Dengan strategi politik yang bebas dan aktif, Bung Karno telah membuat dunia internasional melihat Indonesia sebagai satu kekuatan baru yang harus diperhitungkan. Indonesia mampu menyatukan dan menggalang kekuatan negara-negara dunia ketiga dalam satu wadah gerakan baru, yaitu Gerakan Non Blok. Yang diawali dengan adanya Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Gerakan Non Blok ini merupakan gerakan negara-negara dunia ketiga yang tidak mau berafiliasi dalam salah satu blok negara-negara maju, baik blok timur maupun blok barat. Indonesia mampu menempatkan dirinya sebagai subyek, bukan obyek yang dimanfaatkan sebagai negara jarahan oleh negara-negara maju di dunia internasional.

Pancasila 1 Juni dikenalkan Bung Karno ke dunia Internasional sebagai paham atau ideologi baru yang mampu memberikan solusi berbagai persoalan-persoalan bangsa lainnya. Alhasil cukup banyak bangsa-bangsa lain yang menjadi simpati dan tertarik dan mulai menerapkan ajaran Pancasila 1 Juni, khususnya negara-negara yang memiliki latar belakang dan tipologi seperti bangsa Indonesia.

Kini Bung Karno telah tiada, tetapi beliau telah mewariskan ajaran dan ideologinya, yaitu Pancasila 1 Juni. Satu ideologi yang tak lekang dimakan zaman dan sangat dibutuhkan hingga saat ini, bahkan mungkin hingga akhir zaman.

PDI Perjuangan sebagai partai pemenang pemilu 2014, yang sekaligus juga mampu mengantarkan kadernya, Ir. Joko Widodo sebagai Presiden RI periode 2014 – 2019, pada pemilu presiden di tahun yang sama mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengingat PDI Perjuangan yang merupakan parpol “besutan” Megawati Soekarnoputri, yang tidak lain merupakan anak biologis sekaligus anak ideologis Bung Karno mempunyai konsekuensi logis bagi seluruh kadernya untuk meneruskan ideologi Pancasila 1 Juni sebagai pondamen untuk membangun Indonesia Raya sesuai cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945.

Intervensi asing dalam bentuk utang pemerintah dan investasi modal atas pengelolaan kekayaan alam Indonesia dalam faktanya tidak semakin memakmurkan bangsa ini, tetapi semakin membuat rapuh tata perekonomian Indonesia. Hampir sekitar 20 % APBN kita untuk membayar utang. Indonesia tidak berdaulat menentukan harga minyaknya sendiri, Indonesia tidak berdaulat menentukan nilai tukar rupiahnya, Indonesia tidak berdaulat membangun alutsistanya, Indonesia tidak berdaulat menentukan tata perekonomiannya, bahkan dalam bidang kebudayaan pun Indonesia mulai rapuh untuk mempertahankan jati dirinya. Tentunya ini merupakan satu pekerjaan rumah yang cukup besar yang harus segera diselesaikan dalam waktu secepatnya.

Demikian halnya dengan persoalan kesenjangan pembangunan dalam negeri. Kesenjangan antara kota dan desa, kesenjangan antara ibu kota dan kota lainnya, juga kesenjangan antara wilayah Indonesia, juga masih cukup besar dirasakan oleh bangsa ini. Terlihat pada APBN 2014, hanya sekitar Rp. 592,5 triliun atau 30 % APBN yang dialokasikan ke daerah. Sedangkan indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2014 pada posisi 108 dari 187 negara. Jauh dibawah negara-negara ASEAN lainnya yang dulu berkiblat ke Indonesia. Seperti Singapura (9), Brunei (30), Malaysia (62), dan Thailand (89). Persoalan-persoalan seperti ini tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena berpotensi menimbulkan terjadinya disintegrasi yang membahayakan NKRI. NKRI yang merupakan kebulatan tekad bersama untuk menuju pada satu cita-cita bersama, yaitu Indonesia Raya, yang berkeadilan dan berkemakmuran.

Dengan bermodalkan 109 kursi di DPR RI, yang merupakan jumlah kursi mayoritas di parlemen dan pemegang puncak kekuasaan eksekutif sebagai presiden. Plus ditunjang dengan banyaknya kader PDI Perjuangan yang cukup mendominasi konstalasi politik di daerah-daerah, sekitar 41 % secara nasional, dikuasai oleh PDI Perjuangan. Baik yang duduk sebagai kepala daerah maupun mayoritas kursi parlemen di tingkat daerah. Tentunya saat sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk mulai menggelorakan kembali nilai-nilai dan semangat Pancasila 1 Juni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila 1 Juni dan semangat Tri Sakti Bung Karno, seluruh komponen kader PDI Perjuangan punya kewajiban baik secara pribadi maupun secara gotong royong untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

Selamat Berjuang. Gelorakan kembali Pancasila 1 Juni dan Tri Sakti Bung Karno. Merdeka….!!! (*)

Penulis:

Djoko Prasektyo

Wakil Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.