4 Kriteria Menteri Idaman Versi Jokowi

pdip jatim - joko widodo - kiriJAKARTA – Joko Widodo sangat selektif mencari menteri-menteri yang bakal duduk membantunya di kabinet. Ia punya sejumlah kriteria untuk calon menteri idaman.

Arsitektur kementerian Jokowi-JK masih dibahas. Tim transisi Jokowi-JK menelurkan berbagai opsi, termasuk jumlah kementerian. Opsinya salah satunya ada 34 kementerian.

Jokowi ingin para menterinya pandai memasarkan potensi alam dan kekayaan Indonesia. Sang menteri idaman juga harus berkarakter kuat dan berintegritas bagus.

Selain itu, kata Jokowi, calon menterinya harus memiliki target-target dan rela melepas jabatan di parpol agar berkonsentrasi penuh dalam mengemban tugas. Pria lulusan Fakultas Pertanian UGM ini bahkan tidak segan-segan mencopot menterinya yang terbukti berkinerja buruk.

Berikut 4 Kriteria Menteri Idaman Versi Jokowi:

1. Menteri dari Marketers

Presiden terpilih Joko Widodo menilai seluruh potensi alam dan kekayaan yang melimpah kurang dipasarkan secara maksimal. Karena itu, Jokowi berencana akan menarik menteri dari kalangan marketing.

“Sekarang terpaku pada customer-centric tapi masih memerlukan marketing yang memarketingi produk negara secepat-cepatnya dan sekuat tenaga. Oleh sebab itu, saya akan mencari orang marketing. Percuma produk bagus, tapi tidak dijual karena tidak ngerti memarketingi produk,” kata Joko Widodo saat menghadiri peluncuran lagu Indonesia WOW karya Slank di gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus, Senin (8/9/2014).

Jokowi akan berkonsultasi ‎dengan pakar pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya, yang juga terlibat dalam Indonesia WOW tentang siapa saja yang berpotensi untuk dicalonkan Jokowi sebagai menterinya. Menurutnya, sudah saatnya para jagoan marketing di Indonesia melirik pemerintah.

“Jangan hanya di korporasi saja. Negara juga karena sekarang saatnya sentuhannya kepada masyarakat ada segi manusiawi, human-centric, memberikan peran pada masyarakat. Agar mereka merasa diajak berperan pada negara tercinta,” ujar Gubernur DKI ini.

Dalam acara ini turut dilaunching lagu Indonesia WOW yang dinyanyikan oleh grup band Slank. Peluncuran lagu ini dilakukan oleh sejumlah DJ handal Indonesia. Jokowi berharap, lagu Indonesia WOW tersebut dapat menjadi sebuah brand Indonesia. Ia menyampaikan cita-citanya jika kelak lagu itu dapat dilayangkan di seluruh stasiun tv dunia sebagai bentuk pemasaran Indonesia.

“Acara peluncuran Indonesia WOW ini untuk membangun sebuah brand Indonesia 4 tahun ke depan. Lagunya juga yang di-disc jokey-i bisa ditayangkan semua TV di semua negara kemudian dibarengi produk yang kita punya, akan dikunjungi berapa juta wisatawan kita. Sangat bagus,” pungkasnya yang mengundang tepuk tangan seluruh undangan.

2. Menteri Berkarakter Kuat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Presiden RI terpilih Joko Widodo (Jokowi) enggan mengomentari status tersangka Jero tersebut. Namun, belajar dari kasus-kasus menteri yang ditetapkan menjadi tersangka, ke depan Jokowi akan lebih selektif dalam memilih menteri.

“Saya sampaikan bolak-balik, memilih menteri itu harus yang mempunyai karakter kuat, integritas yang bagus dan kemampuan manajerial yang kuat. Saya enggak mau komentarin itu (kasus Jero Wacik), tapi ini bicara ke depannya,” kata Jokowi usai menghadiri acara silaturrahmi dengan guru bantu di GOR Otista, Jakarta Timur, Rabu (3/9/2014).

