Begini, Sosok Keluarga Jokowi di Mata Bupati Anas

BANYUWANGI – Bupati Abdullah Azwar Anas memuji Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya yang pernah mengunjungi Banyuwangi. Hal dia ungkapkan dalam pidato sambutan di Temu Relawan dan Kader Partai Politik Koalisi Indonesia Kerja (KIK) untuk Pemenangan Pilpres 2019 di Banyuwangi, kemarin.

Dalam kesempatan itu hadir Sekretaris TKN Jokowi – Kiai Ma’ruf Amin Hasto Kristiyanto, Bendahara TKN Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin, Wahyu Sakti Trenggono, Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi, Ketua DPC PDIP Banyuwangi I Made Cahyana Negara, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.

Hadir juga semua pimpinan daerah partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja di Banyuwangi, dan perwakilan relawan.

Mengenakan kemeja putih lengan panjang itu, awalnya Anas yang sedang cuti dinas itu bercerita bahwa banyak pertanyaan dari masyarakat dan teman-teman di wilayah Bondowoso dan Situbondo, kenapa saat debat pertama Jokowi tidak berpanjang kalam.

Saat itu, Anas menjawab bahwa sesungguhnya telah banyak yang dikerjakan Jokowi. “Kalau diceritakan semua tidak cukup waktu untuk berdebat kemarin. Pak Jokowi sudah nyata, yang lain baru akan,” ungkap Anas.

Pria berkaca mata itu pun mengatakan, sudah banyak pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi. Termasuk jalan tol Banyuwangi, yang diperkirakan akan selesai 2020 mendatang.

Anas mengatakan, infrastruktur yang dibangun Jokowi itu langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dulu dari Porong, Sidoarjo macet parah. Sekarang sudah ada tol sampai ke Pasuruan yang licin dan mulus.

Dia mengakui bahwa Jokowi sepertinya tidak mementingkan dirinya demi kepentingan perjuangan Indonesia. Bahkan, ia mengungkap putra Jokowi, Kaesang Pangarep, sudah dua kali ke Banyuwangi. Tapi, tidak pernah merepotkan Bupati.

Bahkan, kata Anas, Kaesang sempat diajak ke pendopo bupati untuk beristirahat ataupun sekedar menerima jamuan, saja tidak mau. “Karena ini adalah urusan pribadi, putra presiden akan berlibur ke Ijen. Dia tidak merepotkan Bupati,” katanya.

Bahkan, Anas menuturkan, putra presiden hanya naik mobil biasa dan tanpa pengawalan ketat saat berkeliling dan berlibur ke Banyuwangi.

Kaesang, kata Anas, tidak mau diinapkan di hotel. Putra presiden lebih memilih menginap di rumah teman kuliahnya. Paspampres tidak boleh menemaninya, tapi hanya dari kejauhan.

Bahkan,  diantar ke pendopo juga tidak mau. Padahal, kata Anas, ayahnya sudah berkuasa. Mau minta apa saja pasti disediakan. “Beliau telah berkuasa, dan keluarga tidak merepotkan infrastruktur kekuasaan untuk keluarganya,” ungkap Anas.

Anas juga berkisah bagaimana dirinya baru saja menyambut kehadiran Ibu Negara Iriana Jokowi di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi untuk selanjutnya melakukan kampanye anti narkoba.

Anas bercerita, Iriana tidak mau diagendakan di pendopo bupati. Tak mau menggunakan fasilitas pemerintah daerah, karena akan bertemu rakyat secara langsung.

Anas juga mengatakan, Ibu Iriana meminta supaya peserta kampanye antinarkoba bukan dari kalangan pelajar SMA di Banyuwangi.

Sebab, pelajar SMA sudah punya hak pilih. Sehingga, Iriana hanya meminta pesertanya dari pelajar SD dan SMP.

“Beliau tidak mau memanfaatkan fasilitas kekuasaan untuk kemenangan. Ini cerita dan kenyataan yang kami dapatkan. Tentu bukan perkara mudah dihadapi oleh penguasa yang sudah berkuasa,” ungkap Anas.

Lebih lanjut mengungkapkan bahwa putra Presiden Jokowi sampai saat ini saja masih menjual martabak dan pisang goreng.

“Bayangkan, putra seorang presiden yang tengah berkuasa sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk meminta apa pun. Tapi, memilih menjual martabak, pisang goreng. Belum pernah ada contoh  teladan dari pemimpin seperti ini  dari sejak Indonesia merdeka,” ungkapnya.

Anas menambahkan, Presiden Jokowi juga memerintahkan para kepala daerah agar dalam rekrutmen PNS transparan.

Jokowi terus mewanti-wanti jangan sampai ada korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Salah satunya adalah memerintahkan menggunakan sistem CAT atau Computer Assisted Test.

“Jadi ketika anak mengerjakan soal, orang tua di luar sudah bisa melihat hasilnya,” kata Anas.

Karena transparasi data penerimaan CPNS, sampai-sampai anak presiden yang ikut seleksi PNS tidak diterima. Padahal, kalau presiden menggunakan kekuasaannya, maka sudah pasti anaknya lulus.

“Tapi, presiden yang memiliki kekuasaan tidak mau menggunakannya untuk kepentingan keluarganya. Inilah pemimpin bersahaja, dan apa adanya. Beliau memiliki kekuasan, tapi tidak menggunakan kekuasaan itu urusan (penerimaan) PNS,” kata Anas.

Pria kelahiran 6 Agustus 1973 ini juga menceritakan bagimana saat Presiden Jokowi rapat dengan para bupati atau kepala daerah, terus mengingatkan mereka agar jangan bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh, tapi inflasi tinggi.

Yang penting, kata Anas, presiden menginginkan ekonomi tumbuh dan bisa dinikmati masyarakat, dan angka inflasi ditekan.

Anas juga mengungkap bahwa jika presiden bukan Jokowi, maka belum tentu Bandara Blimbingsari Banyuwangi bisa dibuat seperti sekarang ini. Dia menjelaskan Banyuwangi mendapatkan anggaran dengan skema non-APBN sekitar Rp 300 miliar lebih.

Kalau dibahas di DPR, belum tentu bisa selesai dalam empat tahun. Namun, untuk daerah yang sedang membutuhkan, Presiden Jokowi memerintahkan BUMN mempercepat pembangunan. Termasuk untuk bandara di Banyuwangi.

“Pak Jokowi memang belum pernah berkunjung ke Banyuwangi. Tapi, dia menegaskan bahwa Jokowi selalu tahu keinginan rakyat Banyuwangi,” ujarnya.

“Kami berterima kasih untuk percepatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan beliau. Kita butuh pemerintah yang bekerja nyata, memperjuangkan daerah,” beber Anas. (goek)