Agatha: Manfaatkan Energi Nuklir Sinar Matahari untuk Bercocok Tanam!

pdip jatim - agatha fraksiSURABAYA – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur prihatin dengan kondisi tanah yang terus melorot tingkat kesuburannya. Apalagi, tanah tak bergizi itu jadi salah satu pemicu timbulnya serangan hama wereng terhadap tanaman padi.

“Kami rekomendasikan untuk memulai bercocok tanam dengan prinsip green clean. Yakni pemanfaatan energi nuklir dari sinar matahari yang ramah lingkungan dan rahmatan lil ‘alamin, melalui tindakan sederhana,” kata Agatha Retnosari, anggota Fraksi PDI Perjuangan Jawa Timur, Senin (10/8/2015).

Pemanfaatan energi nuklir dari sinar matahari yang ramah lingkungan itu, sebut Agatha, dengan energi nuklir sinar alpha, beta dan sinar gama dari matahari. Hal itu merupakan penemuan terbaru kelompok intelektual Jawa Timur, yang telah dikonfirmasi kebenarannya oleh ITB, IPB, dan UNICEF.

Sesuai hasil penelitian, jelas Agatha, sesungguhnya hama tidak pernah menyerang tanaman, melainkan mencari zat makanan yang terkandung pada tanah. Namun karena kondisi tanah telah diracuni pupuk kimia selama berpuluh puluh tahun, menyebabkan tanah mengeras dan kehilangan zat-zat makanan, sehingga hama beralih menyerang, makan tanaman.

Saat ini, lanjut dia, untuk pertanian di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, penggunaan pupuk non-organik atau pupuk pabrikan masih tinggi. Padahal, tambah dia, penggunanan pupuk non-organik sudah harus ditinggalkan atau sekururang kurangnya harus ditinggalkan karena menurunkan produktivitas tanah pertanian.

“Para ahli pertanian telah merekomendasikan untuk meninggalkan pupuk kimia produk pabrikan. Penggunaan pupuk kimia pabrikan meracuni tanah, tanah menjadi keras dan kehilangan zat makanan,” jelas anggota Komisi E ini.

Penggunaan pabrikan pupuk di Jawa Timur, ungkap Agatha, meningkat tajam dengan meningkatnya impor pupuk non-organik pada tahun ini. “Kita perlu mewaspadai penggunaan pupuk impor yang saat ini nilainya impornya mencapai 57, 47 persen. Dengan meningkatkatnya indek beli petani untuk pupuk pabrikan, dapat meningkatkan beban bagi petani dan akhirnya Nilai Tukar Petani semakin jeblok,” kata Agatha mengingatkan pemerintah soal impor pupuk. (guh)