Jokowi mengatakan, untuk memilih menteri di kabinetnya nanti, dia akan lebih selektif. Rekam jejak akan menjadi prioritas penyeleksian.

“Track record itu dilihat. Caranya lihat track recordnya aja,” kata pria yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI ini.

3. Menteri Punya Target

Presiden terpilih Joko Widodo pernah menyatakan tak segan mencopot menteri yang tak bekerja sesuai target yang diberikan di tengah masa jabatannya. Secara etika politik, jika menteri tersebut berasal dari partai politik, maka ‎penggantinya dari partai yang sama. Ia menyatakan akan menyampaikan pencopotan itu pada partai pengusungnya.

“Ya akan saya sampaikan ke partainya. Maaf ya pak, menteri dari partai bapak saya copot,” kata Jokowi sambil tersenyum di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (1/9/2014).

Menurutnya, setiap menteri dalam kabinetnya harus memiliki target kerja. Ia akan mengevaluasinya setiap tahun dan melihat apakah ia bekerja mencapai target atau tidak.

“Kalau tidak mencapai target, masa mau diteruskan? kerja berdasar target dong,” lanjutnya.

Dalam dunia politik, jika seorang menteri dari partai politik dicopot dari jabatannya, secara etika, maka penggantinya kerap berasal dari partai yang sama. Namun, Jokowi mengaku ‘tradisi’ itu tak harus dilakukan.

Berkaca pada komitmen awal ‘koalisi tanpa syarat’ dan bekerja sesuai target, Jokowi mengaku menteri penggantinya bisa saja tak dari partai yang sama. Ia akan mengutamakan rekam jejak dan kompetensi sesuai jabatan.

“Ya bisa saja bukan dari partai yang sama. Sesuai UU, menteri itu hak prerogatif presiden. Mau diangkat, mau diberhentikan, itu hak prerogatif presiden, kapanpun.,” tegas Gubernur DKI ini.

Untuk saat ini, Jokowi mengaku tim transisi belum memberikan rekomendasi struktur kabinet ideal‎ pada pemerintahan. Meski belum menentukan struktur kabinetnya, Jokowi mengatakan sudah mendapatkan ratusan nama untuk dicalonkan sebagai menteri.

4. Menteri Lepas Jabatan Parpol

Presiden terpilih Joko Widodo ingin seluruh menteri di kabinetnya tidak lagi menjabat dalam partai politik. Ia berjanji akan membahas keinginannya itu kepada seluruh parpol koalisi.

Jokowi memang belum memutuskan, apakah keinginannya itu akan menjadi keputusan tetap untuk pemerintahannya. Namun, ia ingin agar bisa mempertahankan keinginannya itu.

“Ya yang saya sampaikan itu (menteri lepas jabatan),” kata Jokowi di sela-sela blusukannya di sedotan Ciliwung Kanal Banjir Timur, Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur, Selasa (26/8/2014).

Pertemuan dengan seluruh ketum parpol koalisi memang belum terlaksana karena sama-sama sibuk. Namun wacana itu harus segera dibahas secepat mungkin.

Jokowi menilai rangkap jabatan dapat membuat konsentrasi kabinetnya terpecah. Keyakinan itulah yang membuat dia tidak ingin menteri-menterinya punya jabatan lagi di partai politik.

“Kalau kamu rangkap jabatan, bisa fokus nggak?” tanya Jokowi kepada wartawan.

“Kalau satu bisa fokus nggak kerjanya? Bagus nggak kerjanya?” tanyanya lagi pada wartawan.

“Bisa Pak,” celetuk salah satu awak media.

“Ya belum tentu dong. 1 Jabatan saja belum tentu fokus kerjanya, apalagi kalau sampai rangkap,” jelas Jokowi santai. (aan/mad) – Detik.com