10 Alasan Warga NU Memilih Jokowi-JK

buku Mengapa Nahdliyin Pilih Jokowi-detikfotoKAMPANYE hitam berbau SARA yang sengaja dibuat untuk menyerang capres Joko Widodo terbukti tak efektif mempengaruhi elektabilitas Jokowi yang masih lebih tinggi dari Prabowo diberbagai survei manapun. Justru kampanye hitam yang mempertanyakan keislaman dan kinerja Jokowi selama memimpin Solo dan Jakarta justru berbalas karya-karya nyata berupa buku maupun karya lain orisinil yang bermunculan secara beragam dari para pendukungnya. Salah satunya adalah buku ‘Mengapa Nahdliyin Pilih Jokowi’ yang ditulis oleh tim JJ Bangkit dari Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (Garda Bangsa) PKB.

Menurut salah satu tim penulis buku ini, A Shifi Azakki, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden yang lahir dari, oleh dan untuk rakyat. Kombinasi karakter dan kapasitas kepemimpinan mereka mewakili kehendak rakyat untuk perubahan menuju Indonesia baru yang lebih baik lahir dan batin. Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dia menambahkan, Indonesia hari ini memerlukan pemimpin yang bisa jadi teladan, bisa memberikan inspirasi, harapan, serta cepat dan berani dalam mengambil keputusan dengan seluruh resikonya. Kepemimpinan yang mengedepankan kejujuran, ketulusan, kesederhanaan, tidak berjarak dengan rakyat dan apa adanya, tetapi pada saat yang sama juga berani dan teguh memegang prinsip untuk kehormatan bangsa dan kemaslahatan rakyat

Sosok dan karakter semacam itu hanya ada pada diri Jokowi-JK. Dengan kecenderungan keduanya yang lebih suka bekerja daripada beretorika, maka pasangan Jokowi-JK seperti “tumbu ketemu tutup”, artinya saling melengkapi. Indonesia sungguh bisa berharap banyak pada kepemimpinan alternatif mereka. Bayangkan, pada saat rata-rata pemimpin ingin dilayani, Jokowi-JK tampil melayani. Pada saat ini kita sudah begitu muak dan sering melihat rata-rata pemimpin lebih nyaman duduk di menara gading, perintah sana-sini dan omong besar tapi tak bisa berlaku bagi keluarganya. Tetapi, Jokowi-JK tidak. Mereka berdua turun ke bawah, berbau, mendengar dan mengerjakan sesuatu bersama rakyat, membaui tanah dan keringat rakyat.

Dalam khazanah politik Islam, kekuasaan merupakan amanah, dan tugas pemimpin adalah memastikan kebijakan-kebijakannya maslahah buat rakyat. Karakter, integritas, rekam jejak dan kemampuan Jokowi-JK dalam memimpin pemerintahan di berbagai tingkatan sudah lebih dari cukup. Ini saatnya rakyat memenangkan dirinya sendiri dengan memberi kesempatan Jokowi-JK memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Jadi, kalau belakangan ini sosok Jokowi-JK dihancurkan oleh beragam kampanye hitam oleh lawan-lawan politiknya. Mulai dari soal asal usul keluarga dan agama, keberaniannya hingga distorsi-distorsi mengenai prestasi dan visi kepemimpinannya. Maka hal itu bisa kita pahami sebagai kekalutan lawan yang tak punya lagi amunisi dan cara untuk melemahkan kekuatan Jokowi-JK yang memang tak terbendung.

Karena memang pasangan nomor urut dua ini adalah pasangan dari rakyat dan oleh rakyat serta untuk rakyat. Oleh karena itu, Pilpres 9 Juli mendatang yang sejatinya adalah kompetisi demokrasi tiba-tiba berubah menjadi ajang pembunuhan karakter dan kampanye hitam. Suatu bentuk pendekatan pemenangan pilpres yang jauh dari nilai-nilai agama, adat istiadat dan budaya bangsa, serta melanggar peraturan perundang-undangan yang ada. Yang mengerikan lagi, justru makna pilpres sebagai ajang memilih kader terbaik bangsa malah dibelokkan oleh orang yang selama ini disebut bapak reformasi sebagai perang badar atau perang baratayudha yang saling mematikan dan meninggalkan dendam kusumat bagi anak cucu dan generasi penerusnya.

