Bung Karno dan Kenormalan Baru

Oleh Dr. Sri Untari
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur

TAHUN 1901, tepatnya 6 Juni Bung Karno dilahirkan. Tahun di mana Negara-Bangsa Indonesia berada dalam cengkeraman kolonial Belanda.

Berbagai kesewenang-wenangan, seperti kerja paksa, diskriminasi, dan lainnya, menjadi mimpi buruk bagi rakyat Indonesia. Maka tak berlebihan, kita menyebut tahun-tahun masa kolonial adalah tahun-tahun kelam bagi Negara-bangsa kita.

Dan bukan satu hal yang berlebihan, di kemudian hari, kita menerima Bung Karno sebagai Putra Sang Fajar yang membawa obor kedaulatan dan peradaban.

Setelah melewati tahun-tahun panjang perjuangan kemerdekaan, Negara-bangsa Indonesia menemukan masa gemilangnya bersama Bung Karno. Di era Bung Karno-lah, bangsa Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara-bangsa yang berdaulat, negara-bangsa yang mandiri, dan negara-bangsa yang setara dengan negara-bangsa lainnya.

Kehadiran Bung Karno sebagai Bapak Proklamator bukan kebetulan semata. Sejak kecil Bung Karno menempa diri dalam satu proses panjang untuk tampil sebagai seorang pemimpin.

Sejak usia muda, Bung Karno gemar membaca. Setiap hari Bung Karno menghabiskan sebagian besar waktunya dengan melahap berbagai buku ilmu pengetahuan. Tak heran, di kalangan teman-temannya, Bung Karno dikenal sebagai hantu buku (Solichin Salam, 1981:39). Bung Karno dapat membaca tanpa berhenti mulai pukul lima pagi sampai pukul dua siang.

Kecuali itu, Bung Karno juga suka berlatih pidato. Kelihaian Bung Karno dalam menyusun narasi pidato tidak lepas dari proses berlatih yang sungguh-sungguh dan penuh semangat. Pidato-pidato Bung Karno tidak hanya mampu mengobarkan emosi pendengarnya.

Akan tetapi, kekayaan referensi serta ungkapan-ungkapannya yang dalam, telah menjadi inspirasi dan api semangat bagi mereka yang berjuang di atas jalan kemanusiaan; bagi mereka yang berjuang demi persatuan dan kesatuan; bagi mereka yang tiada lelah memperjuangkan kesejahteraan.

Satu ungkapannya yang selalu akan dikenang oleh generasi muda, “Berilah aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, dan berilah aku sepuluh pemuda akan kugoncangkan dunia”. Bung Karno menaruh harapan dan keyakinan yang besar akan peran kaum muda untuk membangun Indoensia maju di seberang jembatan emas yang dibangunnya.

Karena itu, semangat, keyakinan, dan harapan Bung Karno patut menjadi teladan sekaligus inspirasi generasi muda Indonesia hari ini. Generasi muda Indonesia harus menjadi Putra Sang Fajar bagi Negara-bangsa Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan politik yang benar-benar ditopang oleh kesadaran masyarakatnya untuk menjadi negara-bangsa yang besar; dalam mewujudkan kemandirian ekonomi yang akan menghadirkan kesejahteraan bersama; dan mewujudkan kepribadian (:identitas diri) yang berpijak pada nilai budaya masyarakatnya.

Seperti kita tahu, jumlah generasi muda sudah mencapai 60% dari jumlah penduduk Indonesia. Dan pada tahun 2025, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Karena itu, dengan mengikuti jejak-semangat Bung Karno, generasi muda perlu mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan yang serba digital.

Kalau dulu Bung Karno mempersiapkan diri dengan bacaan yang melimpah, latihan pidato yang penuh semangat, berdiskusi dengan berbagai kalangan, maka dengan berbagai fasilitas yang canggih, generasi muda kita tentunya memiliki kesempatan yang lebih untuk tampil seperti Bung Karno.

Generasi muda Indonesia hari ini harus mampu memanfaatkan berbagai fasilitas canggih itu untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Sebab, tantangan kita hari ini jauh lebih kompleks dibanding persoalan-persoalan di masa Bung karno. Jauh hari, Bung Karno sudah mengingatkan kita, Perjuanganku lebih mudah, karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Tantangan dari bangsa sendiri itu kian terasa di tengah wabah covid-19. Di saat pemerintah berjuang keras merumuskan dan menentukan kebijakan yang pas untuk melindungi rakyat dari wabah covid-19, sebagian dari kita masih nyinyir dan suka mengambil tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kecuali itu, wabah covid-19 juga menantang kita untuk bisa beradaptasi dengan hidup kenormalan baru (new normal live). Wabah covid-19 tidak sekadar mengubah pola dan cara hidup kita. Akan tetapi, juga menantang cara berpikir dan semangat kebangsaan kita untuk tetap setia berjuang di jalan kemanusiaan, untuk tetap teguh menjaga persatuan dan kesatuan, serta tetap dalam satu barisan dalam melawan kemiskinan, dan meraih kesejahteraan bersama.

Maka, dengan semangat #BulanBungKarno, tak ada pilihan lain bagi generasi muda Indonesia kecuali menempa diri untuk terus berkarya. Tak ada jalan lain bagi generasi muda Indonesia kecuali mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi negara-bangsa yang maju; pemimpin yang disegani dan dihormati oleh para pemimpin negara lainnya.

Pemimpin yang mampu menginspirasi rakyatnya untuk berdaulat, untuk mandiri, dan mampu mempertahankan identitas dirinya dengan budayanya. Sepertinya halnya Bung Karno, mampu menjadi pemimpin yang menginspirasi rakyatnya dalam rentang masa yang begitu panjang. Merdeka!!! (*)