Ajakan Sekjen PDIP untuk Milenial: Pemilu Bisa Jadi Sarana Kritik

TANGERANG – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto minta kalangan milenial tidak sampai terpecah karena perbedaan pilihan politik. Menurut Hasto, pemuda adalah aset bangsa yang harus berpikir tentang masa depan Indonesia.

“Pemuda punya sense of direction, dia punya sense of discovery, bagaimana penemuan-penemuan yang dilakukan oleh kaum muda yang bersekutu dengan ilmu pengetahuan, sehingga kita mencapai kemajuan Indonesia Raya,” kata Hasto di Cafe 88, Tangerang, Banten, kemarin.

Berkaca pada masa muda Soekarno, sejarah menorehkan Sang Proklamator menjadi presiden di usia 44 tahun. Bung Karno menjadi Presiden pertama RI dengan cita-cita memimpin Indonesia untuk masa depan.

Menurut Hasto, sense of direction Bung Karno dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45 menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa, kemerdekaan Indonesia untuk membangun persaudaraan dunia.

“Jadi kalau kita melihat sejarah, tidak ada alasan pemuda Indonesia untuk pecah, tidak ada. Dan untuk itu, mari kita menjadikan pemilu ini jangan sampai memecah belah kita. Pemilu ini kita laksanakan dengan penuh gembira,” tegas Hasto.

Hasto berharap politik bagi kelompok muda kerap diisi dengan hal yang berbudaya, berbudi pekerti, dan tidak memecah belah.

“Bangun positif di Indonesia, berpolitik itu jalan membangun kebudayaan, tidak bisa dengan memecah belah, dengan menakuti-nakuti,” tuturnya.

Dia menambahkan, Pemilu bisa dijadikan sebagai sarana kritik. Namun, kritik yang membangun dan berkebudayaan seperti halnya yang diungkapkan penyanyi kondang tanah air, Iwan Fals melalui lagu Guru Oemar Bakrie.

“Tahun ’82 sudah mendengar lagu yang namanya Oemar Bakrie, sehingga setelah saya lulus SMP, saya nyanyikan lagu Oemar Bakrie, dimarahin saya. Padahal itu sebuah kritik terhadap nasib guru,” jelas Hasto. “Lagu Bongkar itu tahun ’89. Melaui jalan kebudayaan Iwan Fals memberikan kritik. Sehingga ada lagu Bento,” sambungnya. (goek)