Warga nahdliyin termasuk yang menjadi sasaran utama kampanye hitam mengenai Jokowi-JK. Padahal secara kultural dan keagamaan, Jokowi-JK sangat dekat dengan kaum nahdliyyin yang menganut Islam ahlussunnah wal jama’ah tentu resah. Sebab, fakta dan bukti sudah menunjukkan, dari segi amaliyah keagamaan, misalnya, Jokowi-JK adalah pengamal ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Mereka biasa baca sholawat, akrab dengan tahlilan dan suka ziarah kubur. Mereka juga takdzim pada ulama dan kiai, pemegang otoritas agama dalam masyarakat Islam. Singkatnya, sebagaimana Nahdlatul Ulama, Islam Jokowi-JK adalah Islam Indonesia, Islam yang rahmatan lil’alamin.

Buku kecil “Mengapa Nahdliyyin Pilih Jokowi” ini ingin mengajak kepada para warga nahdliyin untuk tidak terprovokasi dan menelan mentah-mentah kampanye hitam dan fitnah yang sengaja ditebar di basis-basis warga NU. Buku ini menghadirkan sosok Jokowi-JK dengan apa adanya, yang bersumber dari rangkaian prestasi dan rekam jejak di masa lalu selama menjadi pejabat publik maupun dalam meniti karir di dunia politik. Sebuah perjalanan anak bangsa yang tidak hanya menghadirkan kesederhanaan dan keteguhan dalam memegang amanah, ketegasan dalam memperjuangkan prisip dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, namun juga dapat menjadi inspirasi dalam hidup kita sebagai rakyat Indonesia.

Dan yang terpenting, bagi warga nahdliyin, buku ini akan memberikan informasi dan gambaran bahwa karakter kepemimpinan Jokowi-JK yang diurai dalam buku kecil ini selaras dan sebangun dengan gaya kepemimpinan dalam khazanah uswah hasanah warga Nahdlatul Ulama dan ahlussunnah wal jama’ah. Suatu kepemimpinan profetis yang dibutuhkan Indonesia dewasa ini agar menjadi negara berdaulat, adil dan sejahtera. Berikut ini adalah 10 Alasan kenapa warga nahdliyin harus memilih Jokowi-JK sebagaimana yang tercantum dalam buku tersebut:

  1. Islam NU yang taat
  2. Sosok yang dapat dipercaya (berintegritas)
  3. Besar dari keluarga yang sederhana
  4. Dekat dengan rakyat
  5. Tegas dan berani
  6. Bebas dan dari KKN
  7. Kerja keras dan bertindak cepat
  8. Visioner (berpikiran jauh ke depan)
  9. Problem solver (cerdik mengatasi masalah)
  10. People oriented (melayani sesama manusia)

Dalam poin pertama misalnya, disebutkan bahwa Jokowi adalah penganut Islam NU yang taat. Jokowi nyata-nyata telah menunjukkan bahwa dirinya adalah warga nahdliyin yang baik. Hal ini terlihat dalam pidato Jokowi selalu menyebut salawat yang khas seperti dilantunkan warga NU, Allahumma shalli ala sayyidina, wasyafiina wamaulana, Muhammad. Selain itu, Jokowi juga selalu aktif mengikuti dan memenuhi undangan tahlil dan selametan, yang oleh sebagain kelompok islam tertentu dianggap bid’ah dan khurafat.

Buku kecil ini merupakan sumbangsih @JJ_bangkit, sebuah lembaga yang dibentuk dalam rangka menggerakan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Semoga buku ini bermanfaat dan dapat menjadi bagian dari pendidikan politik dalam kontestasi pilpres tahun ini, sebuah kontestasi yang akan menentukan merah-hijaunya bangsa Indonesia lima tahun yang akan datang. (al-mihrab)