Bukan ‘Tukang Kayu’ Biasa, Ini Perjalanan Jokowi ke Kursi Istana

Jokowi-Bersama-Keluarga

KELUARGA PRESIDEN – Presiden terpilih Joko Widodo (tengah) bersama Isteri Ny. Iriana, anak sulung Gibran Rakabuming Raka (kanan), anak kedua Kahiyang Ayu (kiri) dan anak bungsu Kaesang Pangarep (kedua kiri).

SENIN (20/10/2014) pukul 10.00 WIB Joko Widodo membacakan sumpah sebagai presiden di gedung DPR/MPR Jakarta. Perjalanan politik pria yang akrab disapa Jokowi itu terbilang cukup cepat. Awalnya dia adalah seorang pengusaha ekspor mebel di Surakarta. Pada tahun 2005 dia terjun ke politik dengan maju sebagai calon Wali Kota Surakarta. Berikut perjalanan si ‘Tukang Kayu’ itu hingga meraih kursi RI 1:

Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Ayahnya Noto Mihardjo adalah seorang penjual kayu di sebuah pinggir jalan di Solo. Masa kecil Jokowi erat berhubungan dengan kayu. Di rumahnya yang kecil di bantaran Kali Anyar, Solo, penuh dengan tumpukan kayu dan bambu.

Hanya tersisa sedikit ruangan sempit untuk duduk dan tidur keluarga. “Sejak kecil saya tahu saya terbantu oleh kayu dan bambu,” kata Jokowi dalam buku ‘Jokowi Memimpin Kota Menyentuh Jakarta’ karya Alberthine Endah.

Jokowi pun kian mencintai kayu, hingga akhirnya saat kuliah dia memilih jurusan Fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dia ingin meneruskan tradisi leluhur, karena kakek dan ayahnya adalah seorang pedagang kayu.

“Mereka menghidupi kami melalui kayu. Mereka membakar nyala semangat kami melalui kayu. Mimpi kami tentang masa depan dirajut melalui kehidupan sehat yang bergulir, juga berkat kayu. Kayu membuat kami hidup dan memiliki harapan untuk hidup,” kata Jokowi.

Setelah menamatkan studinya, Jokowi sempat bekerja di PT Kertas Kraft Aceh selama dua tahun sebelum akhirnya kembali ke Solo. Di Kota Bengawan itu dia merintis sebuah usaha yang masih bergerak di bidang perkayuan. Namun bukan mendalami penjualan kayu mentah, melainkan pengolahan kayu menjadi barang jadi.

Dia mengolah aneka kayu itu menjadi mebel. “Mungkin karena ada jiwa seni di diri saya,” Jokowi mencoba memberikan alasan tentang pilihannya tersebut. Bisnis Jokowi di bidang mebel terus berkembang hingga dieskpor ke sejumlah negara.

Sukses di dunia bisnis, Jokowi tak melupakan rekan-rekannya sesama pengrajin kayu yang belum berhasil. Dia pun merangkul sejumlah Usaha Kecil dan Menengah di bidang perkayuan dan disatukan dalam satu wadah organisasi. Bukan organisasi baru, melainkan cabang dari organisasi induk yakni, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia Komda Solo.

Secara mengejutkan Jokowi ditunjuk sebagai Ketua. Di organisasi inilah kepemimpinan Jokowi mulai dilihat sehingga sejumlah pengusaha menyarankan agar dia maju dalam bursa pemilihan calon Wali Kota Surakarta periode 2005-2010.

“Saya ini tak pernah tertarik bergabung dengan partai tertentu, dan tidak pernah berkecimpung di ajang-ajang yang berhimpitan dengan politik atau pemerintahan,” papar Jokowi.

Namun akhirnya Jokowi memantapkan hati bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada sekitar tahun 2004. Kala itu, alumni Fakultas Kehutanan UGM itu menduduki posisi salah satu pengurus DPC PDIP Solo.

Pada tahun 2004 itu pula Jokowi mengenal FX Hadi Rudyatmo yang sudah lebih dulu masuk DPC PDIP Solo. Kedekatan Jokowi dan FX Hadi berlanjut saat keduanya dipercaya PDIP dan PKB maju sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Solo tahun 2005.

Berkat kampanye yang gigih, Jokowi dan FX Hadi berhasil memenangkan Pilkada Solo dengan meraih suara sebesar 36,62 persen. Tak signifikan memang, tapi itu cukup membanggakan sebagai pencapaian pertama Jokowi dalam politik.

Mulailah Jokowi sebagai walikota melakukan pembenahan untuk Kota Solo. Mulai dari infrastruktur, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), pengembangan ekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga ‘rebranding’ Kota Solo sebagai ‘The Spirit of Java’.

Kinerja Jokowi dan FX Hadi membuat masyarakat Solo puas dan berbangga. Hal itu terbukti saat Jokowi dan FX Hadi kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Solo periode kedua 2010-2015. Keduanya mengantongi suara yang sangat fantastis, 90,09 persen suara! Nyaris tak ada dalam sejarah pemilu Indonesia, kandidat mendapat angka hampir 100 persen.

Cerita kesuksesan Jokowi di Kota Solo dalam periode kedua, kemudian terdengar oleh para jurnalis media-media nasional. Bukan saja hanya karena kinerja, tapi lebih karena kepribadiannya. Terutama soal kesederhanaan, kejujuran dan kesantunan Jokowi dalam berpolitik.

Dari Solo kiprah kepemimpinan Jokowi terdengar hingga kancah nasional. Tahun 2012 dia pun diajukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Pria yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu berhasil terpilih sebagai orang nomor di kota berpenduduk lebih dari 10 juta orang ini.

Dua tahun memimpin Jakarta, Jokowi si ‘Tukang Kayu’ itu diajukan menjadi calon Presiden berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla. Dia pun terpilih sebagai Presiden Indonesia ketujuh.

Jokowi bukan ‘tukang kayu’ biasa. Kini dia menjadi pemimpin dari 250 juta penduduk Indonesia.

Sumber: Radar Pekalongan