oleh

Berbagi Kebahagiaan

-Berita Terkini, Kronik-19 kali dibaca

Oleh : MH. Said Abdullah

SELALU setiap pekan terakhir Desember ada semacam perbincangan di tengah masyarakat muslim terutama di media sosial. Apalagi kalau bukan soal boleh tidak mengucapkan selamat natal. Sebuah rutinitas menggambarkan stagnasi berpikir pada sebagian kecil ummat Islam negeri ini.

Yang ironis perbincangan sering dimulai oleh mereka yang disebut tokoh agama. Walau ketokohan mereka –yang melempar perbincangan- lebih sebagai euforia dan asesoris semata, bukan sepenuhnya atas dasar kapasitas keulamaan mumpuni. Maka tak mengherankan jika lontaran pendapat yang dikembangkan sangat sempit untuk tidak disebut picik.

Agama Islam akhirnya dibelenggu persepsi dan pemahaman seadanya. Agama Islam di sini dipaksa dijejalkan atas dasar teks kaku tanpa melihat konteks serta realitas sosial. 

Lebih parah lagi ketika pemahaman keagamaan dipersempit dengan nuansa keterbelahan berorama kepentingan politik. Jadilah agama jauh dari semangat merangkul. Sebaliknya, justru bermuatan kekuatan memukul sehingga berpotensi menjadi bibit pertikaian.

Padahal ucapan selamat merayakan Natal merupakan bagian dari relasi sosial keseharian seperti juga ucapan selamat Idul Fitri. Bukan bagian dari peribadatan Kristiani sehingga tidak berpengaruh apapun pada keseluruhan keyakinan baik kepada yang mengucapkan maupun kepada yang mendapat ucapan.

Pemahaman seperti inilah yang seharusnya dikembangkan di tengah masyarakat Indonesia yang plural sebagai kesantunan sosial. Bukan dibawa ke wilayah aqidah sehingga seolah membuat seorang muslim yang mengucapkan selamat merayakan Natal harus bersyahadat lagi.

Ada sejenis inferioritas pada sebagian kecil ummat Islam sehingga selalu khawatir bila Natal tiba. Bandingkan kalangan Kristiani yang tiap hari mendengar adzan 5 kali sehari dan 150 kali sebulan serta 1800 kali selama setahun. Mereka santai saja dan tetap Kristiani sampai anak cucunya.

Kenapa ummat khawatir murtad berlebihan mendengar dan melihat simbol natal yang hanya sekali dalam setahun? Seharusnya ummat Islam yakin pada agama yang dianutnya. Jangan karena hanya datang natal khawatir merusak keyakinan keislamannya.

Yang menarik di tengah pemikiran dan pendapat sangat kaku dan cenderung mengabaikan konteks sosial, dalam kehidupan keseharian masyarakat negeri ini justru terwujud relasi sosial indah pada setiap moment hari besar keagamaan. 

Di masa Natal seperti sekarang ini, keharmonisan mulai terlihat biasa. Masyarakat Kristiani yang merayakan Natal di tengah masyarakat muslim dapat berjalan damai. 

Bahkan, seperti ketika Idul Fitri, ketika masyarakat muslim berbagi makanan misalnya kepada saudaranya yang Kristiani dan berbeda agama lainnya, pada saat Natalpun hal serupa terjadi; masyarakat Kristiani melakukan hal sama. Suasana benar-benar memperlihatkan kedewasaan hubungan antar ummat beragama.

Berbagai komentar bernuansa kaku agaknya mulai kurang mendapat perhatian dan dianggap angin lalu. Masyarakat saat ini makin dewasa dan memahami sepenuhnya bahwa berbagai ucapan selamat pada hari-hari besar keagamaan sepenuhnya merupakan bagian dari kehidupan sosial dan bukan menyangkut peribadatan keagamaan.

Pemahaman tentang perbedaan wilayah peribadatan serta seremonial ajaran agama menyadarkan masyarakat bagaimana menjalin relasi sosial. Bahwa dalam kehidupan keseharian hubungan atas dasar semangat kemanusiaan menjadi fondasi utama.

Keterikatan keagamaan boleh berbeda namun ikatan kemanusiaan tetap selalu terjalin. Berbeda agama namun tetap menyatu dalam persaudaraan atas dasar kemanusiaan.

Semangat kemanusiaan di tengah perbedaan keterikatan keagamaan itu makin mekar semerbak ketika dunia, termasuk negeri ini sedang menghadapi musibah pandemi Covid-19. Yang mengemuka upaya saling membantu, gotong royong, tanpa melihat perbedaan keterikatan keagamaan apalagi hanya warna warni pilihan politik.

Inilah jati diri rakyat negeri ini yaitu semangat gotong royong dan persaudaraan, yang harus selalu dijaga dalam kondisi apapun. Itulah kekuatan sesungguhnya negeri ini. Selalu berupaya berbagi kebahagiaan sebagai energi kedamaian, persaudaraan dan persatuan. Damailah negeriku, sejahteralah bangsaku. (*)

rekening gotong royong