oleh

Babadhu, Kedai Kopi Banteng Madura

TIDAK sulit untuk menemukan bangunan lantai tiga itu. Tepat di pojok gang IV Perumahan Bumi Sumekar Asri, bangunan dengan ornamen Madura-Bali seperti menjadi ikon kawasan jalan Adi Rasa Kolor, Sumenep. 

Dua patung putri menelengkan kepalanya pada telapak tangannya, seperti mengucapkan selamat datang dengan senyum bekunya. Tulisan besar “Kedai Kopi Babadhu” yang terpampang di dinding, tampak jelas dari jalan raya. 

Ada dengung klenengan, sayup-sayup menuntunku ke ruang yang dipenuhi kursi dalam formasi empat-satu meja. Sebuah etalase memamerkan beberapa bungkus kopi dari luar kota. 

Berada di ruang lantai dasar yang lengang, kepala saya dibelai suara klenengan yang bak kidungan seorang putri di masa kejayaan keraton.

“Saya di lantai dasar, Pak Bambang.” Pesan saya melalui aplikasi whatsapp. 

Tiga jam sebelumnya, kami janjian bertemu. Bambang Prayogi, pemilik kedai kopi Babadhu merupakan senior PDI Perjuangan yang memiliki segudang pengalaman. 

“Mari Mas ke lantai dua,” dengan memakai topi rajutan ala “tukang sapi”, dia menyambutku. Senyumnya lebar, seperti kelopak bunga di pagi hari. 

Siang itu, matahari tidak begitu garang. Mendung yang bergayut di atas langit kota Sumenep, mengisyaratkan hujan. 

“Ini juga ada teman-teman PAC.” Setelah menyalami saya, Bambang memperkenalkan dua tamunya: Mansur dan Ipung, para Pengurus Anak Cabang PDI Perjuangan yang kebetulan datang siang itu. 

Meski sudah tahu maksud kedatangan saya, dia tidak langsung mengurai hal-ihwal berdirinya Kedai Kopi Babadhu-nya. “Saya sudah tidak aktif di partai,” Bambang seperti ingin memperjelas posisinya. 

Lalu, saya mengulangi tentang pentingnya pemberitaan tentang aktivitas para kader Partai, terutama di bidang ekonomi kreatif, kegiatan sosial, kegiatan budaya, dan lainnya.

“Sejak 1998 saya masuk partai. Saya juga termasuk orang yang pertama masuk PDI Promeg di Sumenep,” kenangnya pada tahun-tahun sulit menjadi anggota PDI Perjuangan. 

Pada tahun pertamanya di PDI Perjuangan, Bambang menjabat sebagai wakil ketua bidang pemuda. Baru dua tahun kemudian, dia menjabat wakil sekretaris. 

Pada tahun 2004, dia terpilih menjadi anggota DPRD Sumenep sekaligus menjabat Sekretaris DPC PDI Perjuangan Sumenep.

“Saya tiga periode di DPRD Sumenep. Semua itu anugerah dari Allah SWT melalui PDI Perjuangan. Maka, di masa ‘purna-tugas’ ini, saya menikmati hari-hari saya di Babadhu. Tahu arti Babadhu?” Bambang seperti tahu gejolak penasaran dalam kepala saya. 

“Babadhu itu Bambang Banteng Dhuro. Sampai kapan pun, saya akan tetap di PDI Perjuangan,” tegasnya. 

Kedai kopi Babadhu mulai beroperasi April 2020. Hampir 10 bulan bertahan di tengah pandemi, Babadhu menyimpan banyak cerita. 

Mulanya Babadhu buka seperti kafe-kafe lainnya: tutup hingga tengah malam. Tapi pemberlakuan pembatasan karena pandemi, memkasa Babadhu menyesuaikan diri. 

Tidak mudah memang. Angka jumlah pengunjung yang sempat membeludak, pun mengalami penurunan. Tapi jiwa petarung seorang Banteng dalam diri Bambang tidak menyurutkan tekadnya mempertahankan Babadhu. 

Selain anak-anak muda yang memenuhi kursi kedai kopinya, sesekali kolega partainya menjadi teman diskusi yang selalu membangkitkan jiwa tarungnya. 

Siang itu, saya juga diajak ke lantai tiga, melihat-lihat panorama di sekitar Babadhu. Pantas, kedai ini banyak digemari anak-anak muda, celetuk saya dalam hati. 

Dari lantai tiga Babadhu, saya dapat menyaksikan hamparan peminian PT Garam di arah timur, atau lalu-lalang kendaraan di jalan Adirasa. Di lantai  tiga itu, sebut Bambang, pemandangan cukup menarik. 

Apalagi kalau tanggal limabelas. Lantai tiga merupakan lantai favorit. Saban malam minggu, para pengunjung berebut di lantai tiga.   

“Kenapa harus pakai motif Bali, Pak?” Saya merujuk pada kain kotak-kotak hitam-putih yang juga pernah saya lihat di Bali.   

Bambang langsung menyangkal. Menurutnya, Babadhu tidak sepenuhnya bernuansa Bali. “Ini perpaduan Bali dan Madura,” suara Bambang memperdengarkan nada cinta. 

Mungkin dia penyuka barang-barang antik, batin saya sambil melihat patung-patung ala Bali di gugus pagar pembatas. Kami tidak bertahan lama di lantai tiga. Hujan datang menerjang. 

Kembali ke lantai dua, Bambang bercerita masa nostalgianya di Partai. Masa dirinya mengayuh sepeda onthel untuk menghadiri rapat DPC. 

Dia berharap PDI Perjuangan di Sumenep terus berkembang: para pengurusnya memiliki semangat dan integritas yang sama dalam membesarkan partai. 

Melihat beberapa kebijakan partai yang benar-benar selaras dengan gerak zamannya, Bambang optimistis PDI Perjuangan di Sumenep akan berkembang. 

Apalagi, PDI Perjuangan Sumenep sudah mampu mengantarkan kadernya, Achmad Fauzi menjadi nomor orang satu di kabupaten ujung timur Pulau Madura itu.

“Mas Abe, Darul dan anak-anak muda yang lain akan membuat PDI Perjuangan lebih maju. Saya yakin itu,” ujar Bambang, dan terlihat matanya berkaca-kaca.  

Tanpa terasa, hampir dua jam saya berbincang dengan Pak Bambang. Hujan reda. Saya pun bersiap pulang. 

“Saya titip Partai, Mas,” ucapnya ketika melepas saya. Saya pun paham, pesan itu untuk mereka yang dipercaya menjadi petugas Partai. Tabik. (slamet wahedi)