Atasi Tekanan Ekonomi Akibat Pandemi, Said Ajak Resapi Pidato Bung Karno

JAKARTA – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengatakan, ada penggalan pidato Proklamator Kemerdekaan RI Soekarno pada 1 Juni 1945 yang layak diresapi dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai.

“Dalam masa pandemi Covid-19, dan agar dapat keluar dari tekanan ekonomi kami mengajak semua meresapi dengan hening penggalan pidato Bung Karno 1 Juni 1945,” kata Said Abdullah, kemarin.

Pidato Bung Karno yang disitir Said menyatakan bahwa gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bersama, bantu binantu bersama, amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.

“Holopis kuntul baris. Buat kepentingan bersama, itulah gotong royong,” sitir Said.

Politisi asal Sumenep, Madura ini menyebut, sepenggal pidato Bung Karno ini bukanlah firman yang didapat Presiden Pertama RI itu dari langit.

Menurutnya, perjalanan panjang Bung Karno yang menapak garis perjuangan melintasi berbagai suku, budaya, agama di seantero negeri telah menemukan, bahwa gotong royong adalah praktik budaya yang hidup di tengah rakyat.

“Kami melihat masih ada asa. Gotong royong masih hidup subur di rakyat kita,” ujarnya.

Dia menambahkan, gotong royong perlu digelorakan dan dinyalakan sebagai lampu penerang, bukan centang perenang di dalam masa pandemi Covid-19.

“Tidak ada haters dan lovers. Dinding-dinding pemisah di antara kita mari kita sudahi,” kata Said.

Ketua DPP PDI Perjuangan ini mengatakan, pemerintah perlu terbuka dan arif terhadap masukan. Namun, lanjutnya, kelompok-kelompok masyarakat juga tidak banal dalam menyusun kritikan.

“Kami berharap pernyataan para pejabat juga meneduhkan dan tidak merasa paling benar dalam tindakan,” harap dia.

Said mengajak, resesi dan pandemi harus dihadapi dengan kerja sama serta sense of crisis yang sama di antara seluruh anak bangsa. “Semua rakyat harus patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan,” ujarnya.

Pemerintah, sebut Said, juga harus meningkatkan kemampuan tes, pelacakan, isolasi, dan perawatan, serta mempersiapkan vaksin dengan baik sampai awal tahun depan.

Pihaknya juga fokus mengawal agar serapan program belanja pembangunan dalam APBN 2020 bisa dioptimalkan.

Lebih lanjut Said menuturkan, yang harus dipahami dalam kondisi  krisis ialah belanja negara menjadi salah satu ujung tombak pemulihan permintaan agregat dan APBN sebagai alat stabilitas ekonomi.

Dia menjelaskan optimalisasi serapan anggaran penanganan Covid-19 dan akselerasi pemulihan ekonomi 2020 harus dipastikan bisa terwujud.

Supaya anggaran kesehatan, perlindungan sosial, bantuan UMKM, dan sektor informal bisa membantu rakyat, dan mendorong konsumsi serta daya beli masyarakat bisa pulih kembali.

 “Oleh sebab itu jajaran penyelenggara pemerintah harus bekerja keras. Kami bisa merasakan bekerja di tengah pandemi Covid-19 sungguh tidak mudah. Ada keterbatasan ruang gerak, termasuk keterbatasan personel serta daya dukung,” tuturnya.

Dia pun mengimbau alokasikan seluruh daya dan pikiran untuk mencapai key performance indicator dengan berbasis ouput, outcome, dan hasil.

Beberapa sektor potensial winner seperti primer antara lain pertanian, perkebunan, kelautan, serta industri turunannya perlu terus diperkuat.

“Memperbaiki kinerja ekspor perlu ditingkatkan, meskipun tidak mudah tetapi peluang tetap ada misalnya terutama sektor pangan, industri alat kesehatan dan sektor lain yang masih potensial,” kata Said. (goek)